PBHI : Penetapan Tersangka Frederich Bukan Kriminalisasi

Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi (tengah) mengenakan rompi tahanan usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta. (Antara/Elang Senja/AK9)

Jakarta,Gatra.com - Frederich Yunadi ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga menghalang-halangi proses hukum saat menangani perkara Novanto. KPK dituding lakukan kriminalisasi.

Kuasa hukum Frederich,Sapriyanto Refa menuding KPK telah melakukan kriminalisasi kepada advokat. Sebab menurutnya Frederich hanyalah menjalani tugas sebagai kuasa hukum Novanto. 

Koordinator Program Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Julius Ibrani mengatakan penetapan tersangka kepada Frederich bukanlah bentuk kriminalisasi. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat memang menjamin advokat tidak bisa dituntut secara pidana maupun perdata ketika menjalankan profesinya dengan catatan profesi tersebut dilakukan dengan iktikad baik untuk kepentingan klien.

Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 26 PUU 11 tahun 2013 istilah iktikad baik dalam pasal yang diujikan ada satu indikator yakni harus berdasarkan hukum dan aturan perundang-undangan.

"Artinya, seorang advokat diberikan hak imunitas untuk tidak dapat dipidana atau dituntut secara perdata kalau dia menjalankan tugasnya dengan iktikad baik, berdasarkan hukum aturan perundang-undangan. Sebaliknya ketika dia beriktikad buruk dan atau dia melawan undang-undang dan melanggar undang-undang dia dapat dipidana," katanya.

Merujuk dari putusan MK tersebut, Julius secara tegas membantah apa yang dikatakan pengacara Frederich soal kriminalisasi terhadap profesi pengacara. Sebab tidak ada satupun profesi di muka bumi yang kebal hukum. 

Sampai saat ini, organisasi profesi advokat belum melakukan MoU dengan KPK. Artinya dalil bahwa KPK tidak bisa memeriksa advokas sebelum diperiksa oleh organisasi profesi menjadi terbatahkan. "Peradi tidak berhak meminta penundaan apapun kepada KPK karena tidak ada kesepahaman," katanya. 


Reporter : DPU

Editor : Sandika Prihatnala

Share this article