UGM Berhasil Kembangkan Super Melon

Yogyakarta, GATRAnews - Bentuknya bulat, warna bercampur baur kuning-hijau-cokelat, kulit agak kasar, bila dibelah, semerbak harum, rasanya manis berair. Orang sono menyebutnya Cucumis melo L, kita biasa menyebut melon. Tapi super melon ini diberinama oleh peneliti Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Melodi Gama 3 atau panggil saja MG 3. 

 

Melon hasil penelitian Laboratorium Genetika Fakultas Biologi UGM ini tahan terhadap cuaca ekstrem (cuaca akhir-akhir ini sungguh tidak ramah buat para melon, karena hampir sepanjang tahun turun hujan. Padahal melon lebih suka berbuah di musim kemarau). 

 

 

Tapi, terbukti super melon ini berhasil dipanen dengan baik. "Meskipun kondisi cuaca pada akhir-akhir ini kurang kondusif bagi tanaman melon (Cucumis melo L)," kata koordinator tim peneliti Budi S Daryono, di Yogyakarta, kemarin, seperti dikutip Antara.

 

Kultivar Melodi Gama (MG) 3, menurut Budi, dipanen di lahan milik Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM. Potensi produksi MG 3 itu bisa mencapai 40 ton per hektare.

 

"Hasilnya terlihat bahwa kultivar MG 3 terbukti tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem seperti intensitas hujan yang cukup tinggi sehingga dapat menghasilkan panen yang cukup baik," katanya.

 

Ia mengatakan, intensitas hujan yang relatif tinggi akan berdampak buruk bagi perkembangan tanaman melon dan bisa mengakibatkan gagal panen karena tanaman melon seharusnya cocok ditanam pada musim kemarau.

 

"Selain di KP4, saat ini MG 3 sedang dilakukan uji multilokasi dan multimusim di daerah dataran tinggi yang terletak di Magetan, Jawa Timur, dan daerah pantai gumuk pasir di Kebumen, Jawa Tengah, untuk mengetahui sifat ketahanannya terhadap perubahan cuaca, hama, dan penyakit tanaman," katanya.

 

Anggota tim peneliti Rina Sri Kasiamdari mengatakan, kultivar MG 3 memiliki keunggulan lain terutama ketahanan tehadap serangan hama dan penyakit.

 

Kultivar MG 3 tahan terhadap serangan jamur tepung dan jamur kresek yang sering menyerang tanaman melon. MG 3 juga toleran terhadap serangan penyakit yang disebabkan oleh virus di antaranya kyuri green mottle mozaic virus (KGMMV).

 

"Kondisi itu memberikan keuntungan bagi petani yakni dapat mengurangi ongkos produksi terutama untuk pembelian insektisida dan fungisida," katanya.

 

Anggota tim peneliti Tri Joko mengatakan, kultivar MG 3 memiliki warna daging buah oranye yang mengandung beta karoten sehingga cocok bagi kesehatan mata.

 

"Melon itu juga memiliki rasa manis, aroma harum, dan memiliki daya simpan yang lebih panjang sehingga secara ekonomi akan lebih menguntungkan," katanya.

 

Menurut dia, penelitian yang didanai Ditjen Dikti Kemdikbud melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) itu akan menghasilkan luaran berupa kultivar melon yang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem dan hama penyakit.

 

"Dengan demikian, dapat mendukung program pemerintah untuk percepatan pembangunan ekonomi Indonesia pada sektor pertanian," katanya. (DH)

 

 

Share this article