Kepala Batan Djarot (tengah) dalam diskusi tentang maanfaat reaktor nuklir di kantor Batan(Gatra/Arif KoesHernawan/yus4) Yogyakarta,GATRAnews - Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi
Kambing jantan Kejobong khas Purbalingga. (GATRAnews/Ridlo Susanto/HR02) Purbalingga, GATRAnews – Kambing Jawa di daerah Pegunungan utara Purbalingga yang dikenal sebagai Kambing Kejobong
Jakarta GATRAnews - Pada awal 1990-an, para ilmuwan hanya berspekulasi bahwa teleportasi menggunakan fisika kuantum dapat dilakukan. Sejak saat itu, proses tersebut menjadi operasi standar di
Jakarta GATRAnews - Budaya modern berutang pada peradaban paling awal di planet ini setelah jutaan tahun evolusi manusia. Kita bisa melacak kemajuan selama berabad-abad menjadi pemburu sederhana,
Jakarta GATRAnews -- Ini kabar buruk bagi siapa saja yang berharap bisa berselancar, tetapi kabar bagus bagi para astronom. Periset menemukan danau metana cair di bulan Saturnus, Titan, sangat
Jakarta GATRAnews - Deteksi tak disengaja dari molekul metanol organik di sekitar bulan Saturnus yang mempesona menunjukkan bahwa bahan yang dimuntahkan Enceladus melakukan perjalanan kimia kompleks
Universitas Gajah Mada (GATRAnews/Arief Koes/HR02) Yogyakarta,GATRAnews - Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan probiotik asli ayam kampung Indonesia. Probiotik berfungsi

Kebanyakan Planet Luar Surya Layak Huni Didominasi Air

Eropa tenggelam jika Bumi 80 persen air (Depositphoto.com)Jakarta GATRAnews - Untuk mengeksplorasi exoplanet, astronot mungkin bijaksana untuk memastikan bahwa perlengkapan ruang angkasa mereka tahan air. Sebuah studi baru memperkirakan bahwa kebanyakan planet yang dapat dihuni akan didominasi samudra yang menutupi  90 persen permukaannya. Periset percaya bahwa temuan tersebut dapat memberi petunjuk mengapa kita berevolusi di Bumi, dan bukan pada satu dari miliaran planet lain yang layak. Demikian Dailymail 20 April 2017.


Peneliti Institute of Cosmos Science di Universitas Barcelona membangun model statistik untuk memprediksi cakupan tanah dan air pada berbagai exoplanet. Bagi sebuah planet yang memiliki tanah dan air, keseimbangan yang sulit harus terjadi antara volume air yang dipeliharanya dari waktu ke waktu, dan berapa banyak ruang yang harus menyimpannya.

Kedua kuantitas ini bervariasi secara substansial di seluruh spektrum planet yang mengandung air. Sampai sekarang, alasan mengapa nilai bumi begitu seimbang tetap merupakan misteri yang belum terselesaikan.

Prinsip Antropik

Para periset menyarankan samudra bumi yang seimbang dengan daratan menjadi konsekuensi dari 'prinsip antropik'. Ini adalah teori filosofis yang menunjukkan bahwa alam semesta telah menyesuaikan dengan keberadaan kita.

Keberadaan kita di alam semesta ini bergantung pada beberapa konstanta kosmologi dan parameter yang nilainya harus berada dalam kisaran yang sangat sempit. Jika satu variabel padam, kita tidak akan ada.

Ketidakmampuan yang sangat ekstrem sehingga banyak variabel akan selaras dengan kebaikan kita secara kebetulan. Ini menyebabkan beberapa ilmuwan dan filsuf mengajukan usul bahwa justru Tuhanlah yang merancang alam semesta untuk memenuhi kebutuhan spesifik kita.

Dr Simpson mengatakan: "Berdasarkan cakupan lautan Bumi sebesar 71 persen, kami menemukan bukti substansial yang mendukung hipotesis bahwa efek seleksi antropik sedang berjalan."

Model peneliti memprediksi bahwa planet yang paling layak huni memiliki air yang membentang di atas 90 persen dari luas permukaannya. Benua di planet lainnya mungkin berjuang untuk menembus permukaan laut, seperti sebagian besar Eropa dalam ilustrasi ketika Bumi memiliki luas lautan sebesar 80 persen.

Hasil ini dicapai karena Bumi sendiri sangat dekat dengan 'dunia air' - dimana semua lahan direndam di bawah satu samudra. Dr Fergus Simpson, yang memimpin penelitian, mengatakan: "Skenario di mana Bumi memiliki lebih sedikit air daripada kebanyakan planet lain yang layak huni akan konsisten dengan hasil simulasi, dan dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa planet telah ditemukan agak kurang padat dari yang kami harapkan."

Para periset menyarankan bahwa samudera yang diimbangi dengan daratan bisa menjadi konsekuensi dari 'prinsip antropologi' - sebuah teori yang menunjukkan bahwa alam semesta dibatasi oleh kebutuhan untuk memungkinkan eksistensi manusia.

Untuk membuat model statistik, para peneliti memperhitungkan mekanisme umpan balik, seperti siklus air, erosi, dan pengendapan. Mereka juga menggunakan perkiraan untuk menentukan luas lahan yang dapat dihuni untuk planet dengan sedikit air, yang perlahan-lahan berubah menjadi padang pasir.

Para periset berharap temuan mereka akan membantu menjelaskan mengapa kita berevolusi di Bumi, dan bukan di planet lain yang layak huni. Dr Simpson menambahkan: "Pemahaman kita tentang perkembangan kehidupan mungkin jauh dari sempurna, tapi tidak terlalu mengerikan sehingga kita harus mematuhi perkiraan konvensional bahwa semua planet yang layak huni memiliki kesempatan yang sama dalam menyelenggarakan kehidupan cerdas."


Editor: Rohmat Haryadi

Save

Save

Save

Save

Save

Share this article