Created on Saturday, 18 February 2012 14:14 Published Date
Moskow - Hari pertama pertemuan Senior Officials Meeting (SOM) APEC, Kamis (16/2), di Moskow, Rusia, delegasi Republik Indonesia langsung "menggebrak" pertemuan tingkat pejabat tinggi itu dengan mengajukan konsep yang disebut “Blue Economy”.
Pertemuan yang berlangsung pada suhu udara minus 31 derajat Celcius itu pun spontan “menghangat”. Perhatian ratusan delegasi APEC segera tersedot pada usulan delegasi RI tersebur. Pembicaraan pun berlangsung hangat seolah menafikan turunnya hujan salju yang tak berhenti.
Dirjen Asia Pasifik & Afrika (Apasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang juga menjadi Ketua Delegasi Indonesia, Yuri O. Thamrin, mengemukakan bahwa konsep Blue Economy itu merupakan sebuah kebutuhan bersama, tidak hanya terkait dengan kepentingan Indonesia saja. “Namun pasti menjadi concern utama dari negara-negara yang memiliki laut yang merupakan mayoritas anggota APEC,” kata Yuri, sebagaimana dilaporkan M. Aji Surya dari KBRI Moskow.
Meski demikian, Yuri mengaku terminologi “Ekonomi Biru” memang bukanlah hal yang sama sekali baru. Istilah “Ekonomi Biru” sempat disebut-sebut dalam berbagai sidang internasional khususnya yang terkait dengan manajemen berkesinambungan dan melestarikan sumber-sumber kelautan. Tahun ini misalnya, “Blue Economy” menjadi tema pada international Expo di Yeosu, Korea Selatan.
Walau demikian, Yuri menyebutkan bahwa terminologi dimaksud telah dibesut sedemikian rupa oleh tim APEC Indonesia sehingga memiliki makna yang lebih komprehensif. Diungkapkan, adalah kewajiban setiap negara untuk melakukan tindakan kongkrit terhadap manajemen kelautan serta sumber-sumbernya, khususnya yang menyangkut dengan keamanan pangan (food security), perubahan iklim (climate change), pemberantasan pencurian ikan, kerjasama bidang riset dan pengembangan, serta peningkatan kesadaran atas isu-isu kelautan.
“Untuk itu Indonesia mengusulkan tiga inisiatif di APEC, yakni penurunkan tingkat pengambilan ikan yang tidak menjamin kesinambungan, penanganan perubahan iklim dan coral reef, serta meningkatkan koneksitas antar-kawasan,” ujar Dirjen Aspasaf.
Sejauh dalam pertemuan hari pertama tersebut, beberapa negara langsung memberikan acungan jempol dan menyampaikan komentarnya yang bernada dukungan. China, Amerika Serikat, Rusia dan Australia termasuk beberapa negara yang secara prinsip mengakui pentingnya konsep yang digulirkan Indonesia. Namun begitu, mereka pada umumnya tetap berharap agar Indonesia lebih mendetailkan konsep tersebut sampai pada tataran yang lebih praktis guna dipelajari lebih lanjut.
Direktur KIK Aspasar Kemlu, Arto Suryodipuro menambahkan bahwa konsep yang diperkenalkan di tengah bekunya kota Moskow itu sudah dipikirkan masak-masak. Bahkan akan diperjuangkan menjadi tema utama APEC pada saat dihelat di Indonesia di tahun depan. “Kita akan terus kembangkan sesuai dengan visi APEC dan kepentingan nasional Indonesia,” ujarnya.
Yang paling penting, menurut beberapa delegasi asing, konsep ini tidak boleh tumpang tindih dengan pembahasan yang ada di forum-forum internasional lainnya. Untuk ini, Dirjen Aspasaf akan memperhatikannya dan bahkan memberikan jaminan bahwa yang akan dipetik justru nilai tambah yang dibutuhkan semua anggota APEC. [NH]