Print this page

Pendiri Demokrat Malu Sutan Tak Bayar Utang Rp 7,5 M

Jakarta, GATRAnews - Ventje Rumangkang, pendiri Partai Demokrat mengaku malu karena "si ngeri-ngiri sedap" Sutan Bhatoegana, kolega separtainya tidak membayar utang kepada pemilik Mal Tomang Plaza (Topaz), Bahtiar Salim sebesar Rp 7,5 milyar.

 

"Harusnya dikembalikan, secara etika dan moral harus dikembalikan kalau sudah ada uang, tapi sampai sekarang gak dikembalikan," kata Ventje usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi tersangka Sutan Bhatoegana di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat malam (28/11).

 

Vetje mengaku malu karena ia yang mengenalkan Sutan kepada Bahtiar dan Bahtiar mau meminjami Sutan sejumlah Rp 7,5 milyar meski tak mendapatkan kompensasi apapun karena melihatnya sebagai teman.

 

"Iya kecewa, kenapa saya dilibatkan di sini. Dia (Bahtiar) gak ada minta (nagih) sama Sutan, dia minta sama saya. Belum lama ini saya tanya mana uangnya, dia (Sutan) jawab, 'Nunggu rumahnya dulu, beberapa bulan lalu, memang rumahnya sedang disita KPK," ucap Ventje.

 

Sutan meminjam uang tersebut saat dia masih menjadi Anggota DPR RI. Namun Ventje langsung membantah saat awak media menyoal, apakah ada kesepakatan tertentu dengan Partai Demokrat sehingga Bahtiar mau menggelontorkan uang sejumlah itu.

 

"Oh enggak, gak ada kepentingan bisnis di situ, dia pengusaha mal, gak ada kaitannya (dengan menjanjikan sesuatu). Kita sama-sama mendirikan (Partai Demokrat-Red.), dia terlibat sejak 2001, saya Dewan Pendiri, dia (Sutan) Sekretaris," tandasnya.

 

Karena Bahtiar sudah meminta uangnya sejumlah Rp 7,5 milyar itu dikembalikan, Ventje sempat menagih kepada Sutan. Namun Sutan tidak bisa membayarnya karena KPK telah menyita aset-asetnya, termasuk rumah.

 

Partai Demokrat, kata Ventje tidak akan turut campur dalam menyelesaikan utang-piutang tersebut karena ini bukan terkait partai dan merupakn urusan pribadi Sutan.

 

"Gak ada, ini kan pribadi, tidak ada kaitannya dengan partai. Cuma hubungan saya dengan Sutan karena sama-sama pendiri, saya Ketua Dewan Pendiri, dia (Sutan) Sekretaris," tandasnya.

 

Saat awak media menyoal apakah pantas Sutan kena pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) mengingat diduga menerima sejumlah uang, Ventje berkilah, bahwa penyidik hanya menanyakan soal utang-piutang tersebut.

 

"Begini, yang dipersoalkan itu pinjaman uang, tapi kalau kasus migas saya gak ditanyain. (Tapi) mungkin (KPK), lagi dikejar penerimaan uang dan sebagaianya,kira-kira begitulah" jawabnya.

 

Sutan Bhatoegana yang merupakan mantan Ketua Komisi VII DPR RI menjadi tersangka kasus korupsi atas dugaan menerima hadiah atau janji terkait pembahasan APBN-P Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2013.

 

Atas dasar itu, KPK menyangka "Si ngeri-ngeri sedap" itu melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Dalam vonis Rudi, majelis hakim menyebut Sutan menerima US$ 200 ribu dari Rudi melalui Tri Yulianto, koleganya di Komisi VII DPR RI periode lalu.

 

Rudi memberikan uang itu karena Sutan selalu menyindir-nyindir THR dan adanya gerakan pelengseran dari jabatannya sebagai Kepala SKK Migas. Oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, Rudi akhirnya diganjar 7 tahun pidana penjara dan denda Rp 200 juta subsidair 3 bulan kurungan.


 

Penulis: Iwan Sutiawan

Editor: Tian Arief

Share this article