Malala Jadi Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

New York, GATRAnews - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Senin (10/4), Malala Yousafzai, wanita muda berusia 19 tahun peraih Nobel perdamaian asal Pakistan, sebagai Utusan Perdamaian PBB untuk mempromosikan pendidikan perempuan. Penunjukan itu dilakukan lebih dari empat tahun, setelah seorang pria bersenjata Taliban menembak kepala pelajar itu, di bus sekolah yang ditumpanginya pada 2012.

Malala menjadi utusan perdamaian termuda, sebuah kehormatan tertinggi yang diberikan PBB untuk dua tahun ke depan. Malala juga merupakan peraih Nobel termuda, pada 2014, saat dia berusia 14 tahun.

"Anda tidak hanya pahlawan, tetapi anda sangat berkomitmen dan orang yang murah hati," kata Guterres kepada Malala, seperti dilaporkan Reuters dan dikutip Antara.

Utusan perdamaian lain saat ini, aktor Leonardo di Caprio, untuk perubahan iklim, aktris Charlize Theron, yang fokus pada pencegahan HIV dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, serta aktor Michael Douglas, yang fokus perlucutan senjata.

Malala menjadi pembicara rutin di panggung global dan mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Rwanda dan Kenya, pada Juli tahun lalu, untuk menyoroti penderitaan perempuan pengungsi dari Burundi dan Somalia.

Pegiat pendidikan asal Pakistan itu menjadi terkenal setelah pria bersenjata Taliban menembak kepalanya, saat ia pulang sekolah di Lembah Swat Pakistan, bagian barat laut dari ibu kota Islamabad.

Dia menjadi target Taliban, karena kampanyenya melawan kebijakan Taliban yang menolak pendidikan untuk perempuan. "Para ekstremis mencoba semua yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan saya, mereka mencoba untuk membunuh saya dan mereka tidak berhasil," kata Malala, di Markas Besar PBB, Senin.

"Sekarang ini adalah kehidupan baru, ini adalah kehidupan kedua dan itu adalah untuk tujuan pendidikan," tambahnya.

Malala sekarang bermukim di Inggris, negeri tempat dia dirawat setelah insiden penembakan. Malala mengaku ingin belajar filsafat, politik, dan ekonomi di universitas, setelah menyelesaikan SMA-nya pada Juni mendatang.


Editor: Tian Arief

Share this article