Sudjojono, Mengapa Mampu Melahirkan Mahakarya?

Diskusi Seni Lukis S. Sudjojono dalam Perayaan Ulang Tahun se-Abad S. Sudjojono (1913-2013) (GATRAnews/Agriana Ali) Jakarta, GATRAnews - Dalam rangka peringatan 100 tahun kelahiran maestro seni rupa Indonesia Sindudarsono Sudjojono, S.Sudjojono Center bekerjasama dengan Museum Sejarah Indonesia serta beberapa pihak lain menggelar rangkaian acara setahun untuk lebih mengenal dan menghargai karya-karya Sudjojono. Fokus perhatian lebih diberikan kepada lukisan yang dianggap sebagai maha karya yaitu lukisan Pertempuran Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen. Lukisan ini dalam kondisi memprihatinkan karena dimakan usia dan disimpan dalam kondisi yang kurang memadai.

 

Mengapa lukisan Sultan Agung dan JP Coen dianggap sebagai maha karya? Menurut kurator, ahli museum, dan penulis buku 'Visible Soul' Amir Sidharta, adalah karena lukisan sejarah yang dilukis Pak Djon, demikian ia biasa disapa, bukan merupakan lukisan ilustratif, melainkan hasil pemahaman dan ekspresi dari perupa tentang peristiwa yang terjadi. “Tidak banyak yang tahu, lukisan ini dibuat dengan detil dan riset yang mendalam. Aspeknya banyak dan masih harus digali. Pak Djon melakukan riset dan memilih satu titik interpretatif dimana ia bisa mengemukakan pendapatnya tentang kejadian itu.” ujar Amir.

 

Awalnya, lukisan Pertempuran Sultan Agung ini memang dibuat karena diminta untuk mengisi ruang dalam museum sejarah. Namun menurut Amir, sekarang bisa dianggap adi karya Indonesia yang harus mendapat perhatian utama. “Misalnya saja kerjasama dengan museum Belanda, tampilkan seperti apa pakaian jaman itu atau seperti apa pakaian tentara Sultan Agung? Museum harus menyertakan riset dan kurator untuk membantu karena tidak mungkin mengharap orang datang begitu saja. Gak cuma deskripsi, coba sertakan interpretasi. Mudah-mudahan rangkaian kegiatan menarik seperti tahun ini terus berkembang,” papar Amir.

 

Riset mendetil memang dilakukan almarhum Pak Djon dalam membuat lukisan permintaan ini. Sengaja beliau menghabiskan waktu tiga bulan di Belanda untuk memastikan kebenaran fakta-fakta. Misalnya tentang baju prajurit Belanda dan wajah JP Coen yang asli. Umbul-umbul Mataram yang ditampilkan pun dipilih dengan cermat. “Masing-masing karakter yang ditampilkan, bahkan figuran di adegan pertempuran sekalipun selalu dilukisnya menggunakan model karena Soedjojono tidak ingin menggambarkannya cuma sebagai figur yang generik. Ia memilih, seperti sutradara memilih pemainnya. Kemudian ia berupaya membuat satu lukisan bersejarah yang sulit dan memerlukan interpretasi untuk mengungkap sudut pandangnya.” jelas Amir kepada GATRAnews.

 

Interpretasi terhadap pemikiran Pak Djon coba diungkap oleh Amir. Seperti misalnya pembagian 3 babak lukisan menggambarkan adanya kombinasi spiritualisme dalam diri Sultan Agung untuk tidak menyerang Belanda dengan membabi buta, karena pertimbangan kurangnya bahan makanan. “Sultan Agung tidak ikut menyerang. Artinya jalan keluar perselisihan tidak selalu kekerasan, seperti gambar ketiga yang menggambarkan perundingan JP Coen dan Kyai Rangga. Mungkin ini salah satu hal yang dilihat sebagai kebijaksaan pemimpin Sultan Agung untuk lebih mementingkan diplomasi, tidak mengorbankan tentara,” demikian ujar kurator seni ini. (*/Ven)

Share this article