Sinyal Kiblat Baru Investasi Saudi Arabia

Jakarta, GATRAnews - Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk menawarkan kerja sama di berbagai sektor. Tidak hanya berhenti pada kerja sama Saudi Aramco dengan Pertamina di infrastruktur kilang minyak. Melainkan juga harus dikembangkan ke sektor nonmigas, seperti pariwisata, infrastruktur, telekomunikasi, penerbangan, keuangan, perumahan dan berbagai hilirisasi industri yang sangat prospektif.

Pepatah menyatakan, perubahan itu keniscayaan. Ini memang tepat adanya, tidak terkecuali terkait dengan peta percaturan ekonomi dunia. Saat ini, roda perekonomian dunia juga seolah berputar. Indikasi terjadinya pergeseran kekuatan ekonomi dunia terasa kian nyata. Pasca-krisis global yang melanda negara-negara Barat, dominasi kekuatan ekonomi Eropa semakin mengendur, termasuk kekuatan negara adidaya Amerika Serikat (AS). Ditambah lagi, berbagai kontroversi kebijakan ekonomi Donal Trump dikhawatirkan berpotensi semakin memicu ketidakpastian global.

Sementara itu, kawasan dunia di sisi Timur terus bergerak memacu produktivitas melalui berbagai gerakan industrialisasi. Setidaknya, empat negara Asia (Jepang, Cina, Korea Selatan, dan India) mengalami kemajuan ekonomi yang sangat pesat. Pertumbuhan ekonomi Cina sempat menyentuh double digits. Bahkan di tengah perlambatan ekonomi dunia, India mampu tumbuh 7,5%.

Total impor minyak empat negara tersebut pada 2015 mencapai 4 juta barrel per day (bpd) atau lebih dari 51% minyak Arab Saudi. Masing-masing Jepang (1,2 juta), Cina (1,1 juta), Korea Selatan (0,9 juta), dan India (0,8 juta). Artinya, kekuatan ekonomi empat negara tersebut telah menggantikan kedudukan Amerika Serikat yang hanya menyerap 19% minyak Arab Saudi. Diperkirakan, pada 2040 kebutuhan pasokan minyak akan terus meningkat, sementara AS diprediksi akan membatasi impor minyaknya karena keberhasilan program cell oil.

Data tersebut menunjukkan bahwa pusat gravitasi ekonomi memang mulai bergeser dari barat ke timur. Data ini sekaligus dikonfirmasi adanya migrasi nilai investasi dan volume perdagangan bergeser ke kawasan Asia. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara-negara kapitalis terus mengalami perlambatan. Pasalnya, selama ini sumber pertumbuhan ekonominya lebih mengandalkan hasil perputaran yang ditebar di berbagai instrumen investasi di sektor keuangan. Akibatnya, terjadi penggelembungan ekonomi atau economic bubble. Kinerja sektor riil tidak mampu mengimbangi, sehingga volume produksi dan perdagangan anjlok. Penggelembungan ekonomi tersebut mengakibatkan pertumbuhan yang semu dan struktur ekonomi yang rapuh dan kejatuhan berbagai harga komoditas.

Saudi Arabia merupakan salah satu negara yang terkena imbas atas kejatuhan harga komoditas, terutama harga minyak. Saudi merupakan produsen minyak terbesar di kawasan Arab Teluk, yakni sekitar 10 juta barel per hari. Anjoknya harga minyak merupakan siklus kebalikan dari era boomingminyak. Harga minyak sebelum Perang Teluk 1973 hanya US$1,67 per barel menjadi US$11,65 per barel pasca-perang. Akibatnya, negara-negara Arab Teluk mendadak mendapat durian runtuh dari rezeki minyak.

Sayangnya, negara-negara ini terlena atas kekayaan yang berlimpah dari petro dollar. Akibatnya, penerimaan kerajaan 75% bergantung pada penerimaan minyak. Anjloknya harga minyak membuat APBN Arab Saudi defisit hingga SAR 366 milyar pada 2015 dan SAR 297 milyar pada 2016. Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan fiskal Kerajaan, termasuk harus memangkas subsidi dan memotong gaji pegawai, dan memangkas belanja modal. Akibatnya, pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Arab Saudi diperkirakan hanya akan berkisar 0,2%, menurun lagi dibandingkan dengan tahun 2016 yang sebesar 1,4% dan tahun 2015 sebesar 4,1%.

Sebenarnya, antisipasi kondisi tersebut sudah dimulai sejak Raja Abdullah, dengan mulai melakukan reformasi ekonomi. Visi Pemerintah Arab Saudi 2030 antara lain akan meningkatkan investasi dengan mengembangkan bisnis non-minyak. Langkah ini ditandai dengan Cina dan India sebagai prioritas kunjungan pertama Raja Abdullah di luar kawasan Timur Tengah pada awal 2006.Pada Februari dan Maret 2014, Salman bin Abdul Aziz, semasa menjadi putra mahkota, mendapat tugas untuk berkunjung ke Jepang, India, dan Cina.

Selanjutnya, pada Agustus 2016, Kerajaan Arab Saudi telah melakukan 15 perjanjian dengan Cina diberbagai sektor, seperti pembangunan rumah di Arab Saudi hingga proyek pengairan serta penyimpanan kilang minyak. Diversifikasi dan mengalihkan investasi Saudi dari Barat ke Asia sangat rasional. Apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan fluktuasi harga minyak dunia. Tidak hanya dengan Cina, Arab Saudi juga telah menyetujui investasi senilai US$45 milyar dengan perusahaan pendanaan teknologi dari Jepang, Softbank Group.

Jadi tidak mengherankan jika awal kunjungan atau muhibah kenegaraan Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud ke Asia memakan waktu 31 hari. Negara-negara yang dikunjungi adalah Malaysia, Indonesia, Brunei, Jepang, Cina, Maladewa, dan berakhir dengan menghadiri KTT Liga Arab di Amman, Yordania, akhir Maret 2017. Indonesia merupakan negara terlama yang dikunjungi, yakni sembilan hari, termasuk wisata 4-9 Maret di Pulau Bali. Ini lawatan terpanjang dan kunjungan kenegaraan yang terbilang fantastis dengan membawa sekitar 1.500 orang, termasuk 14 menteri dan 25 pangeran.

Dalam kunjungan ke Malaysia, Saudi Aramco menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Petroliam Nasional Bhd (Petronas), pada proyek Pengilangan dan Pengembangan Terpadu Petrokimia (RAPID). Arab Saudi adalah mitra perdagangan terbesar kedua Malaysia di Timur Tengah. Kerja sama perdagangan antara kedua negara mengalami peningkatan dari 19,8 persen, dengan total keuntungan Malaysia sekitar RM 13,12 milyar atau setara Rp 39,5 trilyun.

Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk menawarkan kerja sama di berbagai sektor. Tidak hanya berhenti pada kerja sama Saudi Aramco dengan Pertamina di infrastruktur kilang minyak. Melainkan juga harus dikembangkan ke sektor nonmigas, seperti pariwisata, infrastruktur, telekomunikasi, penerbangan, keuangan, perumahan dan berbagai hilirisasi industri yang sangat prospektif.

Selama ini, hubungan Indonesia-Arab Saudi hanya berkutat urusan agama, pendidikan, dan sosial. Saudi hanya menggunakan strategi bantuan (politics of assistance) dengan membangun fasilitas-fasilitas keagamaan (rumah ibadah) maupun sekolah-sekolah agama.Tidak disadari, penekanan kerja sama keagamaan ternyata menjadikan hubungan kedua negara itu tidak optimal. Karena gerakan-gerakan Islam radikal di Indonesia, disinyalir justru bersumber dari persoalan-persoalan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi.

Indonesia sendiri juga belum serius menggarap investasi dari Timur Tengah. Indonesia tidak pernah memiliki atase ekonomi maupun perdagangan di Arab Saudi. Akibatnya, total perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi pada 2016 hanya mencapai US$4,05 milyar, bahkan turun hampir 27% dibandingkan dengan 2015. Indonesia justru membukukan defisit neraca perdagangan hingga US$1,3 milyar.

Ekspor Indonesia ke Arab Saudi hanya sekitar US$1,3 milyar, sedangkan impor mencapai US$ 2,7 milyar. Sementara itu, di bidang investasi, posisi Arab Saudi hanya menduduki peringkat ke-57, dengan nilai investasi hanya US$ 900.000 atau hanya sekitar Rp 11,97 milyar. Jumlah tersebut masih sangat kecil, tidak sepadan dengan devisa haji dan umrah yang disumbangkan Indonesia ke Arab Saudi. Padahal, investasi Saudi di AS mencapai US$ 600 milyar. Bahkan piutang Saudi kepada AS mencapai US$116,8 milyar atau sekitar Rp1.551 trilyun.

Karena itu, Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum kunjungan Raja Salman ini. Kerja sama Saudi Aramco-Pertamina dengan total investasi US$6 milyar, dan US$ 1 milyar di sektor pariwisata masih terlalu kecil. Indonesia dapat memulai dengan pemenuhan impor minyak yang mencapai 0,55 juta bpd, namun hanya 29% disuplai dari Saudi. Tentu ini akan memberikan kepastian pasokan dan semakin efisien harga BBM di dalam negeri.

Di sektor pariwisata, investasi Saudi bisa berawal dari Bali dan Lombok (kawasan wisata Mandalika). Indonesia memiliki berjuta keragamanan destinasi pariwisata yang memberikan keuntungan investasi yang sangat menggiurkan. Di samping kunjungan wisatawan dari Timur Tengah, tidak hanya Arab Saudi, tapi juga Dubai, Qatar, dan Abu Dhabi. Pada 2016, sekitar 2 juta wisatawan dari Timur Tengah atau naik sekitar 39%. Ahlan wa Sahlan ya Malik Salman!


Oleh: Enny Sri Hartati
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Share this article