Improvisasi demi Teater Nyai Dasima

Kelompok Oryza Lokabasa matangkan pertunjukan teater Nyai Dasima (Dok.Oryza Lokabasa/yus4)

 Jakarta, Gatra.com - Lembaga Budaya dan Bahasa Indonesia, Oryza Lokabasa matangkan pertunjukan teater “Nyai Dasima : Love to Death”. Menjelang hari pertunjukan, komunitas Teater Oryza, hingga saat ini, terus bekerja keras tanpa lelah demi menyukseskan drama teater yang akan dipentaskan pada hari ini, Selasa, 5 Desember pada pukul 18.00 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat.

 

 

 

“Meskipun banyak kendala dan halangan, namun semuanya nampak berjalan dengan lancar. Hal yang terpenting adalah percaya dengan diri sendiri. Nanti semuanya akan terasa lebih ringan dan terasa happy,” kata penulis naskah Acep Kuseini.

 

 

 

Seperti ketika dia tengah berlatih bersama para pemain lainnya, bisa terlihat bahwa sikap yang rileks dan tenang dalam mendalami peran mereka masing-masing lebih bisa membangun situasi yang lebih positif dan juga produktif.

 

 

 

Meski para pemain menunjukkan sikap positif, tetap saja terjadi hal-hal tak terduga yang kerap menggangu dan menghalangi persiapan pementasan teater. Bahkan mengingat banyaknya tantangan yang dialami oleh seluruh tim produksi dan para pemain selama persiapan, mendorong Judianti Isakayoga, sutradara serta pimpinan produksi teater “Nyai Dasima”, untuk mencoba berbagai eksperimen demi mendapatkan hasil yang tidak hanya seru dan menarik namun juga inovatif.

 

 

 

Mulai dari koordinasi gabungan instrumen tradisional dan modern untuk menciptakan berbagai aransemen musik, hingga skenario yang hampir sepenuhnya menggunakan improvisasi serta spontanitas untuk membangun suasana, alur dan dialog cerita.

 

 

 

“Tujuan dari pementasan teater ini, tidak hanya untuk memperkenalkan kembali kisah lama kepada generasi muda, namun juga ingin memberikan suguhan menyegarkan yang diharapkan mampu menjadi oase untuk masyarakat di tengah gersangnya ibukota” ujar Judianti.

 

 

 

Di tempat terpisah, Nunik Anurningsih selaku pimpinan dan manajer produksi teater “Nyai Dasima: Love to Death”, juga mengungkapkan bahwa banyak konsep yang sudah tertulis di saat tahap pra-produksi, terpaksa harus dikurangi porsinya atau bahkan dihilangkan dan diganti dengan konsep yang berbeda.

 

 

 

“Semuanya harus berubah karena ada beberapa hal yang tidak mungkin kita implementasikan saat pementasan nanti” ujar Nunik. “Namun justru hal ini membuat teater kita memiliki gaya yang lain dan berbeda” lanjutnya lagi.

 

 

 

Komunitas Teater Oryza kali ini tidak hanya akan menargetkan pada kepuasan penonton semata sebagai barometer keberhasilan pertunjukan mereka, namun juga bagaimana pesan-pesan penting mengenai budaya asli bangsa serta identitas sosial indonesia, bisa menjadi kekuatan utama dan juga renungan bagi siapapun yang menontonnya. “Semoga pementasan teater dari kami ini, bisa menjadi tontonan alternatif yang memuaskan semuanya,” tutup Judianti.


 

 

 

 

Editor : Flora L.Y. Barus

 

 

 

 

 

Share this article