KKP-BPPT Kerjasama Kembangkan Teknologi Budidaya

Jakarta, GATRAnews- Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan nota penandatanganan kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).


Kerja sama ini untuk menciptakan inovasi teknologi perikanan budidaya. Sehingga memiliki nilai penting dalam memberikan solusi bagi optimalisasi sumberdaya perikanan budidaya di Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, orientasi pergeseran pola konsumsi masyarakat dari konsumsi daging merah ke daging putih akan semakin memicu ketergantungan masyarakat pada sumber protein ikan.

“Satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dengan mendorong peningkatan produksi nasional berbasis komoditas unggulan melalui pengembangan inovasi teknologi yang efektif, efisien, dan mampu diadopsi secara massal oleh masyarakat,” ujar Slamet, di Jakarta, Rabu (19/4).

Apalagi, belakangan ini perubahan iklim sangat mempengaruhi penurunan produktivitas sektor berbasis pangan. Maka perikanan budidaya khususnya lembaga riset harus berjuang ekstra keras dalam mengantisipasi tantangan itu.

“Fokus kerja sama KKP dengan BPPT ke depan lebih difokuskan pada upaya bagaimana mendorong produktivitas tinggi di tengah tantangan perubahan iklim dan lingkungan global saat ini,” jelas Slamet

Inovasi teknologi yang berbasis mitigasi dan konservasi, pemilihan komoditas/spesies yang memiliki performance lebih baik khususnya yang adaptif terhadap kondisi lingkungan sejak dini harus menjadi fokus pengembangan.

Ada lima bidang kerja sama KKP-BPPT. Yakni, pengembangan spesies ikan yang adaptif; teknologi di bidang genetika, pengembangan hormone rekombinan, pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan, dan pengembangan teknologi nutrisi (pakan).



Pengembangan komoditas budidaya yang adaptif selama ini sudah berjalan, yakni dalam pengembangan ikan Nila Salina yang secara nyata memberikan manfaat dalam menopang produksi perikanan nasional.

Karakteristik keunggulan Ikan Nila Salina yang dapat dibesarkan di Keramba Jaring Apung laut dan tambak pada kisaran salintias 27-35 ppt, serta memiliki pertumbuhan dan efesiensi pakan yang baik, menyebabkan ikan ini sangat potensial untuk digenjot produksinya.

Ke depan kerja sama ini juga akan didorong untuk menghasilkan inovasi peralatan, mesin dan prasarana budidaya. Antara lain seperti teknologi terkait kapal angkut ikan hidup, paddle wheel Aerator (kincir) untuk budidaya tambak, dan prasarana budidaya lainnya.

Diakui Slamet, hingga saat ini lebih dari 50% peralatan, mesin dan prasarana budidaya merupakan produk luar negeri.


Editor: Arief Prasetyo

Share this article