Jadikan Laut Natuna sebagai Sumber Ikan Dunia!

Budi Wiyono, Peneliti Berdikari Center (GATRAnews/dok)

Jakarta, GATRAnews - Nama Natuna, belakangan kian banyak disebut. Bukan semata-mata karena ada potensi konflik di sana, namun karena potensi perekonomiannya yang demikian besar. Bukan saja potensi migas, tapi juga di bidang perikanan yang diperkirakan mencapai 1.261.980 ton per tahun. Lantaran potensi yang besar itulah, Natuna menjadi wilayah yang diinginkan banyak pihak.

Sebagaimana diberitakan di media massa, wilayah perairan Natuna di barat daya Kalimantan, diklaim oleh Cina seagai lokasi bebas mancing. Sudah puluhan tahun pula, selain nelayan Cina, nelayan Vietnam dan Thailand juga menjarah wilayah tersebut. Tidak ingin kecolongan, pemerintah sigap. Pengawasan wilayah tersebut dilaksanakan lebih dari yang sudah dilakukan di masa lalu.

Saat kunjungan ke Natuna, 23 Juni 2016, lalu Presiden Joko Widodo, memerintahkan anak buahnya untuk mengerahkan segala daya mengamankan Natuna. Selain membangunan infrastruktur dan juga menambah personel pengamanan, langkah strategis lain adalah dengan mengerahkan nelayan Indonesia begerak aktif di sana. Caranya adalah dengan memberikan izin nelayan tradisional wilayah Jawa melaut hingga Natuna.

Kendala Sarana 

Semangat pemerintah menjadikan Natuna sebagai sumber ikan nasional, sudah sangat tepat. Dasarnya adalah kapitalisasi perikanan di perairan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau itu sangat besar. Diperkirakan mencapai triliunan rupiah dengan jumlah ikan budidaya dan hasil tangkapan yang melimpah. Pengamatan sepintas terhadap nelayan di Natuna sebagaimana dilakukan Pusat Studi Sosial Politik (Suspol) Indonesia, menunjukkan bahwa satu kapal motor nelayan tradisional mampu mengangkut 50 kilogram ikan sekali melaut.

Dari data yang ada di 10 kecamatan atau daerah tangkapan, di sana terdapat 3.033 kapal motor yang melaut tiap hari. Maka, dengan asumsi nelayan melaut sebanyak 240 kali dalam setahun dan harga ikan Rp 50.000 per kilogram, nilai tangkapan ikan di Natuna mencapai Rp 9 triliun lebih per tahun.

Potensi ikan di Natuna, sebagaimana diklaim pemerintah daerah setempat diperkirakan mencapai 1.261.980 ton per tahun atau setara 21,10% dari hasil tangkapan ikan Indonesia sebanyak 5.950.000 ton per tahun.

Namun sayang, nilai yang besar itu tidak seluruhnya dinikmati nelayan Indonesia. Di masa lalu, hasil tangkapan ikan di Natuna lebih banyak dilakukan nelayan asing. Minimnya peran nelayan Natuna, disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain; Natuna masih kekurangan kuota BBM jenis solar, terutama solar subsidi untuk nelayan. Sejak Natuna terbentuk menjadi Kabupaten, tahun 2000 hingga saat ini tidak pernah dapat tambahan kuota BBM.

Pemerintah Natuna sudah mengajukan permintaan ke Pemerintah Pusat terdahulu, melalui PT. Pertamina dan BPH Migas. Tetapi tak satupun surat dibalas, untuk mengajukan sekelas ijin APMS atau SPDN saja, hingga kini tak terwujud. “Seorang pengusaha mengurus ijin APMS yang sudah direkomendasi oleh Bupati, dan minta tambahan kuota sejak 2008, hingga hari ini tak tembus, alasannya klasik, kuota BMM Natuna tak mencukupi,” kata Ilyas Sabli, Bupati Natuna dalam Acara Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Tanjung Pinang, 3 Februari 2015.

Begitulah ironi di Natuna yang notabene terkenal kaya Migas. Namun, rakyatnya masih susah mendapatkan BBM. Itu sebabnya, nelayan di sana pun ikut terhambat. Sebagai ilustrasi, dengan pompong 3 ton, rata-rata nelayan membutuhkan minimal 50 liter solar untuk melaut selama 5 (lima) hari. Faktanya, untuk dapat 10 liter saja, pun susah. Dibanding nelayan di wilayah Jawa, nelayan Natuna jelas jauh tertinggal. Mereka yang melaut dengan armada kapal di atas 3 ton atau hingga 30 ton, hanya bisa jalan dengan BBM industry (non subsidi), sehingga sulit untuk balik modal.

Selain BBM, faktor lain yang juga belum sepenuhnya mendukung pengembangan daerah strategis Natuna adalah listrik. Di sini, listrik masih belum belum sepenuhnya menyala 24 jam, terutama untuk wilayah/daerah di kepulauan. Padahal listrik dibutuhkan nelayan untuk pembuatan es, butuh sarana pengolahan dan sarana pendukung lainya, seperti coolstorage misalnya. Dengan listrik yang byar-pet, pastilah sulit mendukung proses pengolahan hasil tangkapan di laut.

Potensi Ikan Natuna 

Wilayah Natuna ada pada posisi strategis, ada di : 1016’ – 7019’ LU dan 105000’ – 110000’ BT. Di bagian Barat berbatasan dengan; Kabupaten Kepulauan Anambas dan Malaysia Barat; Bagian Timur berbatasan dengan: Kalimantan Barat dan Malaysia Timur; di bagian Utara berbatasan dengan : Vietnam dan Kamboja; dan di bagian Selatan erbatasan dengan Kabupaten Bintan. Di wilayah Natuna, terdapat 7 Pulau terdepan dan memiliki Panjang Garis Pantai 460 km. Kemudian memiliki Jumlah Pulau : 154 Pulau, terdiri dari; 27 Pulau (17,53%) berpenghuni dan 127 Pulau (82,47%) belum berpenghuni.

Potensi Lestari ikan di Laut Cina Selatan / WPP 711 Sesuai dengan Kep Men KP : KEP.45/MEN/2011, sangatlah besar, yang di dominasi oleh ikan2 sbb :

1 Ikan Pelagis Besar : 66,100 ton
2 Ikan Pelagis Kecil : 621,500 ton
3 Ikan Demersal:  334,800 ton 
4 Ikan Karang Konsumsi: 21,600 ton
5 Udang Penaeid:  11,900 ton
6 Lobster : 400 ton
7 Cumi-cumi:  2,700 ton
Jumlah : 1,059,000 ton

Adapun jenis ikan yang dominan ditangkap, antara lain:
1. IKAN TONGKOL (Auxis sp);
2. MANYUNG (Arius sp);
3. CUCUT (Sphiraena sp);
4. SELAR (Caranx sp);
5. TEMBANG (Sardinella sp); dan
6. KEMBUNG (Restrelliger sp).

Selain itu sejumlah ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah ikan karang., seperti:
1. IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus);
2. IKAN KERAPU (Ephinephelus, Chephalopholis dan Plectropomus);
3. IKAN KAKAP (lutjanus dan symphorus);
4. IKAN SELAR EKOR KUNING (caesio);
5. IKAN LEBAM (siganidae, bolbometopon, lethrinus, dan plectorhinchus); dan
6. IKAN PARI (taeniura, dan labracinus).

Pemerintah Kabupaten Natuna merilis, jumlah nelayan tersebar merata di 12 Kecamatan. Jumlahmua ± 10.857 orang, atau 3.619 RTP (Rumah Tangga Perikanan). Mereka terdiri atas; nelayan utama 4.319 orang; nelayan sambilan utama 3.722 orang; dan nelayan sambilan sebanyak 2.816 orang. Kekuatan armada nelayan tradisional terbatas antara 3 – 5 GT.

Mereka menggunakan alat tangkap pancing ulur, rawai dan pancing tonda (handline). Secara rinci adalah sebagai berikut :
1. Sampan/PTM : 1.123 unit
2. Perahu Motor Tempel : 92 unit
3. Kapal Motor 1 s/d 5 GT : 2.340 unit
4. Kapal Motor 5 S/D 10 GT : 382 unit
5. Kapal Motor 10 S/D 20 GT : 25 unit
6. Kapal Motor 20 S/D 30 GT : 2 unit (INKAMINA-87 dan INKAMINA-600)

Dengan kemampuan yang terbatas tersebut, tahun 2014 pemerintah daerah Natuna mencatat, total perkiraan produksi perikanan tangkap di sebesar 47.341,58 ton. Angka ini telah melebihi target yang direncanakan, yakni : 46.781,97 ton, dengan nilai persentase 101,19%. Produksi perikanan tangkap nelayan lokal, sebesar 47.341,58 ton. Total nilai produksi perikanan tangkap, diperkirakan mencapai Rp. 833,267 miliar.

Produksi perikanan tangkap baru, mencapai 9,39% dari potensi lestari. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, Nomor PER. 01/MEN/2009, tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI), untuk Kabupaten Natuna termasuk dalam WPP-RI 771, yang meliputi perairan Selat Karimata, Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Area Fishing Ground mencakup ± 75,5% dari luas WPP-RI 711.

Untuk mengembangkan potensi yang dijelaskan di atas, maka Natuna membutuhkan prasarana Perlabuhan Perikanan yang saat ini masih dalam tahap Perencanaan dan Pengembangan. Dengan rincian sebagai berikut :

1. Kecamatan BUNGURAN UTARA : 4 (EMPAT) UNIT;
2. Kecamatan BUNGURAN TIMUR LAUT : 3 (TIGA) UNIT
3. Kecamatan BUNGURAN TIMUR : 10 (SEMBILAN) UNIT
4. Kecamatan BUNGURAN BARAT : 9 (DELAPAN) UNIT
5. Kecamatan BUNGURAN SELATAN : 3 (DUA) UNIT
6. Kecamatan PULAU TIGA : 15 (LIMA BELAS) UNIT
7. Kecamatan PULAU LAUT : 8 (DELAPAN) UNIT
8. Kecamatan MIDAI : 5 (LIMA) UNIT
9. Kecamatan SERASAN : 14 (EMPAT BELAS) UNIT
10. Kecamatan SUBI : 4 (TIGA) UNIT

Saat ini di Natuna hanya ada Nelayan tradisional yang menggunakan alat tangkap yang dominan, sebagai berikut : PANCING ULUR, PANCING TONDA, BAGAN, JARING PANTAI, KELONG, RAWAI, BUBU, TANGKUL dan alat lainnya. Sementara untuk mengembangkan Potensi Perikanan Budidaya, Nelayan pembudidaya yang tersebar di seluruh Kecamatan berjumlah ± 1.040 RTP (Rumah Tangga Perikanan), dengan kriteria sebagai berikut :
a. Nelayan Pembudidaya Ikan Air Laut : 872 RTP
b. Nelayan Pembudidaya Ikan Tawar/Payau : 142 RTP
c. Nelayan Pembudidaya Rumput Laut : 24 RTP

Dengan sarana yang digunakan untuk usaha budidaya perikanan, terdiri dari :
1. Keramba Jaring Tancap (KJT)
2. Keramba Jaring Apung (KJA)
3. Kolam Air Tawar

Sedangkan budidaya rumput laut, menggunakan metode Rakit dan Long-Line, dengan kriteria sebagai berikut :
1. Keramba Jaring Tancap (KJT) : 301 Unit
2. Keramba Jaring Apung (KJA) : 233 Unit
3. Kolam Air Tawar : 70.030 M2
4. Rakit/Long-Line : 50.500 M2

Produksi perikanan budidaya cenderung mengalami penurunan, terutama komoditas rumput laut, dengan total produksi sebesar 733,69 TON, dengan rincian sebagai berikut :
a. Budidaya Ikan Air Laut : 374,80 TON
b. Budidaya Ikan Air Tawar/Payau : 217,57 TON
c. Budidaya Rumput Laut (basah) : 142,36 TON

Total nilai produksi perikanan budidaya, diperkirakan mencapai 49,464 miliar rupiah. Pengolahan hasil perikanan yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Natuna, adalah Kelompok-kelompok Pengolah Skala Rumah Tangga (POKLAHSAR) yang tersebar di 3 Kecamatan : Kecamatan “Pulau Tiga, Bunguran Timur dan Bunguran Selatan. Dengan jumlah sebanyak 56 POKLAHSAR atau 290 Pengolah. Antara lain :
1. KERUPUK ATOM : 10 Pengolah
2. KERUPUK IRIS : 245 Pengolah
3. PENGASAPAN : 10 Pengolah
4. PENGERINGAN/PENGGARAMAN : 10 Pengolah
5. FERMENTASI : 10 Pengolah
6. OTAK-OTAK : 5

Pengolah Total produksi pengolahan ikan yang dikelola POKLAHSAR, mencapai 6.894 kg atau 6,9 ton. Solusi Pengembangan Potensi melimpah pada akhirnya tidak akan berarti manakala hanya berupa tumpukan kertas di atas lemari. Kerja nyata sangat dibutuhkan untuk menjadikan Natuna sumber ikan dunia. Untuk itu, perlu sesegera mungkin diambil langkah2 sebagai berikut :

1. Memberikan kemudahan dalam regulasi/perijinan :
a) Pengoperasian kapal pengangkut ikan di atas 150 GT buatan dalam negeri guna memudahkan pengangkutan dan pemasaran ikan hasil tangkapan nelayan tradisional.
b) Penangkapan ikan untuk armada kapal penangkap maksimal 30 GT, terutama nelayan andon dalam melakukan operasi penangkapan di perairan Natuna / Laut Cina Selatan.
c) Pengoperasian kapal penangkap ikan di atas 150 GT buatan dalam negeri, dengan menggunakan alat tangkap yang diperbolehkan, di wilayah perairan yang susah dijangkau oleh nelayan tradisional atau perairan ZEE Indonesia, sekaligus akan berguna sebagai pengamanan wilayah perairan territorial.
d) Relokasi nelayan dan kapal penangkap ikan eks daerah lain dan eks alat tangkap yang dilarang untuk melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan Natuna / Laut Cina Selatan dengan menggunakan alat tangkap yang diperbolehkan.

2. Menambah kapasitas Suplai Listrik/PLN, guna menjamin pengembangan industry perikanan terpadu, mulai dari hulu sampai dengan hilir, di wilayah kabupaten Natuna.

3. Membantu dan menjamin keamanan dan kenyamanan nelayan, baik yang tradisional maupun modern dalam melakukan operasi penangkapan ikan di wilayah perairan Natuna maupun ZEEI (Laut Cina Selatan), dari gangguan kapal asing.

4. Memberikan kewenangan dan sarana/prasarana kepada BUMN Perikanan :
a) PT Perikanan Nusantara (Persero) - PERINUS sebagai garda terdepan dalam melakukan penangkapan ikan di wilayah perairan Natuna maupun ZEEI (Laut Cina Selatan) maupun sebagai off taker hasil tangkapan nelayan. b) Perum Perikanan Indonesia - PERINDO, sebagai garda terdepan dalam melakukan budidaya ikan di wilayah perairan Natuna maupun sebagai off taker hasil budidaya ikan maupun rumput laut nelayan/pembudidaya.

5. Membuka akses dan kemudahan sarana/prasarana dalam melakukan perdagangan hasil perikanan langsung ke luar negeri / ekspor dari wilayah kabupaten Natuna.

6. Untuk menjaga kedaulatan Indonesia maka perlu dilakukan pelarangan segala aktifitas kapal penangkap ikan maupun kapal pengangkut ikan asing di di wilayah perairan Natuna / Laut Cina Selatan. 


Budi Wiyono, Peneliti Berdikari Center 

Last modified on 25/08/2016

Share this article