Aksi Budaya Memprotes Kerusakan Hutan Gunung Slamet

Aksi teatrikal dan sejumlah ritual budaya masyarakat kaki gunung Slamet (Gatra/Ridlo Susanto/yus4)

Banyumas, gatracom – Masyarakat sekitar kawasan lereng selatan Gunung Slamet bekerjasama dengan Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur Unit Pengelola Wisata Curug Cipendok Kabupaten Banyumas menggelar pertunjukan teatrikal bertajuk ‘Wuru Banyu Butek’. Aksi teatrikal dan sejumlah ritual budaya itu dilakukan untuk memprotes, sekaligus memperingatkan bahwa alam di lereng Gunung Slamet telah terganggu.



Dalam pentas itu, digambarkan, para petani yang mengejawantah ke dalam diri para tokoh pewayangan Banyumas, Petruk, Gareng, dan Bawor kebingungan lantaran alam tiba-tiba tak bersahabat. Di ladang, tanaman mereka layu. Ternak mendadak mati. Belakangan diketahui, sumber air untuk menyiram dan memberi minum ternak mereka telah tercemar.

Namun, mereka masih saja tak mengerti, kenapa air yang biasanya jernih itu menjadi keruh. Sebab, mata air itu berada jauh di ketinggian puncak yang tak terjangkau kemampuan mereka. Lantas, mereka mengadu kepada ayah mereka yang bijaksana, Semar. Mereka meminta agar dengan kesaktian Semar, diajak untuk menemui Bathara Dewa.

Digambarkan dalam teaterikal itu, Bathara Dewa menerima empat orang yang hadir di hadapannya. Tetapi, Bathara Dewa tak menjawab apapun. Sebab, segala sesuatunya masih kabur. Bathara hanya meminta agar punakawan bersabar dan memulai memperbaiki alam yang mulai rusak itu.

Atas petunjuk Semar, lantas punakawan menggelar prosesi ‘Caos Bumi Ganda Arum’. Yakni, berbakti kepada alam dengan persembahan yang disertai dengan bunga tujuh rupa dan lambang-lambang kesejahteraan kehidupan. Upacara ini menggambarkan bahwa manusia mesti bersahabat dan berserah diri kepada alam.

“Belum. Bathara belum bisa menjawab. Ini masih di awang-awang. Adalah pertanda bahwa kerusakan itu disebabkan oleh manusia itu sendiri,” kata sutradara teater, Titut Edi Purwanto, ditemui GATRA usai pagelaran teatrikal ‘Wuru Banyu Buthek’, Sabtu (7/10).

Titut menjelaskan, pagelaran teatrikal itu menggambarkan bahwa masyarakat kebingungan menghadapi alam yang tiba-tiba berubah. Selama ratusan, bahkan ribuan tahun, masyarakat tak pernah mendapati sungai-sungai yang mengalir dari Gunung Slamet keruh. Sungai yang bermata air dari Gunung Slamet selalu bening dan menjadi sumber penghidupan.

“Kalau dalam kehidupan nyata, banyak masyarakat yang tidak tahu apa penyebab sungai menjadi keruh,” ujarnya.

Titut menerangkan, simbol Bathara Guru yang tak menjawab pasti itu bisa saja diartikan sebagai sikap pemerintah yang posisinya tak jelas dalam krisis yang dialami masyarakat akibat keruhnya aliran-aliran sungai dan kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet. Ia melihat, pemerintah tak pernah sekali pun menjelaskan kepada masyarakat yang terdampak.

“Belum. Saya belum melihat. Nyatanya banyak yang tidak tahu,” jelas dia.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Banyumas, Deskart Sotyo Djatmiko mengakui, Curug Cipendok sedang sakit. Tetapi, ia meminta agar hal itu diartikan sebagai suntikan kekuatan untuk memperbaiki diri di masa depan. Ia pun mengapresiasi kegiatan yang menurut dia, dilakukan dengan positif.

Diketahui, sejumlah aliran sungai di lereng Selatan Gunung Slamet, keruh akibat proyek eksplorasi dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden. Material sisa pengeprasan bukit di bagian hulu hanyut dan menyebabkan sungai-sungai keruh. Keruhnya air itu menyebabkan dampak yang luas di tengah masyarakat, mulai ekonomi, berupa peternakan, perikanan dan pertanian, dan home industri. Tetapi, masih banyak masyarakat yang tak paham apa yang terjadi di dalam hutan.



Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Share this article

Tagged under