B R E XI T !!

Peter F Gontha (Dok GATRAnews)
Peter F Gontha (Dok GATRAnews)

Warsawa, GATRAnews - Kemenangan Kubu BREXIT bagi para Birokrat Uni Eropa di Brussel terasa bagaikan halilintar ditengah hari yang bercuaca yang cerah. Pada "Hari Sesudah" kejadian tersebut terasa segala kesulitan yang akan dihadapi bagaikan sebuah rintangan yang sangat sulit dihadapi.

 

Mata uang PoundSterling dan pasar modal diberbagai belahan dunia mengalami kerugian yang sangat sulit untuk dibayangkan, Penduduk Scotlandia sekarang ingin agar diadakan Referendum sendiri untuk tetap bersatu dengan Uni Eropa. Hal mana ternyata tidak disangka oleh Kandidat Presiden Amerika, Donald Trump yang menunjukan kegembiraannya yang sangat berlebihan pada waktu menginjak kakinya di  Scotlandia pada hari yang sama. 

 

Presiden Barack Obama pun dengan emosional mengatakan bahwa mulai sekarang dalam semua pembicaaraan bilateral terutama ekonomi Inggris tidak akan diprioritaskan dan hanya akan diberikan giliran terakhir.

 

Hal mana segera digunakan Donald Trump untuk menyerang pihak Demokrat di Amerika dengan mengatakan bahwa didalam sejarah hubungan kedua Negara Amerika dan Inggris selalu merupakan Aliansi utama dan bahwa Presiden Obama sebagai teman Inggris memperlihatkan etika yang sangat memalukan.  

 

Perdana Menteri Cameron harus membayar mahal atas ketidak tegasan dalam memimpin negaranya menghadapi Brexit, dimana penyelenggaraan  referendum ini merupaka janjinya pada waktu kampanye menjadi Perdana Menteri. 

 

Spanyol segera menyuarakan pentingnya selat Gibraltar sebagai suatu yang perlu diperhatikan. Para Birokrat Inggris di Brussel tidak mempunyai kepastian mengenai pekerjaannya di kantor pusat Uni Eropa dan takut akan kehilangan pensiunnya, sementara banyak perusahaan yang bergerak didalam industri keuangan maupun perbankan di London bersiap siap untuk pindah ke daratan Eropa.

 

Sesudah jatuhnya tembok Berlin dan perestroika inilak kejadian terpenting di Eropa setelh perang dunia ke -2 . Sementara Moskow, yang selama ini dimusuhi Uni Eropa  merasakan adanya keadilan dan segera mengumumkan peningkatan hubungan Bilateral dengan Inggris.

 

Brussel selama ini "YAKIN",  sesudah diadakannya jajak pendapat pertama, yang mengindikasikan bahwa BREXIT akan gagal sedangkan para Pro-Brexit di Inggris sudah siap untuk balas dendam terhadap arogansi Politik Perdana Menteri Cameron.

 

Para pemimpin anggota negara Uni Eropa segera menjadwalkan pertemuan dengan ketua Komisi Uni Eropa Juncker, Presiden Uni Eropa Donald Tusk, dan ketua Parlemen Eropa Schulz. Sementara Juncker merasa bahwa kesabaran Uni Eropa terhadap "resehnya" masyarakat Inggris tidak dapat diterima lagi, dan mengharapkan Inggris segera meninggalkan Uni Eropa.

 

Inggris diharapkan segera mungkin memasukan "surat" pengunduran dirinya dari Uni Eropa. Mulai saat itu Uni - Eropa dan Inggris akan memasuki masa penentuan mengenai "Gono-Gini" perceraian tersebut.

 

Yang menjadi perioritas utama sekarang adalah untuk kedua pihak menentukan tahapan perpisahan tersebut karena sangatlah tidak baik untuk kedua belah pihak untuk mengantung pasar keduannya dalam ketidak pastian, hal mana dikatakan para pimpinan negara Uni Eropa lainnya sesudah pertemuan mereka dengan pimpinan Uni Eropa di Brussel. 

 

Belanda yang merupakan salah satu pengambil inisiatip utama Uni Eropa sangat berkepentingan agar Uni Eropa tetap bersatu sementara Polandia, meskipun baru menjadi anggota Uni Eropa pada tahun 2014, merasakan bahwa ini merupakan suatu hukuman atau karma karena UNI Eropa yang terlalu banyak turut campur dalam urusan Rumah Tangga, Politik dan Ekonomi Polandia.

 

Para pemimpin Uni Eropa lainnya sepakat bahwa kepentingan negara masing masing perlu dijaga dengan mencapai kesepakatan yang sebaik mungkin dengan Inggris agar hubungan dagang antar kedua kubu dapat berjalan dengan baik.

 

Terutama Belanda yang berkepentingan dan menganggap bahwa "NEXIT" merupakan sesuatu yang amat sangat berbahaya dan akan mengakibatkan kerugian ekonomi yang akan sangat besar bagi Negaranya. Eropa baru saja mulai merasakan adanya perbaikan ekonomi setelah selama  5 tahun terakhir mengalami kontraksi.

 

Yang pasti Uni Eropa telah belajar dari kesalahan dan arogansinya dan berpendapat bahwa intergrasi yang berlebihan harus dihindari. Masyarakat umum sekarang mempunyai suara yang lebih besar dengan adanya demokrasi yang selalu dikumandangkan negara Barat. Keamanan, kesempatan kerja, penyederhanaan dan penanganan masalah imigrasi dan pengungsi adalah hal yang diharapkan masyarakat umum di Uni Eropa dan ini adalah hal yang harus menjadi prioritas oleh pimpinan di UE di Brussel.

 

Dua tahun yang merupakan masa untuk menyelesaikan perjanjian pengunduran (Withdrawal Agreement) harus dipergunakan untuk mencari kesepakatan hukum namun juga bisa diperpanjang apabila diperlukan terutama aturan atau kesepakatan mana yang ingin dihapus dari perjanjiannya dengan UE.

 

Apakah pihak Inggris masih diperkenankan untuk menjadi pimpinan atau menduduki kursi ketua di UE seperti yang direncanakan akan terjadi pada tahun 2017? Maukah negara UE lainnya menanggung  pembayaran gaji dan pensiun para pejabat UE dan para pejabat Inggris yang bekerja di EU yang jumlahnya sangat besar? Berapa besar kontribusi masing masing dari 27 negara yang masih tertinggal di UE., bagaimana cara pengambilan keputusan dan bagaimana pembagian hak suara masing masing negara, ini semua menjadi pertanyaan yang perlu dijawab.

 

Dengan keluarnya Inggris segala kesepakatan yang telah dicapai oleh Perdana Menteri Cameron bulan Februari lalu dengan mengancam bahwa akan adanya BREXIT, tentunya juga akan hangus. Keluar berarti "KELUAR TOTAL" kata menteri keuangan Jerman,  Schauble, yang didukung Juncker dan terutama pihak Perancis.

 

Namun apabila nantinya masyarakat Inggris merasakan bahwa Brexit adalah keputusan yang salah, maukan masyarakat UE menerimanya kembali? Di Eropa telah sering terjadi kesepakatan kesepakatan maupun perjanjian yang tidak konsisten.  Jangan sekali sekali berani mangatakan "TIDAK", itu yang terdengar di lorong lorong kantor pusat Uni Eropa di Brussel!


Peter F Gontha 

Duta Besar Indonesia di Polandia

 

Last modified on 27/06/2016

Share this article