Butet Kartaredjasa Kritisi Persoalan Bangsa Lewat Keramik

Pameran Tunggal Seni Visual Butet Kartaredjasa bertema “GORO-GORO BHINNEKA KERAMIK” di Galeri Nasional Indonesia, Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, rabu (29/11). (GATRA/Adi Wijaya/AK9)

Jakarta, Gatra.com – Multivalensi kontemplatif. Itulah kesan yang didapat ketika menyimak pameran tunggal seni visual penuh warna “Goro-Goro Bhinneka Keramik”. Pameran tunggal perdana Butet Kartaredjasa yang dihelat di Gedung A Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat mulai 30 November hingga 12 Desember 2017 mendatang ini menyajikan 138 karya seni rupa berbahan keramik. Visualitas yang dituangkan dalam keramik tersebut sangat bervariasi, mulai dari lukisan di atas keramik, hingga lempengan keramik yang disusun menjadi kolase.

 

Butet selama ini dikenal sebagai aktor di dunia teater, namun ia juga mengenyam pendidikan di bidang seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia dan Institut Seni Indonesia. Keramik dipilih sebagai medium berkarya karena memiliki sejarah tersendiri bagi Butet. Memorinya akan eksperimen karya pada keramik bertahun-tahun yang lalu bangkit kembali setelah menjalani terapi otak pada 2015.

“Saya itu waktu kuliah, media eksperimentasi saya dengan keramik. Timbul keinginan untuk melukis lagi di keramik. Situasi Indonesia mutakhir inilah yang akhirnya menyertai kehadiran visual itu. Keprihatinan saya pada ancaman disintegrasi bangsa ini, pada konflik horizontal antar masyarakat, ambisi-ambisi kekuasaan,” papar Butet kepada Gatra.com (29/11) usai konferensi pers di Galeri Nasional Indonesia.

Keprihatinan Butet akan kekacauan dan fenomena-fenomena yang terjadi saat ini, dituangkannya dalam visualitas yang bersifat metafor. Kontemplasi personal Butet terhadap tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Jokowi, Buddha, gambar gunung dalam nuansa montase, tokoh-tokoh Punakawan dalam cerita pewayangan Jawa, hingga patung babi hutan atau celeng, yang merupakan kebhinekaan problematika di Indonesia sekarang.

Bagi Butet, pameran tunggal perdananya ini menjadi salah satu bentuk kegembiraan dalam menuangkan gagasan serta kegelisahan dalam benaknya, sekaligus wujud perenungan. Kebhinekaan sebagai modal sosial kini teredam oleh konflik dan kekuasaan.

“Ini satu media yang unik, yang baru. Harapannya bisa menggoda orang untuk tahu lebih jauh, dan mengunjungi pameran ini. Pencapaian eksplorasi saya, merenung bersamalah akan keprihatinan bangsa ini,” tutupnya.


Reporter : DFS

Editor : Bernadetta Febriana

 

 

Share this article