Nyai Dasima di Panggung Teater

Teater "Nyai Dasima: Love to Death". (Dok. Oryza Lokabasa/AK9)

Jakarta, Gatra.com - Lembaga Budaya dan Bahasa Indonesia, Oryza Lokabasa kembali menghadirkan pertunjukan teater dari komunitas teater Oryza, “Nyai Dasima: Love to Death”. Acara ini akan diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Mall, Jakata Pusat, pada Selasa, 5 Desember 2017 yang dimulai pukul 18.00 WIB.

 

Kali ini Oryza akan mengangkat cerita asli dari abad 19 kota Jakarta dan memodifikasinya ke dalam situasi, kondisi serta lingkungan sosial-politik masa kini. Kisah ini berputar mengenai konflik dan intrik yang menyelimuti cinta segitiga antara seorang gadis muda bernama Dasima dan seorang pemuda sederhana bernama Samiun dengan Jenderal Edward, suami Dasima yang merupakan tuan tanah sekaligus jenderal militer yang kaya.

 

“Kisah ini sudah lama memukau diri saya. Sudah sejak lama saya ingin mengangkat kisah Nyai Dasima ke dalam pementasan budaya dan seni peran,” ujar Judianti Isakayoga selaku koordinator dan pimpinan produksi dari komunitas teater Oryza.

 

Drama ini akan dibagi menjadi 15 babak, lalu dipadukan dengan komedi jenaka yang penuh humor, anekdot serta pantun khas Sunda, sembari diselingi dengan penampilan seni tari, nyanyian lagu, dan musik instrumen. Semua elemen dari era modern dan jaman dahulu dikombinasikan menjadi sebuah suguhan yang penuh nostalgia dan cinta dengan Jakarta dan budaya Indonesia.

 

Acep Kuseini, penulis naskah yang juga salah satu aktor dari drama ini mengatakan, “Tidak ada lagi yang membuat saya semakin bersemangat mengerjakan proyek ini, disamping kisah Nyai Dasima yang penuh dengan misteri”.  Asep lantas merujuk pada akhir hidup Dasima yang tragis, dimana takdirnya hampir sama dengan apa yang terjadi dengan para wanita saat ini.

 

Judianti berharap bagi para penonton, Nyai Dasima mempunyai nilai lebih dari sekedar subjek cerita. Dasima adalah simbol kekuatan sosial dan politik bagi para wanita di semua era.

 

Sebelumnya komunitas teater Oryza mengadaptasi karya dari William Shakespeare, seorang dramawan asal Inggris, dan mengubahnya menjadi tontonan rakyat bernuansa Betawi.


 

Editor : Flora Barus

 

Share this article