Padewakang Kapal Rempah Pertama Nusantara

Bahri (memegang replika Padewakang) dan Haji Muhammad Usman (GATRA/Rohmat Haryadi)

Liege, GATRAcom -- Lengan kekar Haji Muhammad Usman, 52 tahun, tak lelah mengayun palu kayu, memasang pasak demi pasak menyambung panel-panel papan kayu, sepekan terakhir. Dia sibuk menancapkan ratusan pasak kayu ulin untuk membangun lambung perahu jenis Padewakang, khas Sulawesi Selatan. Kegiatan itu dilakukan di tempat yang berjarak 12 ribu kilometer dari desanya di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tepatnya di museum La Boverie, Liege, Belgia.


Perahu sepanjang 13 meter, lebar lambung 3 meter, dan tinggi lambung 2 meter lebih, memang disiapkan menjadi ikon pameran bertema Archipel (kepulauan) di ajang pagelaran seni dan budaya paling bergengsi di Eropa, Europalia Arts Festival. Pada festival 2 (dua) tahunan yang dimulai 1969 itu Indonesia tampil sebagai Guest Country (negara tamu kehormatan). Indonesia negara ke empat Asia setelah Jepang, China, dan India, sebagai negara tamu.

Pameran Archipel menampilkan sejarah maritim Indonesia sebagai negara kepulauan, dengan menampilkan struktur dinamika atau mobilitas antar pulau, suku, dan elemen-elemen kebudayaan dalam konteks negara kepulauan. Pameran Archipel berlangsung dari 25 Oktober 2017 – 21 Januari 2018. Puncak dari gelaran pameran bahari menampilkan perahu Pagewakang yang berbobot 3,8 ton.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, mengatakan bahwa tampilnya perahu Pagewakang cukup penting. Karena dia merupakan kapal rempah atau dagang pertama Nusantara. Untuk kesuksesan pameran Hilmar rutin memantau perkembangan perakitan Padewakang di Liege –kota yang berjarak 80 kilometer dari Brusells—atau sama dengan rentang antara Jakarta-Sukabumi, yang bisa ditempuh sejam perjalanan dengan mobil.

Untuk memastikan perakitan selesai sebelum pembukaan Selasa ini, Usman dengan tiga rekannya Bahri, H Muhammad Ali, dan Budi ngebut merangkai 300-an puzzle Padewakang. “Sepekan selesai,” katanya optimistis kepada GATRA, Kamis dua pekan lalu. Ke empat perakit itu masih satu klan, yaitu keluarga H Jafar, salah satu dari dua perajin kapal yang tersisa di Tana Beru, Bulukumba. Ali adalah kakak Usman, Bahri adiknya, dan Budi keponakan (anak Ali).

Menurut Usman, pekerjaan mudah. Kalau membuat kapal Padewakang dari nol, butuh waktu sekitar dua bulan. Janji Usman untuk merampungkan dalam sepekan terpenuhi, karena sampai Rabu pekan lalu, penyambungan papan untuk lambung kapal sudah rampung. Semua sambungan papan pada Kapal Padewakang hanya menggunakan pasak kayu. Tidak ada unsur logam yang ditanam dalam tubuh Padewakang. Jadi membangun tubuh Padewakang seperti seni memasang pasak. Karena antara ratusan pasak yang tertanam tidak boleh saling bersinggungan, bahkan saling potong.

Perahu Padewakang dibuat dengan teknik menyusun papan, teknik yang sama untuk membuat perahu jenis baqgo, lete, palari, dan pinisi. Di tengah dipasang balok lunas (tulang punggung) lalu di kedua sisinya ditambah papan yang disebut “papang tobo”, kelipatan ganjil dimulai dari tujuh, sembilan, sebelas, dan seterusnya. Makin besar perahu makin banyak “papang-nya”. Papan-papan itu biasanya dari kayu bitti ((Vitex cofasus), kayu khas Sulawesi yang tidak boleh ditebang di siang hari.

Selain lambung, lunas dan rangka lambung perahu juga dari kayu bitti. Kayu Bitti digunakan karena bentuknya cenderung bengkok atau melengkung. “Itu asli bengkok, bukan karena dibentuk,” kata Usman tentang ujung kedua lunas kapal Padewakang yang tengah digarapnya. Untuk kayu bitti yang digunakan untuk lunas harganya cukup mahal. “Bisa tiga jutaan sebatang,” katanya.

Setelah lambung kapal selesai maka selanjutnya memasang dua layar segi empat. Jenis layar ini khas Austronesia yang oleh orang Mandar disebut “sombal tanjaq”. Bentuk ini tergambar jelas pada relief Candi Borobudur yang sering disalahpahami sebagai Pinisi. Disebut “tanjaq” karena jika tertiup angin, bagian bawah layar (peloang) berbentuk seperti orang “mattanjaq” atau menendang.

Untuk memasang layarnya, orang langsung memanjat ke tiang layar seperti nampak di relief Borobudur yang berusia 1000 tahun lebih. Layar padewakang terbuat dari serat daun lanu (bahasa Mandar untuk gebang) muda. Daun dikeringkan, diurai menjadi helai-helai lembaran pita selebar 2 milimeter. Helai kecil itu diuntai sambung-menyambung sampai ratusan meter. Pita-pita inilah yang ditenun menjadi “kain” layar atau lebih mirip tikar.

Untuk memroses daun gebang menjadi bahan layar mulai mengeringkan hingga mengurainya menjadi “benang” membutuhkan waktu lebih dari sepekan. Waktu menenunnya sekitar empat hari, menjadi lembaran-lembaran persegi selebar 70 cm yang disebut karoroq. Lembar-lembaran itu disambung dengan menggunakan “pappas” (juga dari daun gebang). Tepian layar daun gebang “diobras” menggunakan “randang bulu” atau tali ijuk.

Pengerjaan layar Padewakang yang dipamerkan di Liege dilakukan di Kampung Lanu di Campalagiang, Mandar. Hasilnya, dua helai layar karoroq berukuran 7 x 5 meter untuk haluan (depan kapal), dan 5 x 3 meter untuk buritan (bokong). Keduanya dipasang dengan tiang layar dari bambu petung. Umur layar karoroq ini biasanya 2–3 bulan, karena itu untuk pelayaran jarak jauh pelaut membawa banyak cadangan. Saat ini karoroq jarang dibuat, lembaran karoroq diproduksi kalau ada yang pesan. Untuk kegiatan pameran di Belgia ini dibutuhkan 15 lembar karoroq. Satu lembar harganya Rp 400.000.

Perahu Padewakang yang dipamerkan di Belgia benar-benar klasik karena menggunakan layar karoroq, dan pembuatannya diawali dengan upacara adat yang dipimpin Pandrita Lopi (ahli perahu), Haji Jafar, seorang yang dipercaya memiliki kemampuan supranatural. Pandrita Lopi yang akan memprediksi masa depan perahu, seperti selamat, tenggelam, atau hilang, termasuk mengetahui usia perahu akan bertahan berapa lama. “Untuk perahu yang dibikin sekarang prediksinya jatuh untung,” kata Usman tersenyum.

Padewakang yang dipilih untuk dipamerkan karena berbagai pertimbangan. Menurut Horst H. Liebner, seorang peneliti kebudayaan maritim Indonesia asal Jerman, pihaknya memilih Pagewakang setelah rapat dua kali rapat dengan pihak Museum Nasional sebagai kurator yang memilih benda koleksi yang akan dipamerkan. Menurut Liebner, Padewakang tidak terlalu besar, sehingga bisa dipamerkan di ruang museum. “Dan Padewakang adalah kapal rempah pertama yang belum terpengaruh kapal Eropa,” katanya kepada GATRA.

Keberadaannya Padewakang telah ada sejak 1000 tahun lalu yang dibuktikan dengan relief Borobudur. “Bahkan pada tahun 50 Masehi, ada yang melaporkan bahwa bajak laut di Teluk Persia menggunakan perahu yang berciri seperti Padewakang,” katanya. Dari temuan kapal tenggelam di beberapa tempat di Indonesia, mengarah pada jenis Padewakang. “Perahu padewakang melayari seluruh Indonesia, antara Irian Jaya dan Semenanjung Malaya. Bahkan berlayar  sampai ke Australia untuk mencari tripang,” katanya.

Pertimbangan teknis bisa menampilkan dalam ukuran aslinya maka Padewakang lebih memungkinkan dipamerkan daripada Pinisi. Ukuran Pinisi lebih besar sehingga lebih repot dan lama untuk memasang dan membongkarnya kembali. Minimal panjang Pinisi 15 meter, tinggi layar juga begitu. “Ukuran yang bakal tidak akan muat untuk museum yang tinggi langit-langitnya hanya tujuh meter,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin ahli kapal rekan Horst.

Secara benda, Padewakang menurut Ridwan Alimuddin telah punah. Keluarga Jafar sendiri terakhir membuat perahu seharga Rp 100 juta lebih itu pada 1987. Saat itu keperluannya untuk pameran di Darwin, Australia. Pameran di La Boverie, Liege juga menampilkan video seni membuat perahu Pagewakang.

Nah, terkait seni membangun perahu ini Indonesia tengah mengajukan Pinisi Art of Boatbuilding ke UNESCO untuk diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) 2017.  “Nominasi Pinisi sudah masuk komite dan sekarang tengah dievaluasi. Dokumen hasilnya akan keluar tanggal 6 November. Hasilnya akan diumumkan tanggal 4-9 Desember di Jeju, Korea Selatan,” kata TA Fauzi Soelaiman, Duta Besar RI untuk UNESCO. Menurut Fauzi, jika evaluator Pinisi mengetahui pameran di Liege, maka akan membawa manfaat.

Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan menegaskan bahwa pemeran di Liege akan menegaskan betapa kapal dibuat dengan tingkat pengetahuan yang luar biasa. “Untuk nominasi ke UNESCO pembuatan perahu di Liege bisa meperlihatkan langsung bahwa perahu dibuat dengan tingkat pengetahuan yang luar biasa tentang keseimbangan, keamanan, kekuatan kapal, dan pengenalan bahan yang luar biasa,” katanya. Karena itu nominasi ke UNESCO fokusnya pada pengetahuan tradisional tersebut sebagai Intangible Cultural Heritage.

Untuk bisa memberikan informasi kepada UNESCO maka perlu publikasi luar biasa tentang kegiatan di Liege. “Harus ada publikasi yang massif,” kata Ridwan Alimuddin. Juga masyarakat harus tahu bahwa yang diapresiasi adalah ilmu pengetahuan dalam pembuatan perahu. Diawali perahu bersahaja berlanjut ke Padewakang, hingga Pinisi, belakangan Perahu layar Motor. “Itu semua satu rangkaian warisan ilmu pengetahuan pembuatan perahu. Makanya kategorinya tak bendawi. Kalau bendawi, Padewakang dan Pinisi sejatinya telah punah,” katanya.


Rohmat Haryadi (Liege/Belgia)

Save

Save

Share this article