Belfast, GATRAnews. Studi menunjukkan bahwa bintang seperti Trappist-1 mungkin memancarkan sinar-X yang berbahaya. Ini akan membunuh planet mereka yang kemungkinan layak dihuni. Tapi, sebuah studi
Kepala Batan Djarot (tengah) dalam diskusi tentang maanfaat reaktor nuklir di kantor Batan(Gatra/Arif KoesHernawan/yus4) Yogyakarta,GATRAnews - Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi
Kambing jantan Kejobong khas Purbalingga. (GATRAnews/Ridlo Susanto/HR02) Purbalingga, GATRAnews – Kambing Jawa di daerah Pegunungan utara Purbalingga yang dikenal sebagai Kambing Kejobong
Jakarta GATRAnews - Pada awal 1990-an, para ilmuwan hanya berspekulasi bahwa teleportasi menggunakan fisika kuantum dapat dilakukan. Sejak saat itu, proses tersebut menjadi operasi standar di
Jakarta GATRAnews - Budaya modern berutang pada peradaban paling awal di planet ini setelah jutaan tahun evolusi manusia. Kita bisa melacak kemajuan selama berabad-abad menjadi pemburu sederhana,
Jakarta GATRAnews -- Ini kabar buruk bagi siapa saja yang berharap bisa berselancar, tetapi kabar bagus bagi para astronom. Periset menemukan danau metana cair di bulan Saturnus, Titan, sangat
Jakarta GATRAnews - Deteksi tak disengaja dari molekul metanol organik di sekitar bulan Saturnus yang mempesona menunjukkan bahwa bahan yang dimuntahkan Enceladus melakukan perjalanan kimia kompleks

Astronom Muda Maroko Dibalik Penemuan Tiga Planet di Zona Layak Huni Trappist-1

Khalid Barkoui (Ozy.com)Jakarta GATRAnews - Ruang kelas yang suram di Universitas Cadi Ayyad di Marrakesh mengingatkan para astronom yang memetakan langit. Model komputer canggih telah dikembangkan untuk mengatalogkan pulsar, dan materi gelap. Tetapi di sini di Maroko, di ruangan gelap tanpa gadget berteknologi tinggi, Khalid Barkaoui, 25 tahun, seorang mahasiswa doktoral, menyaring data yang ditangkap TRAPPIST-North Teleskop di Observatorium Oukaimeden. Dia membantu melukis gambar tiga dari tujuh eksoplanet yang tak dikenal sebelumnya. Dengan penemuan planet-planet yang mungkin bisa dihuni, Barkaoui semakin dekat untuk menjawab salah satu pertanyaan kita yang paling tua: Apakah kita sendirian di alam semesta? Demikian Ozy.com menyiarkan 17 Mei 2017.


Planet ekstrasurya atau eksoplanet adalah planet yang mengorbit bintang selain matahari. Ilmuwan seperti Michaël Gillon dari Universitas Liège di Belgia terobsesi untuk menentukan apakah planet-planet itu mendukung kehidupan atau tidak. Menurut Gillon, karya Barkaoui menandai era eksplorasi baru yang pada akhirnya dapat menyebabkan manusia menjadi spesies antar bintang. "Saya yakin akan hal itu," katanya.

Ketika NASA mengumumkan pada Februari, penemuan tujuh planet berbatu yang mengorbit bintang kurcaci tunggal yang disebut TRAPPIST-1, laporan tersebut diangkat hampir semua publikasi utama di dunia. Tapi sedikit yang menyebutkan peran Maroko dalam proyek tersebut. Tiga puluh ilmuwan, termasuk Barkaoui dan mentornya, Zouhair Benkhaldoun, berkontribusi pada sebuah artikel di Nature yang mencatat ilmu di balik penemuan tersebut. Benkhaldoun yang memimpin departemen astrofisika di Cadi Ayyad dan merupakan presiden dari Masyarakat Astronomi Arab di Marrakesh.

Rincian penting tentang tiga dari tujuh planet itu telah dilewatkan. Ketiganya kemungkinan besar adalah pemilik kehidupan. Gillon, yang memimpin penemuan tersebut, mengatakan bahwa tim Maroko memberikan kontribusi penting untuk mencirikan sistem TRAPPIST-1, dan dia optimis tentang masa depan Barkoui sebagai seorang astrofisikawan.

Khalid Barkaoui adalah seorang pria pemalu dari Amazigh, kota gurun 122 mil selatan Marrakesh. Ibunya tinggal di rumah untuk merawat enam anak. Ayahnya mengelola toko obat. Menurut Barkaoui, tahun pertamanya di universitas ditandai dengan kerinduan kronis, dan tidak adanya arahan. Kemudian dia bertemu Benkhaldoun, dan teleskop.

Sistem Trappist-1 (NASA)

Teleskop di Maroko dikerahkan setelah Gillon dan timnya untuk menemukan TRAPPIST-1 di Chile, pada 2015. Pada saat itu, mereka mengetahui hanya ada tiga eksoplanet, dan menerbitkan sebuah artikel di Nature. Tetapi, menurut Gillon, teleskop darat mereka menerima begitu banyak sinyal, mereka tidak dapat memahami sistemnya. "Jadi, kita harus pergi ke luar angkasa," katanya. Gillon mendekati NASA selama tiga minggu mengakses ke Spitzer, sebuah teleskop inframerah berbasis ruang angkasa. Teleskop tidak hanya mengonfirmasi hasil observasi berbasis darat, tetapi juga menemukan dua planet baru. "Ini sepenuhnya menyelesaikan sistem," kata Gillon.

Sementara itu, observatorium Maroko di Pegunungan Atlas akan menerima teleskop baru. Menurut Benkhaldoun, seruan untuk pengamatan intensif terhadap sistem TRAPPIST (Transiting Planet dan Planetesimals Small Telescope) memerlukan dorongan yang cepat. Pendanaan disetujui, dan pada bulan yang sama tim Gillon mengirim permintaan mendesak ke komunitas ilmiah global, dari Hawaii sampai Afrika Selatan, untuk mendapatkan beberapa teleskop untuk "menargetkan bintang tersebut," kata Benkhaldoun, termasuk yang terbesar di dunia - European Extremely Large Teleskop di Gurun Atacama Chile.

Pengamatan berbasis di darat memuncak dengan dimulainya pengamatan terus-menerus selama 20 hari di Spitzer, pada September 2016. Kontribusi Barkaoui terhadap artikel Nature yang dihasilkan, bersama dengan Benkhaldoun's, menunjukkan bahwa harus ada lebih dari tiga exoplanet asli, dan tiga dari tujuh planet ekstrasolar tersebut nendukung kehidupan. Essam Heggy, seorang ilmuwan ruang angkasa yang bekerja di Laboratorium Propulsi Jet NASA, mengatakan bahwa penemuan mereka adalah penemuan yang hebat. "Ini menunjukkan bahwa planet-planet dengan kondisi layak huni ada di tempat lain di galaksi kita, dan bahkan di luar sana," tegasnya.

Krisztián Vida dari Konkoly Observatory di Hungaria tidak begitu yakin. Penelitiannya, berdasarkan data dari teleskop ruang angkasa Kepler milik NASA, dan diterbitkan pada Oktober 2016, menunjukkan bahwa planet ekstrasurya itu terus-menerus dibombardir flare bintang. Itu membuat kehidupan tidak bertertahan. Sementara Benkhaldoun mengakui bahwa studi Vida layak mendapat perhatian, dia mengatakan bahwa kemajuan teknologi akan diperlukan untuk menentukan kondisi atmosfer yang ada.

Khalid Barkoui di Teleskop Oukaimeden (Dok. Barkoui)Barkaoui tetap optimistis. "Penemuan ini membuka pintu [di sini di Maroko] untuk menemukan lebih banyak planet ... dan Oukaimeden sekarang dikenal di seluruh dunia," katanya. Dia mungkin dengan mata terbelalak menatap grafik. Komitmennya terhadap penelitian tak tergoyahkan. Agak ironis, mengingat dia adalah seorang siswa miskin tanpa fokus sampai Benkhaldoun mengenali potensinya. "Khalid memiliki hambatan bicara," kata Benkhaldoun.

"Tetapi saya sudah mengenalnya selama empat tahun, dan saya merasa [di dalam dia] merupakan perilaku dan kemauan yang serius untuk belajar, berlipat ganda dengan ketekunan yang tiada henti," katanya. Hidup untuk anak didiknya itu tidak mudah. Dia dan kakaknya sedang menjalani kehidupan di sebuah apartemen kecil. Sementara Benkhaldoun dan Gillon bekerja untuk mendapatkan dana demi impian Barkaoui untuk mengungkap dunia baru. Barkaoui menyelesaikan studi satu tahun di University of Liège, di mana dia merancang sebuah program target untuk TRAPPIST-North.

Dia juga melibatkan diri ke sebuah studi baru yang dipimpin Gillon yang disebut Speculoos, mencari lebih banyak planet terestrial yang transit di dekat bintang sangat dingin. Kendala tetap ada, tentu saja. Gillon mengatakan bahwa Barkaoui perlu membangun pengetahuan ilmiahnya sebelum menyelesaikan gelar Ph.D. Barkaoui memprediksi akan memakan waktu dua tahun lagi. "Saya ingin mempelajari atmosfer planet ekstrasurya menggunakan teleskop Kepler," katanya. Tetapi, pertama-tama dia harus memperbaiki bahasa Inggrisnya, disertasinya - dan semua itu - bergantung padanya.


Editor: Rohmat Haryadi

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Share this article