Dua Kutub, Pesan Cinta Masdibyo dan Gigih Wiyono

Perupa Gigi Wiyono menerangkan di depan karya instalasi patungnya berjudul "Tumbuh" (Antara/Dodo Karundeng/yus4)

Jakarta, Gatra.com – Dua poros yang saling melengkapi gaya tariknya dalam ekspresi karya, itulah yang dibawakan oleh Masdibyo, perupa asal Tuban, Jawa Timur, beserta rekannya Gigih Wiyono asal Sukoharjo, Jawa Tengah.

Secara genetika karya di dalam proses penciptaannya kedua perupa ini memiliki disiplin yang berbeda. Tradisi dan lingkungan masing-masing kedua seniman memengaruhi di dalam proses penciptaan dan hasil karya mereka.

Masdibyo sebagai perupa yang menggawangi kutub utara (Pantura, Tuban, dan pesisir Jawa Timur) yang cukup lama menggarap persoalan rakyat tentang kearifan lokal, cinta kasih, dan kelembutan.

Sementara Gigih Wiyono yang tumbuh berkembang di wilayah pedesaan dan pertanian sebagai penjaga kearifan lokal Kutub Selatan (Sukoharjo, Solo), menyajikan mitos simbol padi dan kesuburan yang menjadi tumpuan kaum agraris.

Mitos-mitos kesuburan seperti: huruf-huruf Jawa dan motif-motif tradisi yang dihadirkan secara kontemporer.

Dalam Pameran Dua Kutub, Masdibyo menyajikan 30 lukisan bertarikh 2007-2017. Sedangkan Gigih Wiyono menyajikan 23 lukisan dan 9 patung bertarikh 2013-2017. Keunikan karya mereka mengusung tema kekuatan cinta. Tentang manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.

Tentang mikrokosmos dan makrokosmos, yin-yang, lingga yoni, vertikal-horizontal, positif negatif, kekuatan dan kelenturan dan lain sebagainya. Pameran Dua Kutub akan berlangsung dari 10-21 Januari 2018 di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

“Kehadiran kami bersumber pada kekuatan hati yang ingin menebarkan benih cinta dengan harapan menjadi kesadaran kolektif masyarakat dalam melihat sisi kehidupan yang heterogen," ujar Masdibyo dan Gigih Wiyono dalam Press Tour Pameran Dua Kutub, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (10/1).

Mulai adanya peradaban manusia di bumi, seni dan budaya telah terbukti ampuh menyatukan berbagai persepsi, sehingga perbedaan adalah rahmat yang patut disyukuri dengan cara saling menghargai.

"Maka kami sepakat hadir bersama dengan kekuatan dan kreativitas yang berbeda namun saling menebarkan energi positif,” tambahnya

Tubagus Andre Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia, turut menyampaikan antusiasmenya dalam Pameran Dua Kutub.

Andre melihat bahwa ‘Dua Kutub’ yang berbeda rasa menjadi satu kesatuan visualisasi merupakan sesuatu yang menarik. Tidak hanya saling menguatkan, justru sangat mungkin ‘Dua Kutub’ tersebut menciptakan perspektif dan inspirasi baru.

“Kedua perupa menerjemahkan penyatuan tersebut ada karena kekuatan persahabatan yang membawa energi perdamaian dan kasih sayang. Gagasan tersebut sarat akan nilai sosio–kultural, juga isu politik terkini utamanya menyinggung keberagaman dan persatuan bangsa Indonesia," ujarnya

Hal ini menjadi suatu bukti sikap kritis kedua perupa, juga menyiratkan kepedulian sosial, serta kecintaan mereka terhadap bangsa dan negaranya, yang diekspresikan melalui bahasa visual.


Reporter : DFS

Editor : Mukhlison

 

Share this article