Daya Saing 60% Produk Indonesia Lemah di ASEAN

Jakarta - Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, Djohermansyah, mengungkapkan, 60 persen produk Indonesia berdaya saing lemah di kawasan ASEAN.

"Hampir 60 persen tingkat daya saing produk Indonesia lemah ke sesama negara ASEAN, dan hanya 15 persen yang bersifat kuat," ungkapnya, di Jakarta, Jumat (10/2).

Adapun daya saing produk Indonesia terhadap China, menurutnya, hanya 7 persen yang mempunyai daya saing kuat, 29 persen berdaya saing sedang, dan 55 persen sisanya berdaya saing lemah.

Dijelaskannya, sesuai data Kementerian Perindustrian, hanya 40 produk Indonesia yang mempunyai daya saing kuat terhadap produk China, yakni produk di sektor kerajinan, kimia dan bahan bangunan, logam dan elektronika, serta sandang dan pangan.

"Sedangkan 225 produk Indonesia lainnya, kategori daya saingnya lemah sekali terhadap produk China," ujarnya.

Untuk meningkatkan persaingan dalam menghadapi era Asia Free Trade Area (AFTA), menurut Djohermansyah, ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan, antara lain, penguatan daya saing melalui penataan lahan dan kawasan industri didukung peraturan daerah tentang RT-RW yang kondusif dan mampu mendukung masuknya investasi.

"Karena itu, penting untuk mereaktualisasi aspek perencanaan dalam konteks kekinian," terangnya.

Langkah selanjutnya, yakni mensinergiskan kebijakan pemerintah daerah dengan kebijakan ekonomi nasional, khususnya master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Selanjutnya, merevitalisasi birokrasi di daerah terkait diterapkannya pembenahan sistem pelayanan publik melalui konsep one stop service atau pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).

Langkah lainnya, "Mengamankan pasar domestik melalui suatu kerja sama antar daerah yang masif dan berkelanjutan," jelasnya. [IS]


Twitter Facebook

Tambah Komentar


Kode Keamanan
Perbaharui