Saksi Penting e-KTP, Johannes Marliem Meninggal di AS

Juru bicara KPK Febri Diansyah (GATRAnews/Adi Wijaya/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Salah satu saksi penting kasus korupsi e-KTP di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Direktur Biomorf Lone LLC, Johannes Marliem, meninggal dunia di Amerika Serikat (AS).



"Kami mendapatkan informasi bahwa benar yang bersangkutan, Johannes Marliem sudah meninggal dunia," kata Febri Diansyah, juru bicara KPK di Jakarta, Jumat (11/8).

Namun KPK belum mendapatkan konfirmasi tentang penyebab meninggalnya petinggi perusahaan penyedia layanan teknologi biometrik tersebut, termasuk informasi yang bahwa Johannes Marliem bunuh diri di rumahnya.

"Sampai saat ini kami belum mendapat informasi rinci peristiwanya karena terjadi di Amerika," ujar Febri.

Johannes Marliem merupakan salah satu saksi penting dalam kasus korupsi e-KTP karena disebut mempunyai rekaman pertemuan penting dengan para perancang proyek di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), di antaranya ketua DPR. Dia menyimpan rekaman itu selama 4 tahun.

Sebelumnya, KPK sempat mengirim penyidiknya ke Singapura dan AS untuk mengumpulkan bukti-bukti kasus korupsi e-KTP di Kemendagri. Salah satu hasilnya, KPK menetapkan Ketua DPR RI, Setya Novanto, sebagai tersangka.

Ketua KPK, Agus Rahardjo di Jakarta, Rabu (19/7), membenarkan bahwa pihaknya mengirim penyidik ke luar negeri untuk mengumpulkan bukti-bukti kasus megakorupsi e-KTP yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,3 trilyun.

"Ya, kalau harus bukan hanya ke Amerika kan, ke banyak tempat karena memang ke Singapura, kita sering ke banyak tempat," ujar Agus.

Namun demikian, Agus enggan menjelaskan lebih rinci siapa pihak-pihak yang ditemui penyidik dalam rangka pengumpulan bukti di kedua negara tersebut. Dia hanya memastikan bahwa banyak pihak yang ditemui penyidik di sana.

"Enggak perlu saya sebutkan siapa yang kita temui, karena yang kita temui banyak. Ya banyak yang dilakukan," kata Agus diakhiri tawa.

Informasi yang beredar, ada dua saksi kunci yang dikejar KPK hingga ke luar negeri demi membongkar kasus yang diduga melibatkan banyak anggota DPR, pejabat Kemendagri, dan hingga dari unsur swasta dan BUMN.

Kedua saksi kunci tersebut, pertama adalah Johannes Marliem yang berada di AS. Sedangkan seorang lainnya adalah Paulus Tannos yang berada di Singapura.

Johannes Marliem merupakan pemasok alat pengenal sidik jari atau automated fingerprint identification system (AFIS) ke konsorsium penggarap proyek e-KTP tahun 2011-2013.

Dari Direktur Biomort Lone LLC itu, penyidik KPK dikabarkan banyak mendapkan bukti-bukti rekaman dan aliran uang e-KTP ke DPR dan pejabat Kemendagri sejak proyek itu digulirkan.

Sedangkan terhadap Paulus Tannos yang merupakan pemilik PT Sandipala Arthapura, penyidik KPK dikabarkan beberapa kali memeriksanya. Penyidik mendapatkan bukti-bukti valid soal pertemuan yang dihadiri Setya Novanto dan Andi Agustinus alias Andi Narogong terkait e-KTP.

Selain itu, penyidik dikabarkan mendapatkan bukti pemberian uang para anggota konsorsium kepada sejumlah anggota DPR, khususnya Setya Novanto dan Andi Narogong.

Dalam kasus megakorupsi e-KTP ini, KPK telah menetapkan 5 orang tersangka, yakni Irman dan Sugiharto yang besok akan divonis. Selanjutnya, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Ketua DPR RI Setya Novanto, dan Markus Nari.


Reporter: Iwan Sutiawan

Last modified on 15/08/2017

Share this article

K2_AUTHOR