Tangkal Radikalisme dengan Mengembalikan Khittah Pendidikan

Jakarta, Gatra.com - Maraknya hasil survey yang menyebutkan bahwa ada potensi radikalisme dalam institusi pendidikan terutama pelajar dan mahasiswa membuat cemas sebagian besar kalangan masyarakat. Fungsionaris Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP FKDT) Suwendi mengatakan, para siswa dan mahasiswa merupakan miniatur pemimpin masa depan.

Jika radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa itu semakin menguat, lanjut Suwendi, maka tentu ini sangat mengancam terhadap masa depan bangsa. “Ini tidak bisa dibiarkan dengan begitu saja. Perlu ada gerakan dan dorongan bersama untuk mengembalikan khittah pendidikan,” tulisnya kepada Gatra, Senin (13/11).

Suwendi menjelaskan, khittah pendidikan yang dimaksud adalah memfungsikan instrumen pendidikan untuk meneguhkan jati diri bangsa. Ia menambahkan, lembaga pendidikan seharusnya mampu mempertahankan ideologi negara dan karakter bangsa demi kelangsungan masa depan kita semua. “Apalagi untuk jenjang perguruan tinggi, ia tidak hanya mengemban misi akademis semata, tetapi juga misi revitalisasi misi kebangsaan,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan gerakan yang masif dari segala lapisan masyarakat. “Gerakan itu tidak hanya di kalangan pemerintah, tetapi juga lingkungan keluarga, pengelola lembaga pendidikan, dan masyarakat,” ungkapnya.

Alumni pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon ini juga mengungkapkan, bukan berarti pemerintah tutup mata dalam mengangani radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa. Hanya saja, sambung Suwendi, di sisi lain, keterbatasan guru dan dosen untuk pengampu mata pelajaran atau mata kuliah Pendidikan Agama cenderung belum mendapat perhatian.

“Secara akumulatif, saat ini kita kekurangan guru Pendidikan Agama setidaknya 22.000. Belum lagi, kekurangan untuk dosen Pendidikan Agama pada perguruan tinggi umum. Kekurangan guru dan dosen Pendidikan Agama ini berkontribusi terhadap meningkatkan radikalisme di kalangan siswa sekolah,” papar Suwendi..   Ia menilai, mata pelajaran Pendidikan Agama, sering kali diajarkan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi agama dan tidak berlatar belakang pendidikan agama. “Tentu, ini sangat fatal akibatnya,” pungkasnya.

Suwendi menganggap, penanganan untuk menjawab kekurangan guru dan dosen, belum terlihat secara nyata. “Memang, rekrutmen itu berimplikasi pada penambahan anggaran yang lebih memadai agar guru juga sejahtera,” imbuhnya.


Reporter: VRU
Editor: Nur Hidayat

Share this article