Holcim Indonesia Waspadai Potensi Pasang Surut Ekonomi Tahun 2017

Jakarta, GATRAnews - PT Holcim Indonesia Tbk mengumumkan laporan keuangan hasil kinerja tahun 2016, dimana perusahaan mencatatkan peningkatan penjualan sebesar 2.37% jika dibandingkan periode tahun sebelumnya, sebagai hasil dari integrasi dengan PT Lafarge Cement Indonesia pada awal tahun 2016 lalu. Persaingan pasar yang semakin ketat ditambah lesunya permintaan, telah memberikan tekanan pada harga jual yang berdampak pada penurunan laba kotor sebesar -9.77% atau Rp 1,9 milyar. Selain itu, Perusahaan masih menanggung beban hutang untuk akuisisi PT Lafarge Cement Indonesia dengan nilai transaksi sebesar Rp 2 triliun.

 

Secara umum, pasar tidak mengalami pertumbuhan yang berarti atau jauh dari 5% yang diproyeksikan ASI. Perlambatan realisasi proyek-proyek infrastruktur, sentimen negatif sektor swasta dan belum terlihatnya dampak positif dari hasil Tax Amnesty yang akan membantu akselerasi pembangunan, menjadi faktor-faktor kendala investasi. Hal ini tercermin pada pertumbuhan kredit yang tergolong rendah, baik kredit konsumen maupun investasi. Holcim sendiri mencatatkan peningkatan volume penjualan yang lebih baik dibandingkan tahun 2015 yaitu 10.53% untuk semen dan klinker termasuk ekspor, yang disokong dari penjualan yang sangat baik di bagian Utara Sumatera dan kontribusi unit bisnis beton dan agregat yang juga mengalami peningkatan penjualan masing-masing 1.54% dan 17%.

 

Perusahaan melakukan beberapa inisiatif untuk mencapai efisiensi dan menekan biaya dari sisi produksi, distribusi dan keuangan, serta meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif untuk mengatasi kenaikan biaya per ton semen yang diproduksi. Holcim meluncurkan serangkaian produk dan peningkatan layanan sepanjang tahun 2016 seperti ThruCrete dan ApexCrete, sambil terus meningkatkan kinerja SpeedCrete dengan beragam proyek di DKI Jakarta dan kini mulai merambah Jawa Timur. Namun semua inisiatif ini belum cukup menutupi penurunan harga jual semen yang drastis di pasar.

 

Kelebihan pasokan semen di Indonesia yang mencapai 102 juta ton per tahun yang diwarnai dengan lesunya permintaan pasar, memberikan dampak signifikan pada kinerja perusahaan pada tahun 2016. Kebijakan Pemerintah sangat diharapkan untuk dapat memulihkan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan, serta memberikan stimulan bagi industri bahan bangunan dan konstruksi dalam bentuk realisasi proyek-proyek infrastruktur dan perumahan untuk penyerapan kapasitas yang efektif dalam jangka panjang.

 

Pandangan bisnis di tahun 2017

Pertumbuhan kebutuhan jangka pendek diproyeksikan hanya akan tumbuh tipis dibawah 5% yang diproyeksikan ASI. Namun Holcim tetap optimis pada potensi pertumbuhan di Indonesia yang berada diatas tingkat jangka pendek.

 

Selain kontribusi dari tambahan kapasitas di Lhoknga, Aceh, keberadaan Holcim yang lebih kuat di Sumatera juga terwujud dari mulai beroperasinya terminal semen di Lampung, dan pembangunan terminal baru di Palembang yang diharapkan akan selesai pada tahun 2018. Terminal yang berlokasi di Lampung Selatan ini menjamin pasokan untuk memenuhi kebutuhan pasar setempat dengan kapasitas sebesar satu juta ton per tahun.

 

Presiden Direktur, Gary Schutz, memberikan pendapatnya mengenai situasi sulit yang mempengaruhi kinerja industri pada tahun 2016 termasuk para pemain bisnis semen lainnya, “Kami akan tetap waspada karena kondisi perekonomian yang masih pasang surut dan tak terduga. Kami terus berupaya lebih cekatan untuk mempertahankan komitmen Holcim dalam memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan para pemangku kepentingan. Industri bahan bangunan dan konstruksi masih akan mengalami banyak tekanan karena perlambatan perekonomian yang mempengaruhi daya beli pelanggan. Karena itu, peran Pemerintah sangat diharapkan dalam menciptakan iklim bisnis yang semakin kondusif akan sangat membantu.”

Share this article