Pentas Penguak Chairil dan Empat Perempuan Istimewanya

Pentas teater bertajuk Perempuan Perempuan Chairil di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (GATRA/Rifki M. Irsyad/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Ada banyak nama perempuan dalam hidup dan sajak Chairil Anwar. Perempuan yang membawa Chairil pada satu kesadaran bahwa cinta adalah “bahaya yang lekas jadi pudar”.

Adalah Sumirat (diperankan oleh Tara Basro) -seorang wanita terdidik dan lincah, mengagumi keluasan pandangan Chairil, dan menerima cinta Chairil- yang menegaskan itu dalam pementasan lakon “Perempuan-Perempuan Chairil” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (11/11).

“Kau hanyalah lelaki yang menganggap cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar,” hardik Sumirat kepada Chairil (diperankan oleh Reza Rahardian). Cinta mereka berdua pun akhirnya kandas.

Sumirat adalah wanita ketiga yang dimunculkan dalam lakon ini. Sebelumnya, ada Ida Nasution (diperankan oleh Marsha Timoty), seorang mahasiswi, penulis hebat, pemikir kritis yang bisa menyaingi intelektualisme Chairil.

Ida adalah seorang wanita yang, saking sulitnya didekati, sampai membuat Chairil berkata, “Aku mau bebas dari segala merdeka, juga dari Ida.”

Lalu, ada Sri Ajati (diperankan oleh Chelsea Islan), seorang gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan. Hubungan Chairil dengan Sri juga kandas, Sri lebih memilih untuk menikah dengan orang lain.

Lepas dari Sri, Chairil pun bertemu dengan Sumirat. Namun kondisi malah berbalik. Meski cintanya berbalas, Chairil tak pernah mau membawanya ke arah yang lebih serius.

Akhirnya Chairil sadar bahwa dia adalah lelaki biasa. Wanita yang menyadarkannya adalah Hapsah (diperankan oleh Sita Nursanti), istrinya.

Perempuan yang memberi anak pada Chairil ini begitu berani mengambil resiko mencintai Chairil. Ia tahu bahwa lelaki ini akan berubah, bisa menghidupi keluarganya dan menjadi lelaki yang lebih bertanggung jawab pada keluarga.

Pementasan lakon “Perempuan-perempuan Chairil” terinspirasi dari buku berjudul “Chairil” karya Hasan Aspahani. Lakon ini tersaji dalam empat babak, yang menggambarkan hubungan Chairil dengan empat perempuan yakni Ida, Sri, Mirat dan Hapsah. Empat perempuan istimewa yang menggambarkan sosok perempuan pada jaman itu.

Dari buku itu lah, Happy Salma dan Agus Noor selaku sutradara menemukan bentuk dan fokus pemanggungan Chairil. “Dengan pendekatan biografi puitik ini, penulisan lakon menjadi memiliki fleksibilitas tafsir,” kata Agus Noor (11/11) di Taman Ismail Marzuki.

Biografi Chairil yang berhubungan dengan sejumlah sosok perempuan yang hadir dalam puisinya, menjadi gerbang untuk memasuki dunia Chairil Anwar dengan kegelisahan hidup dan pemikiran, serta pertaruhan yang dilakukan. Perempuan berlintasan dalam hidup Chairil Anwar. Chairil tumbuh sebagai lelaki yang dilimpahi cinta oleh orang-orang dekat. Ia adalah sosok yang sangat ekspresif dalam urusan cinta.

“Pergulatan batin dan kegelisahan Chairil juga tokoh perempuannya bisa dieksplorasi menjadi sebuah drama. Karena bagaimanapun ini adalah pertunjukan teater yang mestilah memiliki bangunan dramatika atau dramaturgi yang memikat,” terang Agus Noor.


Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Editor : Bernadetta Febriana

 

 

 

 

Share this article