Retorika Subjektivisme Nusron Wahid

Admin Armas Ketua Muslim Cinta Jakarta (McJAK) (Dok GATRAnews/Istimewa)
Admin Armas Ketua Muslim Cinta Jakarta (McJAK) (Dok GATRAnews/Istimewa)

Jakarta, GATRAnews - Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV ONE, Hari Selasa, 11 Oktober 2016, membahas tema "Setelah Ahok Minta Maaf." Seperti biasanya, ILC menampilkan berbagai narasumber pro kontra dan berbagai pihak lain yang terkait dengan persoalan yang sedang hangat dibahas.

 

Banyak hal menarik bisa menjadi catatan dalam acara ILC tersebut. Namun, saya ingin fokus kepada pikiran Nusron Wahid (NW) karena gagasan subjektivisme (‘indiyyah) tampak begitu jelas dalam ungkapan kata-katanya. 

 

Dalam pandangan NW, orang yang mengucapkan, yang paling tahu tentang maksud yang diungkapkannya. Implisit di dalam pernyataan itu, bagi NW, kebenaran adalah menurut masing masing. Dalam konteks al-Qur’an, Hanya Allah yang paling tahu maksud yang dikandung di dalam al-Qur’an. NW menegaskan dengan penuh percaya diri, Multi Tafsir adalah sebuah keharusan yang harus dipertahankan.

 

Jika pemikiran Nusron Wahid diterapkan dalam memahami ajaran Islam, maka tidak ada pemahaman yang objektif bisa diraih karena kebenaran tergantung kepada masing masing orang. Pemikiran NW ahistoris dan tidak realistis.

 

Jika agama ditafsirkan menurut masing masing, dan Hanya Allah yang Tahu, umat Islam akan berhaji menurut masing masing. Namun, kenyataannya NW tetap berhaji ke Mekkah. Ratusan juta umat Islam sejak zaman Nabi hingga Akhir Zaman sudah, sedang, dan akan selalu, berhaji ke Mekkah.

 

Ini menunjukkan gagasan subjektivisme yang dikemukakan NW adalah utopia, ahistoris, dan tidak realistis. Sama halnya, umat Islam setiap hari melakukan shalat. Tidak ada satupun makmum membelakangi Imam. 

 

Termasuk NW juga tidak membelakangi imam. Tidak bisa masing masing menafsirkan menurut masing masing. Jika shalat menurut masing masing, maka tidak akan pernah ada shalat berjamaah. 

 

Banyak contoh lain bisa disebutkan untuk menunjukkan tidak logis, ahistoris, dan tidak realistisnya pendapat NW dalam memahami Islam.

 

Jika pikiran NW diikuti, dan sesungguhnya tidak akan pernah diikuti, karena kebenaran menurut masing masing, maka tiada pemahaman yang terjadi, apalagi kesepakatan dalam beragama, bernegara dan dalam kehidupan. Konsekwensi pikiran NW adalah umat Islam sepanjang zaman hidup dalam fatamorgana kebenaran. 

 

Umat Islam akan terombang ambing dalam pemahaman ajaran Islam. Kebenaran dalam pandangan NW hanya berlaku menurut diri masing masing. Artinya, pikiran NW menjustifikasi segala bentuk kesesatan dan penyimpangan karena tidak pernah ada kebenaran objektif.  


Adnin ArmasKetua Muslim Cinta Jakarta (McJAK) 

Last modified on 12/10/2016

Share this article