Wartawan Diajak Jihad Melawan Hoax

Diskusi Perang Melawan Hoax, Bimas Islam, Jakarta, 13 April 2013 (GATRAnews/Dani Hamdani)
Diskusi Perang Melawan Hoax, Bimas Islam, Jakarta, 13 April 2013 (GATRAnews/Dani Hamdani)

Jakarta, GATRAnews - Suatu hari, Porok Jakarta — Riyadh dibuat repot oleh sebuah kabar. Tiba-tiba saja pesan singkat itu menjadi viral di media sosial: Kerajaan Arab Saudi tidak menerima jemaah Haji Indonesia dalam dua tahun.

 

Pesan mengagetkan itu sampai pada Rosarita Niken Widiastuti. Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemeninfo itu langsung konfirmasi pada Dirjen Bimas Islam Departemen Agama. “Pak Dirjen bilang tidak ada pesan itu, tapi coba akan dicari tahu,” ujar Niken pada acara Diskusi "Melawan berita hoax" di Hotel Lumire, Senen, Jakarta, Kamis malam, 14 April 2017.

 

Niken tak puas langsung kontak Departemen Luar Negeri. Kemenlu pun segera kontak kedutaan Besar Saudi di Jakarta. Pada saat yang sama juga meminta kejelasan ke Kedutaan Besar Indonesia di Saudi Arabia. Jawaban dari Kedubesa Saudi di Jakarta, maupun duta Besar kita di Saudi juga nihil.

 

“Ternyata itu kabar bohong, alias Hoax,” ujar Niken dalam diskusi yang digelar Dirjen Bimas Islam, Departemen Agama,  dihadiri beberapa pimpinan media. Sebagai Dirjen di Kemeninfo, hoax adalah salah satu tugas tambahan yang merepotkan Niken. Disebutkannya beberapa kabar bohong, kabar palsu, yang menghebohkan jagat maya dan pemerintah.

 

“Karena itu hoax harus kita lawan. Peran Departemen Agama juga sangat besar untuk memberantas hoax dengan pendekatan keagamaan, juga teman teman wartawan. Karena itu Mari kita Jihad Melawan Hoax,” ujar Niken.

 

Ajakan itu disambut oleh  Sekjen Depag Prof Dr Nursyam MA. “Wartawan baik cetak, televisi, radio mauun Online harus bersama sama meberantas hoax,” ujarnya.

 

Data pengguna Sosial Media di Indonesia (DOk GATRAnews/Kemeninfo)
Data pengguna Sosial Media di Indonesia (DOk GATRAnews/Kemeninfo)

“Peran organisasi masyarakat khususnya Islam juga sangat besar dan kami harapkan bisa berperan aktif,” ujar Nursyam yang malam itu hadir mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin.

 

Departemen Agama, menurut Sesdirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, sangat serius menangani kabar bohong tersebut. Selain menyelenggarakan beberapa diskusi dengan banyak pihak, juga sedang dikaji untuk membuat Fiqih soal hoax.

 

Dalam islam, kabar bohong ini bukanlah hal baru. Dari masa ke masa kabar bohong sudah ada. “Dan buat umat islam, bila mendapat kabar yang meragukan dan mencurigakan, menjadi kewajiban untuk melakukan klarifikasi atau tabayun,” kata Amin.

 

Hoax jadi Industri Kecemasan

 

Menurut Niken hal yang mengkhawatirkan saat ini hoax sudah menjadi industri. “Namanya industri kecemasan,” kata Niken. 

 

“Ada beberapa kelompok orang yang ‘menciptakan kecemasan’ dengan membuat hoax (baik itu berupa informasi bohong, meme atau gambar dengan rangkaian kata, maupun video) untuk tujuan tertentu dengan biaya tertentu,” ujarnya.

 

Soal Industri kecemasan ini dikonfirmasi oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen. Pol. Drs. Rikwanto S.H., M.Hum. Industri kecemasan yang disebut Niken, masuk dalam salah satu kelompok “berita bermasalah” dalam definisi Polri.

 

Ada tiga ‘Berita Bermasalah” versi Polri. 

 

Buzzer dan industri kecemasan (Dok GATRAnews/BiroPenmas Mabes Polri)
Buzzer dan industri kecemasan (Dok GATRAnews/BiroPenmas Mabes Polri)

Pertama adalah “Berita Abal-abal.” Ini adalah berita yang miring, memojokkan dan menuduh. Tujuannya pihak yang diserang mengajak berdamai. “Pembuatnya adalah wartawan abal-abal,” ujar Rikhwanto.

 

Kedua “Berita Hoax” ini adalah berita bohong, sengaja dibuat agar menjadi perbincangan di masyarakat. Ini tujuannya untuk untuk mencari hit, agar orang mengklik beritanya, dan membagikan di media sosial, sehingga jadi viral. “Pembuatnya bisa orang iseng, wartawan amatir, atau kelompok bayaran,” ujar lulusan Akpol 1988 itu.

 

Ketiga, ini yang sudah menjadi industri kecemasan, “Berita Buzzer.” Para buzzer ini, membuat berita dengan tujuan tertentu dan kemudian disebarkan melalui jaringan media sosial yang mereka miliki. Ini tujuannya untuk mendapatkan pengikut atau memenangkan opini. “Buzzer ini dibayar oleh pemilik kepentingan,” ujar Rikhwanto.

 

“Ini yang merepotkan, ini yang menciptakan media sosial menjadi ajang orang bertikai dan saling caci maki. Ini yang membuat hoax kian marak,” ujar Rikhwanto.

 

Masalah hoak ini kian rumit karena banyaknya media, dan media siber. Menurut catatan Rikhwanto, menurut data Pers 2015, terdapat sekitar 2.000 media cetak, tapi hanya 321 yang memenuhi syarat kriteria sebagai media profesional. 

 

Namun media online/siber, jumlahnya ada 43.000. “Namun yang profesional hanya 168, menyusut dari tahun 2014 ada 243 media siber profesional,” ujar Rikhwanto.

 

Masalah kian rumit, dengan banyaknya orang membuat blog, tapi seolah-olah situs berita. Menurut catatan Kemeninfo, saat ini ada sekitar 3 juta blog di Indonesia. Bagaimana dengan media sosial? Menjadi kian rumit lagi masalah hoax ini karena, berdasar data di Kemeninfo pada Januari 2017 ini terdapat 106 juta user aktif media sosial di Indonesia.

 

Karena itu, wajar bila Niken Widiastuti mengobarkan, “Jihad Melawan Hoax.” Salah satu bentuk jihad itu adalah mengajak semua orang, mulai dari anak-anak untuk terus menerus menebarkan kabar baik dan menahan jari untuk tidak menebar kabar yang tidak pasti.


Editor: Dani Hamdani 

Share this article