Pengacara Terdakwa: Terlalu Dini Ada Unsur Kelalaian Kematian Gaby

Sidang Kasus Kematian Gaby di PN Jakarta Barat (Foto: Dok. Keluarga)

Jakarta, Gatracom - Pengadilan Negeri Jakarta Barat kembali menggelar Sidang kasus kematian Gabriella Sheryl Howard (Gaby) di Global Sevilla International School Puri Indah, Jakarta Barat dengan terdakwa Ronaldo Laturette. Sidang dibuka pukul 16.00 WIB dengan mengagendakan pembacaan duplik/pembelaan terdakwa.


Riki Sidabutar, pengacara terdakwa dari kantor Pengacara Arif Hutami & Partners mengatakan, dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sesuai Pasal 359 KUHP tentang Kelalaian yang Menyebabkan Kematian bukan sebagai kebenaran sejati karena tanpa alat bukti yang lainnya.

“Dokter Forensik Arief Wahyono yang dihadirkan di pengadilan hanya sebagai saksi, bukan sebagai Saksi Ahli. Terlalu dini dan cepat untuk mengatakan bahwa ada unsur kelalaian yang menyebabkan kematian. Tidak terbukti adanya unsur kelalaian yang dilakukan terdakwa,” demikian bunyi pembelaan pengacara terdakwa di PN Jakarta Barat, Selasa (14/11).

Sidang yang dipimpin Hakim Ketua Matauseja Erna Marilyn akhirnya menjadwalkan sidang selanjutnya pada, Selasa, 28 November 2017. Dalam sidang dua pekan ke depan akan hakim akan membacakan vonis terhadap terdakwa.

Kedua orang tua korban, Asip dan Verayanti, dengan setia selalu mengawal persidangan anak pertamanya.

"Duplik pengacara terdakwa tanpa bukti. Terdakwa boleh mengatakan apa pun dalam pembelaannya, namun apakah pembelaan terdakwa dapat dibuktikan? Ataukah hanya mengada-ada agar ia bisa lolos dari tanggung jawab? Kronologi kejadian tenggelamnya Gaby yang tahu kebenarannya hanya si terdakwa dan saksi-saksi anak yang saat itu berada di kolam renang bersama Gaby,” ujar Asip yang didampingi Verayanti.

Lanjut Asip, fakta hukumnya, saksi-saksi anak teman Gaby tidak dapat diambil keterangannya di persidangan karena orang tuanya tidak mengizinkan. Terdakwa boleh mengatakan apa saja untuk membela dirinya, tetapi kebenaran sejati ada di tangan Tuhan.

“Terdakwa memiliki kehendak bebas untuk memilih mau berkata jujur atau tidak, dan biarlah setiap perkataan dan perbuatannya ia  pertanggungjawabkan kepada Tuhan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti,” tambah Verayanti.

Suatu saat nanti, lanjutnya, apabila terdakwa sudah mempunyai anak, mungkin baru bisa menyadari betapa pentingnya nyawa seorang anak dan betapa anak kecil itu perlu dijaga dengan baik.

Diketahui, Gaby meninggal dunia setelah tenggelam di kolam renang Global Sevilla, Puri Indah, Jakarta Barat, pada 17 September 2015. Dalam kasus ini, polisi menetapkan guru olahraga Gaby yang bernama Ronaldo Laturette sebagai tersangka. Ronaldo dijerat Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan orang mati.


Editor: Arief Prasetyo

Share this article