Pemilu Belanda, Akankah Tokoh Anti Islam Menang?

Pemimpin Partai Kebebasan (PVV)  tokoh anti-Islam dan anti-Uni Eropa Geert Wilders (AFP)Amsterdam, Belanda, GATRANews - Warga Belanda hari Rabu ini (15/3/17) berbondong-bondong mendatangi bilik-bilik suara untuk mengikuti Pemilu. Situasinya agak mirip dengan Amerika Serikat tahun lalu, dimana Donald Trump, tokoh konservatif, ultra nasionalis, melawan tokoh demokrat yang liberal.

 

Pemeran tokoh Trump di Belanda adalah pemimpin Partai Kebebasan (PVV)  tokoh anti-Islam dan anti-Uni Eropa Geert Wilders (53).

 

Produser film Fitna, yang menggegarkan dunia Islam pada 2008 silam, dan kini mepromosikan bakal mengeluarkan Belanda dari Uni Eropa,  akan menghadapi Partai kanan tengah VVD pimpinan Perdana Menteri Mark Rutte (50)

 

Tak heran kalau Pemilu di Belanda kali ini  dianggap sebagai ujian untuk berkecamuknya perasaan anti-imigran dan nasionalistis, yang kian diperbesar belakangan hari ini oleh memanasnya hubungan Belanda dengan Turki.

 

13 juta pemilih mendatangi berbagai TPS yang akan ditutup Rabu pukul 21.00 waktu setempat atau Kamis 02.00 WIB.

 

Baca juga:

Didakwa Rasialis, Politisi anti-Islam Belanda Segera Diadili

Film Fitna Memicu Badai Kincir Angin

 

"Saya pilih Wilders. Saya harap dia bisa membuat perubahan untuk Belanda yang lebih baik," kata Wendy de Graaf yang mengantarkan anaknya ke sekolah di Den Haag. 

 

"Saya tidak setuju dengan semua hal yang dia katakan, tetapi saya merasa imigrasi memang masalah," ujarnya seperti dilaporkan Antara. Meski banyak yang tidak sepaham tapi Wilder sedang mendapat angin.

 

Wilders yang bersumpah akan mendeislamisasi Belanda sebenarnya tidak berpeluang membentuk pemerintahan karena partai-partai besar menolak bekerjasama dengan dia, namun kemenangan PVV akan menjadi tsunami politik di Eropa.

 

Pemilu kali ini juga menjadi ujian apakah Belanda akan terus bersama dengan Uni Eropa. Inilah ujian untuk sentimen anti-kemapanan di Uni Eropa dan peluang bertahan hidupnya blok Uni Eropa,  setelah kemenangan Donald Trump di AS dan hengkangnya Inggris dari Uni Eropa pasca referendum 2016.


Editor: Dani Hamdani

Share this article