Film ''Naura & Genk Juara'' Sampaikan Makna Juara

Sutradara Film "Naura & Genk Juara" Eugene Panji bersama para pemainnya (GATRAnews/Iwan Sutiawan/HR02)

Sukabumi, GATRAnews - Film "Naura & Genk Juara" ingin menyampaikan makna juara bagi anak-anak tidak melulu dari peringkat atau piala lomba, tetapi bagaimana bisa bermanfaat bagi sesama. Film ini juga mengisahkan tentang persahabatan hingga alam.



"Film ini bicara tentang arti juara yang sesungguhnya. Jadi makna juara untuk mereka, kita mencoba untuk mereka against arti juara yang tradisional, bahwa juara itu harus rengking satu, juara itu harus menang," kata Eugene Panji, Sutradara Film "Naura & Genk Juara" di lokasi shooting di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu malam (18/6).

Film ini, lanjut Panji, ingin memberikan perspektif baru soal makna juara sesuai dengan usia anak-anak. "Di film itu kita break against arti juara yang kaya zaman dahulu kala gitu, terus kita kembalikan arti juara ke dunia anak-anak ini," ujarnya.

Film "Naura & Genk Juara" menceritakan tentang sekelompok anak-anak dengan pemeran utama Naura (Adyla Rafa Naura Ayu). Dia bersama tiga temannya, yakni Okky, Bimo, dan Kipli mengalami petualangan menegangkan dan penuh kelucuan saat mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi antar-SD bernama "Kemah Sains".

"Ceritanya tentang sekelompok anak-anak adventure, mereka belajar tentang alam, menyelamatkan sesuatu di hutan, dan mereka bernyanyi," katanya.

Sedangkan soal seting alam atau hutan, Panji mengatakan, bahwa ini menyampaikan pesan bahwa selain mal, banyak tempat-tempat yang membuat anak-anak bisa merasa senang dan belajar mencintai dan menjaga alam.

"Lokasi ini menarik, di tengah usia mereka yang lagi-lagi hanya mall, mall, dan mall, kemudian kita mencoba membawa mereka ke alam, bahwa ada pilihan tempat-tempat yang fun, menarik buat mereka untuk eksplor, salah satunya tempat nggak terlalu jauh, yang gampang banget di datangi dan ini salah satunya di sini," kata Panji.

Untuk proses pengambilan gambar (shooting) film "Naura & Genk Juara" selama sebulan dan terakhir Minggu (18/6). Namun persiapannya cukup lama. "Kita dari mulai casting itu sampai 6 bulanan," katanya.

Menurut Panji, shooting berlangsung selama bulan puasa yang lokasinya beradi di hutan di wilayah Sukabumi. "Mereka berpuasa, tapi ada beberapa scene yang memaksa mereka tidak puasa, karena medanya berat banget naik turun bukit, licin, hujan, shooting juga kadang-kadang sampai pagi, tapi canggih banget semangatnya," ujar Panji.

Proses shooting berlangsung mulai pertengahan Mei 2017 di Jakarta dan beberapa lokasi di luar kota. Film yang skenarionya ditulis okeh Asaf Antariksa dan Bagus Bramanti itu dijadwalkan rilis September atau Oktober 2017.


Reporter: Iwan Sutiawan

Share this article