Sudjojono, Sang Maestro Nasionalis

Jakarta, GATRAnews - Sosok Sindudarsono Sudjojono mulai berkiprah di dunia seni lukis pada tahun 1937. Selain sebagai pelukis, Pak Djon --demikian ia biasa disapa, juga menjadi kritikus seni rupa pertama di Indonesia karena wawasannya yang luas tentang seni rupa. Tahun ini karya-karya akan segera dipamerkan dan didiskusikan di Indonesia dan Singapura dalam rangkaian Seabad S. Sudjojono.

 

Setidaknya ada 2 buah buku yang menceritakan sosok dan karya dari almarhum S. Sudjojono yaitu Visible Soul karya Amir Sidharta yang merangkum banyak karya S.Soedjojono dan Buku Sang Ahli Gambar karya Aminudin Siregar yang berfokus ke sketsa karya Sudjojono. Lukisan Pak Djon yang monumental diantaranya adalah Di Depan Kelambu Terbuka, Tjap Go Meh, Seko, dan Pengungsi.

 

Kurator acara Seabad S.Soedjono Santy Saptari menyebut Sudjojono sebagai 'pelukis akademik', yang mengerjakan karyanya dengan intelektual dan riset. Karya-karyanya beraliran realis ekspresionis, dengan mengungkapkan realita hidup dan kritik sosial. “Secara teknik dia bergaya seperti pelukis barat, tapi di dalam jiwa ia selalu Indonesia. Sebenarnya ia cinta dengan keindahan dalam berbagai bentuk.” ujar Santy.

 

Kembali dijelaskan Santy, pada masanya hampir semua pelukis aktif hanya menerima orderan dari orang-orang asing saja Namun Pak Djon berbeda. Ia menyuarakan untuk jangan hanya melukis trimurti saja, namun bagaimana mencari keindahan yang lebih dalam. Nasionalisme mengalir dalam darahnya sehingga ia tak segan mengecam pelukis lain seperti Basoeki Abdullah, yang dianggapnya hanya mengeksploitasi alam dan perempuan cantik. “Gak usah jauh-jauh, di sekeliling kita juga ada. Indonesia harus punya seni yang menggambarkan indonesia sebenarnya. Sebagai kritikus dan orator juga, Pak Djon juga jika ada kesempatan, misalnya di sekolah-sekolah, selalu berbicara mengenai seni rupa Indonesia.” papar kurator untuk S.Sudjojono Center inii.

 

Pak Djon memiliki pandangan bahwa seni merupakan jiwa, sehingga ia menemukan pijakan seni rupa modern Indonesia dengan konsep 'jiwa ketok' (visible soul). Komunitas pelukis lantas memberinya julukan sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Setelah Pak Djon meninggal pada 25 Maret 1985, karya-karyanya masih dipamerkan di Amerika Serikat, Belanda, Singapura, termasuk lukisan pesana Gubernur DKI Jakarta kala itu yaitu Pertempuran Sultan Agung dan JP Coen di museum sejarah Jakarta sejak 1974. “Ada sekitar 400-500 lukisan beliau yang didokumentasikan, tapi ini seperti perburuan harta karun. Banyak karya penting yang belum ada di buku.” jelas Santy. (*/Ven)

 

Share this article