Tradisi Tolak Bala Warga Gigir Sapi Purbalingga

Ratusan warga Dusun Gigir Sapi mengikuti ritual mengarak sapi yang telah dipotong di grumbul atas ke grumbul bawah dalam tradisi tolak bala. (gatrafoto/Ridlo Susanto/AK9).

Purbalingga, gatracom - Ratusan warga Dusun Gigir Sapi Kecamatan Kaligondang Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah menggelar ritual tolak bala winduan untuk keselamatan masyarakat kampungnya, Rabu sore (4/10). Tradisi ini digelar dengan upacara pemotongan sapi dan mengaraknya ke lokasi selamatan.




Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum Desa Arenan, Hamidi menceritakan sejarah ritual ini. Pada pada masa lalu, Grumbul Gigir Sapi, atau punggung sapi itu merupakan tempat hewan-hewan raja kaya yang dibuang atau dipendam. Namun, ketika sudah menjadi perkampungan, kerap terjadi kematian beruntun warga dengan sebab-sebab tak wajar.

“Setelah jadi permukiman, sudah menjadi nama desa, waktu itu, banyak penduduk yang meninggal tiba-tiba. Supaya musibah ini berhenti, dipotongkan sapi, setiap satu windu sekali atau delapan tahun sekali,” katanya. "Ajaibnya, setelah selamatan tolak bala itu, tak ada lagi warga yang meninggal tak wajar," tuturnya

Lebih lanjut Hamidi menejelaskan, ritual tersebut dimulai dengan memotong sapi di Grumbul Geger Sapi. Kemudian, sapi yang sudah dalam kondisi mati ini diarak sejauh 500 meter ke arah masjid di bagian bawah perkampungan. Posisi sapi saat diarak diletakkan sedemikian rupa sehingga tampak seperti sapi yang sideku (berbaring dengan posisi punggung di atas). Di depan masjid, sapi lantas dibersihkan.

Ritual kemudian dilanjutkan keesokan harinya, bertepatan dengan Kamis malam Jumat dengan secara selamatan atau doa bersama. Lantas, pada Jumatnya, tulang sapi dipendam sebagai perlambang memendam bagian sapi sebagai upacara sedekah bumi.





Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Share this article

Tagged under