Prasmul Bentuk Asosiasi Branding Indonesia

Serpong, gatra.com - Industri penguatan merek (branding) tidak hanya dilihat dari sudut pandang pemilik merek, namun juga dari sisi konsultan merek yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Fenomena ini mendorong lahirnya asosiasi yang dapat mengakomodir berbagai keperluan informasi dan aktualisasi informasi di dunia penguatan merek. 


Asosiasi ini dapat menjadi wadah untuk menjalin hubungan yang baik antara para pemilik merek, pengguna merek, praktisi, akademisi, peminat tema seputar merek dan pihak pemerintah. Asosiasi dapat memainkan peran penting dalam pengembangan yang sehat dan penumbuhan ekosistem merek di Indonesia.
 
Menyambut perkembangan tersebut, dibentuklah Asosiasi Branding Indonesia atau Indonesia Branding Association (IBA). IBA diresmikan dengan ditekennya Memorandum of Understanding (MoU) oleh sejumlah pihak di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus BSD, Kamis (14/10).
 
Pihak-pihak tersebut antara lain Dekan Agus W.Soehadi mewakili Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya bersama sejumlah perwakilan praktisi branding dan pelaku perusahaan yang berhubungan dengan branding, antara lain Daniel Surya (Chairman, CEO-WIR Group & Slingshot Group), Iman Camil (President Director-Unistellar VC), Ricky Afrianto (Global Marketing Director-Mayora Group), Samir Dixit (Managing Director-Brand Finance Asia Pacific).
 
Menurut Agus, sejak 2007, Program Studi S1 Branding Universitas Prasetiya Mulya menginisiasi pendirian awal asosiasi ini. "Sebagai institusi pendidikan, Prasetiya Mulya bermaksud melanjutkan diseminasi informasi terkait riset dan pengetahuan tentang branding. IBA diharapkan menjadi wadah yang dapat menjawab berbagai kebutuhan industri branding, juga menjadi sumber berbagai talenta, informasi, ajang berbagi ilmu pengetahuan bagi seluruh anggota," katanya.

Inisiasi IBA ini, lanjut Agus, cukup mendapat respons positif dari para praktisi branding di perusahaan. "Kita akan bersama-sama para praktisi branding di perusahaan-perusahaan untuk men-develop brand-brand yang lebih bernilai sesuai dengan zamannya, mengingat, kita tahu bersama, kan sekarang ini lanskap bisnis di mana-mana sudah berubah, dengan era digitalisasi ini misalnya," ujarnya.

"Kita ingin jajaki misalnya seberapa valuasi branding saat ini di perusahaan Anda. Lalu ke depannya kita bisa juga menyelenggarakan sertifikasi-sertifikasi terkait branding yang dibuat dari kerja sama antara profesional branding di universitas dan praktisi di perusahaan," sambung Agus.
 
Dari sisi universitas, menurutnya, asosiasi IBA ini juga memberi manfaat, karena pihak akademisi menjadi tahu kebutuhan-kebutuhan profesional branding bagi perusahaan-perusahaan masa depan. 

"Kan kita jadi tahu kebutuhan profesional branding bagi perusahaan itu seperti apa. Apalagi Prasetiya Mulya selalu concern dalam hal ini, karena sifat sekolah kita ini kan dual-kolaborasi antara akademisi dan dunia usaha," katanya.
 
Di banyak negara, asosiasi-asosiasi branding serupa IBA sudah bukan hal baru. Namun di Indonesia, IBA adalah asosiasi branding pertama yang pernah dibentuk. "Di dunia sudah banyak asosiasi seperti ini, namun di Indonesia ini baru pertama kali. Biasanya kan asosiasi itu hanya menyangkut bidang ilmu, seperti marketing misalnya, itu kan umum. Nah, di sini kita lebih memfokuskan diri ke hal yang lebih spesifik," kata Agus.
 
Fredy Utama, Manajer Prodi S1 Branding Universitas Prasetiya Mulya, IBA ingin memberikan kontribusi yang berarti ke pertumbuhan ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia melalui aktivitas-aktivitas berplatform branding yang akan terjadi melalui interaksi masing-masing anggotanya. 

Dalam perencanaan jangka panjang, IBA ingin berpartisipasi dalam menjadikan Indonesia negara dengan ekonomi berbasis merek terbesar di Asia Tenggara. "Untuk mewujudkan visi itu, anggota asosiasi diharapkan berperan aktif dalam pendidikan dan promosi yang terkait dengan industri branding. Mengingat masih sedikitnya jumlah ahli dalam dunia branding di Indonesia, IBA semakin yakin fokus pada pengembangan sumber daya manusia di industri ini sangat potensial," kata Fredy.


Reporter: Wanto
Editor: Iwan Sutiawan

Share this article