Kejagung Sudah Inventarisir Nama-Nama Terpidana Mati

Jaksa Agung H Muhammad Prasetyo (GATRA/Dharma Wijayanto/AK9)

Jakarta, GATRAnews - Kejaksaan Agung (Kejagung) sudah menginventarisir nama-nama terpidana mati yang putusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht), apakah sudah menggunakan seluruh hak hukumnya atau belum. "Nama-namanya ada, tapi justru kita lihat apakah semua haknya sudah diberikan atau belum," kata Jakasa Agung H Muhammad Prasetyo, di Jakarta, Jumat (19/5).

Kejagung akan mengecek nama-nama terpidana yang putusannya sudah inkrahct untuk memastikan apakah sudah menggunakan seluruh hak hukumnya atau belum, agar yang dieksekusi tidak menimbulkan permasalahan.

"Jangan sampai nanti setelah dieksekusi, ada yang protes lagi, ini kan belum mengajukan grasi, belum mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dan sebagainya," kata Prasetyo.

Saat ini, lanjut Prasetyo, salah satu kendala yang dihadapai Kejaksaan adalah putusan Mahkamah Konstitisi (MK) yang menghapus batas waktu satu tahun harus mengajukan grasi setelah putusan inkracht.

"Itu juga merupakan kendala kita, karena grasi bisa diajukan kapan saja. Persoalannya ini tentunya kita akan minta fatwa Mahkamah Agung (MA) untuk batasan-batasan itu. Nggak bisa dibiarkan lepas tanpa ada pembatasan, karena kalau sudah seperti itu, menjadi tidak ada lagi kepastian hukum," katanya.

Sedangkan saat wartawan menanyakan nama-nama terpidana mati yang sudah diinventarisir, Prasetyo memperilakan untuk menanyakannya kepada Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum), Noor Rachmad.

Terkait terpidana mati yang ditunda eksekusinya, di antaranya 10 terpidana mati jilid tiga, Prasetyo mengatakan, masih dalam tahap eveluasi. Ke-10 terpidana mati tersebut adalah Agus Hadi, Pujo Lestari, dan Merry Utami, ketiganya warga Indonesia.

Sisanya, yakni tujuh terpidana mati lainnya merupakan warga asing, yaitu Ozias Sibanda dan Fredderik Luttar (keduanya warga negara Zimbabwe), Obina Nwajagu, Okonkwo Nongso Kingsley, Eugene Ape (ketiganya asal Nigeria). Lalu, Zulfiqar Ali (Pakistan), dan Gurdiph Singh (India).


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Share this article