Sapardi di Mata Jokpin

Joko Pinurbo (Dok GATRAnews/istimewa)
Joko Pinurbo (Dok GATRAnews/istimewa)

Jakarta, GATRAnews - Perayaan 77 Tahun Sapardi Djoko Damono di Bentara Budaya, Jakarta (22/3) diikuti dengan luncuran tujuh buku karya maestro penyair Indonesia itu. Ini adalah puncak dari sang penyair hujan dalam pengaryaannya yang hampir setengah abad itu.

 

Nama Sapardi sudah membuncah dalam kesusastraan Indonesia. Ia adalah penyair, dosen, dan pegiat sastra penuh. Ia pernah menjadi redaktur majalah “Horison”, “Basis” dan “Kalam”. “Duka-Mu Abadi” (1969) menjadi sekumpulan sajak pertamanya.

 

Selain dikenal sebagai sastrawan, penyair bertopi itu juga dikenal sebagai penerjemah yang andal, salahsatu terlihat dari buku terjemahannya “Lelaki Tua dan Laut” (translasi dari karya Ernest Hemingway, “The Old Man and The Sea”. Sapardi pernah meraih hadiah sastra ASEAN (SEA-Write Award) pada 1988, Penghargaan dari Freedom Institute (2003), dan Habibie Award (2016).

 

Sentuhan tangan Sapardi juga menjadi inspirasi bagi sastrawan penerusnya dan bagi banyak kalangan yang ingin mempelajari sastra dan puisi. Penyair Joko Pinurbo, termasuk sastrawan yang mengaku mengagumi karya-karya hebat Sapardi.

 

Penyair “Pacarkecilku” (2002) itu memuji kesetiaan Sapardi dan loyalitasnya yang memberi warna bagi dunia sastra tanah air. Berikut petikan wawancara wartawan GATRA Andhika Dinata dengan Jokpin seusai menghadiri acara perayaan 77 Tahun sapardi di Bentara Budaya, Rabu lalu (22/3):

 

Sapardi makin produktif berkarya hingga usia senjanya, Anda melihat capaian ini fantastis?

Justru itu yang saya kagumi bahwasanya kreatifitas itu tidak mengenal usia, tapi kalau kayak saya sekarang udah 50-an tahun, sebetulnya belum apa-apa, banyak loh orang yang umur 30-an tahun merasa putus asa, atau dia tidak berusaha untuk lebih gigih lagi berkarya. Nah, Pak Sapardi ini kalau soal puisinya okelah enggak usah kita bicarakan, tapi spiritnya itu loh, itu yang luar biasa.

 

Dan beliau itu tidak hanya produktif tapi masih terus bereksperimen, dan terus mencari. Makanya antara buku puisinya satu dengan yang lainnya itu tampak sekali perkembangan-perkembangannya. Sangat langka di Indonesia, penyair dengan usia setua itu tetep, bukan hanya produktif tapi juga kreatif. Tapi ini juga penghiburan bagi kami yang muda-muda ini.

 

Unsur eksperimental apa yang Anda lihat dari karya Sapardi ?

Terlihat misalnya dari “Duka-Mu Abadi”, ke “Mata Pisau” dan “Akuarium” itu beda. Dari “Akuarium” ke “Ada Apa Den Sastro” beda, ke “Babad Batu” beda lagi. Belakangan bahkan beliau lebih rileks kan, gayanya itu kayak anak muda, nah itu memang akhirnya saya merasa umur saya baru segini, belum apa-apalah masih ada waktu.

 

Baca Juga: Terlahir Kembali Sang Profesor Cinta

Apa menjaga konsistensi ini sulit bagi seorang pengarang ?

Saya sendiri juga penasaran bagaimana dia berkonsentrasi menulis. Bagaimana beliau menjaga konsentrasi menulis, karena produktif sekali setelah usia 70-an itu, itu ngatur waktunya gimana. Kedisiplinan dia terbantu karena kesibukannya dia menjadi guru dan dosen. Dia itu dosen yang anomali juga sebenarnya. Periode awal puisinya itu ditulis di Malang.

 

Apa saja sajak Sapardi yang menurut Anda paling berhasil ?

Aku sebetulnya bahaya kalau menyebutkan, karena aku enggak mau merugikan Pak Sapardi dan penerbit. Tapi yang benar-benar aku mulai terpukau itu sejak mulai ada “Akuarium” “Mata Pisau” dan “Perahu Kertas”. Itu udah khasnya Sapardi. Ya memang Sapardi-nya di situ.

 

Sapardi pernah dikritik sebagai penyair salon, lalu itu dibuktikan dengan penulisan “Dongeng Marsinah” dan “Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996” ?

Seorang penyair pasti punya dorongan sosial. Tapi bagaimanapun dia, bukan penulis puisi sosial seperti Rendra. Karena sebagai puisi sosial Sapardi terlalu metaforis.

 

Pembaca merasa kesulitan dengan gaya puisi Sapardi yang prose-poem?

Dinamai apapun, ya itu menjadi relatif untuk karya sapardi. Tapi cerpen (Sapardi) yang aku baca tadi itu, aku anggap puisi bisa itu. Mungkin lebih puitis dari puisinya dia.

 

Genre puisi-prosais Indonesia diwarnai Sapardi?

Itu (namanya) karya hybrid, ada unsur puisi, ada unsur prosa. Itu hebatnya Sapardi, pengetahuannya itu diekspresikan dalam corak karya. Sapardi ini antara akademisi-penyair, karyanya itu nampak dari ia menyerap dari berbagai penjuru.**


Reporter: Andhika Dinata

Editor: Dani Hamdani 

 

 

Last modified on 23/03/2017

Share this article