Kuasa Hukum Antasari Belum Terima SP2HP dari Polri

Jakarta, GATRAnews - Boyamin Saiman, kuasa hukum mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, mengaku belum mendapatkan informasi apapun dari Bareskrim Polri terkait tindak lanjut laporan kliennya atas kasus kriminalisasi dalam perkara pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Putra Rajawali Banjaran.

"Saya belum mendapat informasi apapun dari Bareskrim terkait kasus Antasari dalam bentuk surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan (SP2HP) yang menjadi hak pelapor," kata Boyamin, di Jakarta, Jumat (19/8).

Menurut Boyamin, pihaknya menunggu SP2HP dari Bareskrim Polri untuk mengetahui perkembangan penyelidikan kasus yang dilaporkan kliennya dan menentukan langkah selanjutnya.

"Saya menunggu surat resmi tersebut, setelah dapat maka akan tentukan langkah selanjutnya setelah diskusi dengan Pak Antasari," katanya.

Boyamin menyampaikan pernyataan di atas menanggapi keterangan Direktur Tipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak, yang menyebut bahwa laporan dugaan kriminalisasi yang dilayangkan Antasari, kemungkinan tidak akan berlanjut ke penyidikan.

"Kasusnya pak Antasari itu sudah kami lakukan penyelidikan. Namun kelihatannya tidak bisa naik ke penyidikan," kata Herry.

Untuk naik ke tahap penyidikan, lanjut Herry, dibutuhkan dua alat bukti pemulaan yang cukup. "Kami masih mencoba mencari [bukti lagi]," katanya.

Antasari melaporkan dugaan kriminalisasi terhadapnya dalam kasus pembunuhan Nasrudin ke Bareskrim Mabes Polri. Dia menduga mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai perencana skenario kriminalisasi tersebut.

Antasari menduga demikian, karena sekitar bulan Maret 2009 didatangi oleh CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT). Pria yang kini menjadi Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) itu mengaku diutus oleh SBY.

HT menyampaikan bahwa SBY meminta agar KPK tidak menahan Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aulia Tantowi Pohan yang merupakan besan SBY. Antasari menolak permintaan tersebut, karena sesuai prosedur, KPK bisa menahan seseorang yang ditetapkannya sebagai tersangka.

HT terus memohon, namun Antasari tetap menolak. Dua bulan kemudian, polisi menangkap Antasari atas tuduhan membunuh Direktur Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen.

Antasari meminta SBY jujur soal menyuruh HT malam-malam mendatangi rumahnya. "Untuk apa Anda menyuruh Hary Tanoe datang ke rumah saya malam-malam? Apakah bisa dikatakan bahwa SBY tidak intervensi perkara? Ini bukti. Untuk tidak menahan Aulia Pohan," kata Antasari.

Terkait pernyataan Antasari, HT dan SBY membantahnya. "Antasari menuduh saya sebagai inisiator dari kasus hukumnya. Dengan tegas saya katakan tuduhan itu sangat tidak benar, tanpa dasar, dan liar," ujar SBY dalam konferensi pers di rumahnya. SBY melaporkan balik Antasari ke polisi.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Share this article