Sultan Tidore: Rizal Ramli Harusnya di Pemerintahan

Obrolan Ringan Seputar Kebangsaan (Foto: Istimewa)

Tidore, Gatracom - Sultan Tidore H. Husai Sjah berdiskusi dengan Mantan Menko Maritim Dr. Rizal Ramli di beranda Kedaton Tidore, Maluku Utara, Ahad (3/12). Kedua tokoh itu membicarakan seputar kebangsaan Indoneia.

 
Diskusi ringan hampir dua jam itu diselingi canda tawa. Rizal mengawali dengan negeri tercinta Indonesia yang seharusnya bisa lebih maju dari negara Asia lain, karena negeri yang kaya dan sejak Abad ke-16 ini sudah menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa.

Tokoh pergerakan Rizal Ramli menyebut mengapa Indonesia tertinggal, padahal 40 tahun lalu ketika Cina, Korea, Malaysia dan Singapura sama-sama baru merdeka. "Cina, lebih miskin dari kita, tetapi kini sudah nomer dua di dunia. Karena pemimpin mereka tidak mau didikte oleh kepentingan Asing seperti IMF dan Bank Dunia" kata Rizal Ramli.

Sultan Tidore ke-37 yang pernah menguasai sepanjang Maluku, Papua hingga Vanuatu ini sependapat dengam ekonom senior Indonesia ini. Beliau pun bercerita leluhurnya dari Kesultanan Tidore sangat menyadari kepentingan asing ingin menguasai kepulauan kaya rempah ini.

"Di era Sultan Mansyur, Spanyol datang tapi hanya boleh berdagang saja, tidak boleh berkuasa. Sultan sangat tegas menyadari agenda terselubung mereka," ujar Sultan Husain Sjah.

Akibat perlawanan Kesultanan Tidore, Tuan Guru dibuang Belanda ke Ambon. Tetapi karena terus berjuang, dibuang ke Batavia Jakarta.  Karena di Jakarta juga masih mengorbankan perlawanan kepada Belanda dibuang ke Cape Town Afrika Selatan, dan merasa tak cukup Belanda mengasingkan selama tujuh tahun ke penjara Robin Island.

"Robin Island tempat penjara Nelson Mandela. Nelson Mandela terinspirasi perjuangan Tuan Guru, hingga menjadikan Pahlawan  Nasional," katanya.

Menurut Sultan kehadiran Menteri Perekonomian di era Presiden Gus Dur ke Tidore adalah berkah. "Sudah lama saya mengagumi pemikiran ekonomi Dr. Rizal Ramli. Kalau benar Indonesia ingin maju, seharusnya Dr. Rizal Ramli ada di pemerintahan," ujarnya.

Sultan mengakui dirinya sebagai PNS pernah mendapat berkah kenaikan dua kali di era Pemerintahan Gus Dur. "Memang karena pemerintahan Gus Dur kontroversial banyak kemajuan yang jadi tertutupi," kata Rizal.

Mantan tokoh mahasiswa ITB ini menceritakan, Pemerintahan Gus Dur yang pendek mampu mendongkrak kenaikan pertumbuhan ekonomi hingga enam persen. Dari minus tiga persen naik hingga surplus tiga persen. Kedua menaikan gaji PNS, tentara dan polisi, yang dirasakan Sultan. Prestasi ketiga Gus Dur, adalah warisan pluralisme, ujar Bang RR sapaan akrab Rizal Ramli.

Rizal Ramli dan Sultan Husain Sjah sepakat, problem kepemimpinan yang amanah untuk rakyat menjadi barang langka dalam demokrasi langsung seperti sekarang ini. "Di Maluku Utara banyak cerdik pandai dan orang alim. Jangan sampai mereka yang jahat berkuasa semua," ujar Sultan.

Terkait kesenjangan kawasan Timur Dr. Rizal.Ramli punya resep, agar komponen Maluku bersatu memperjuangkan kenaikan Dana Alokasi Khusus. Pertimbangan ketertinggalan dan luas lautan, kekayaan ikan dan mineral di dalamnya, harus masuk perhitungan.

"Berjuang dengan strategi ini penting agar pembangunan  tidak harus melulu mengandalkan utang," ujar pendiri lembaga Econit ini.


Editor: Arief Prasetyo

Share this article