K.H. Said Aqil Siroj: Jangan Jualan Allah dalam Politik 

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj (Dok Majalah GATRA)
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj (Dok Majalah GATRA)

Jakarta, GATRAnews - Video kampanye pasangan Ahok-Djarot menuai polemik. Dikritik lantaran dinilai mempertajam ketegangan sentimen agama dan etnis. Pendukung Ahok-Djarot membela sebagai gambaran kenyataan yang tak bisa ditutup-tutupi. Sentimen yang membawa-bawa agama dalam Pilkada DKI Jakarta makin menggiring masyarakat pada polarisasi tidak sehat. Warga terpecah menjadi dua kutub berseberangan. 

 

Nahdhatul Ulama (NU), sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, berusaha mendinginkan suasana. Memosisikan diri senetral mungkin. Meski di internal NU terjadi friksi dalam menyikapi persaingan pilkada, khususnya dalam kaitannya dengan kasus penodaan agama yang didakwakan kepada Ahok, hal demikian dipandang sebagai dinamika biasa dan bukan baru. 

 

Untuk mendalami sikap NU melihat polarisasi warga terkait dengan Pilkada DKI Jakarta, wartawan GATRA Rohmat Haryadi dan Aditya Kirana mewawancarai Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, Selasa lalu, di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Pewarta foto Jongki Handianto mengabadikan suasana. Berikut petikannya: 

 

Sentimen agama dalam kompetisi Pilkada DKI Jakarta makin kental. Bagaimana NU menyikapi? 

Islam adalah agama yang mulia, suci dan bermartabat. Kita berkewajiban memperjuangkan Islam dengan cara suci, bermartabat, dan mulia. Agama yang mulia jangan didakwahkan dengan cara kotor, tidak bermartabat, kasar dan teror. Itu malah mencoreng Islam. 

Ketika Nabi Muhammad masuk Makkah pada tahun ke-8 H, tadinya orang Mekah ketakutan. Dikira Nabi Muhammad akan balas dendam. Nabi Muhammad mengatakan, "Ini adalah hari kasih sayang, rekonsiliasi, semua saya maafkan." Orang Makkah masuk Islam semua. Orang berbondong-bondong masuk Islam karena kamu maafkan. Karena kamu santun, mereka simpati. Seandainya kamu kasar, congkak, mereka pasti meninggalkan. Itu prinsip. 

Ketika Nabi pindah ke kota Yastrib, 485 kilometer utara Makkah, Nabi membangun sistem. Nabi menjumpai masyarakat yang plural. Ada muslim pendatang, muslim pribumi, dan Yahudi. Semua penduduk Madinah diperlakukan sama tidak pandang bulu. Nabi memutuskan mereka satu umat, asalkan satu visi dan tujuan.  

Nabi Muhammad, pada 15 abad yang lalu, membangun negara yang dasarnya bukan agama dan suku. Nabi memperlakukan warga Madinah dengan sistem kewarganegaraan bukan kewargaagamaan. Semua sama. Di era modern ini namanya citizenship. Muwathonah bahasa Arabnya. Itulah misi Nabi Muhammad. Dan itu yang kami pegang teguh. NU berprinsip moderat, seimbang dan toleran. 

 

Itu sikap NU sejak awal bediri? 

Mbah Hasyim Asy'ari (pendiri NU) satu-satunya ulama di dunia, sejak tahun 1914, mengatakan hubbul wathan minal iman. Membela Tanah Air itu bagian dari iman. Itu kecerdasan. Nasionalisme Mbah Hasyim bukan nasionalisme sekuler. Beda dengan gerakan nasionalisme Arab. Gerakan nasionalisme Arab itu dimulai Michel Aflaq (Suriah) dengan Partai Baath yang sosialis-nasionalis-sekuler. Maka, ulama menolak nasionalisme.  

 

Saddam Husein, Hasan Bakr, Tariq Aziz, Gamal Abdel Nasser, Anwar Saddat, Moammar Khadafi, itu nasionalis, tapi tidak berhatikan agama. Ada lagi, agama yang tidak nasionalis. Ada Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, Hassan Hudaybi, Saleh Asmawi. Ketika bentrok, semua ulama besar ini digantung Gamal Nasser tahun 1964 di alun-alun. Kalau di kita enggak. Nasionalisme dan Islam sudah selesai oleh Mbah Hasyim Asy'ari. 

 

Presiden menyerukan pemisahan politik dan agama. 

Bukan berarti agama dibuang dari politik. Agama sebagai nilai unversal harus mewarnai. Umat Islam dalam keseharian harus berangkat dari agama. Tapi Islam jangan dijadikan kepentingan politik. Silakan jadi pejabat, tapi jangan ngomong, kalau enggak milih saya, kafir, neraka. Gusti Allah diajak kampanye. Iya kalau menang, kalau kalah? Sudah bawa-bawa Allah, kalah pula. Sangat berbahaya. 

 

Baca Juga: Dr. Haedar Nashir: Indonesia Terlalu Mahal Dipertaruhkan


Ini maksud pernyataan Anda, jangan bawa Tuhan dalam kampanye? 

Iya. Itu namanya jual Allah untuk politik. Sangat berbahaya. Kita sudah mapan. Tinggal tingkatkan budaya, ekonomi, pembangunan, kesehatan, dan pendidikan. Sudah selesai. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didasari Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Sudah, selesai. 

 

Di internal NU, ada perbedaan Rais Am, Wakil Rais Am dan Rais Syuriah dalam menilai kasus penodaan agama yang menimpa Ahok. Bagaimana Anda sebagai Ketua Umum PBNU melihat ini? 


Sebenarnya itu masalah khilafiyah (polemik). Itu debatable. Hanya sudah kecampur politik jadi kadang sudah kurang objektif. Terus digoreng untuk politik. Kalau tidak ada masalah Ahok, ayat itu didiskusikan, bisa melahirkan pandangan yang bagus. Jangan mengambil pemimpin Yahudi dan Kristen.  


Kenapa ayat itu turun? Konteksnya apa? Bisa jadi wacana ilmiah seandainya enggak ada Ahok. Coba kalau yang bahas Pak Quraish (Shihab) yang ahli tafsir, enak kedengarannya. Jadi, konteks ayatnya, jangan mengambil pemimpin dari Yahudi dan Kristen yang berkhianat. Ada imbangannya dengan ayat yang lain. Allah tidak melarang kamu berbuat baik, bersahabat dengan non-muslim yang tidak memusuhi kamu, tidak mengusir kamu dari negerimu. 


Apa hal itu yang melatarbelakangi hasil Muktamar NU di Lirboyo, pemimpin harus muslim kecuali darurat? 

Pada dasarnya, kriteria pemimpin tidak harus Islam. Yang utama harus adil. Karena kita mayoritas Islam, secara etik, kalau yang jadi bukan Islam, agak tersinggung. Kita bisa kaget, Jakarta gubernurnya non-muslim. Sama misalnya dengar kabar di Jeddah atau Riyadh pemimpinnya non-muslim. Tapi kita balik lagi ke prinsip citizenship tadi. Semua warga negara berhak menjadi presiden, gubernur, bupati, dan sebagainya. Menang atau tidak, itu urusan lain. 

 

Senin lalu, PBNU menerima Ahok-Djarot. Apa artinya?

Semua tamu ke sini, monggo. Anies sudah ke sini. Dulu Agus dan Silvy sudah ke sini. Prabowo ke sini. Pak Jokowi ke sini. Lha wong cuma ke NU aja kok, bukan ke partai politik. Seratus kali ke sini, kalau enggak ada kendaraan partai politik ya enggak bisa nyalon. Ke sini cuma sekadar tamu, diskusi, canda-canda. Saya dukung? Enggak ada gunanya. Lha wong bukan partai politik. 


Bukannya NU 'punya' PKB dan PPP yang juga mendukung Ahok? 

PKB dan PPP bukan elemen NU. PKB dan PPP partai politik mandiri. Kebetulan pengurusnya banyak orang NU. Tapi bukan sayap NU. Sayap NU itu Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU. 


Ketika mengambil keputusan politik, mereka tidak diskusi dengan NU? 

Diskusi boleh-boleh saja. Kalau Muhaimin (Ketua Umum PKB) mau ambil keputusan politik lalu diskusi dengan saya, ada masalah? Enggak ada. Atau Djan Faridz atau Romy atau Setya Novanto ke sini. Ya namanya tetangga, namanya teman. Tapi kaitan secara formal organisasi enggak ada. Tapi kalau Ansor, Fatayat melawan PB (PBNU), bisa saya ancam. 


Penerimaan Ahok itu bukan tindak lanjut setelah Ansor menerima Ahok? 

Bukan, bukan, bukan. Semua boleh ke sini. Silakan. Guyon-guyon. Enggak ada yang serius kok. Kalau sowan politik, serius. Bagaimana supaya lawan kalah, apa strateginya, bagaimana saya menang. Itu baru serius. Bicara soal saya menang dan lawan kalah, (di sini) enggak ada. 


Bagaimana arahan untuk warga NU? 

Semua warga NU saya imbau melaksanakan pilkada damai, tenteram, santai. Di PBNU sendiri, ada yang ke Ahok ada yang ke Anies. Simpati pribadi. Eggak apa-apa. Guyon-guyon saja. Waktu pemilu presiden, saya cenderungnya ke Prabowo, Pak As'ad (Waketum PBNU) ke Jokowi. Ya santai-santai saja. 


Atau strategi yang dipasang memang seperti itu? 

Enggak. Enggak ada politik-politikan. Kembali ke khitah. Kalau ada orang NU mencalonkan diri menjadi apa pun, itu bukan atas nama NU. Siapa pun boleh sebagai warga negara. 


Tidak ada kekhawatiran pasca-pilkada konflik sosial akan berkepanjangan? 

Khawatir harus ada, agar tidak lengah. Tapi pada dasarnya, jangan di-blow up, jangan dibakar-bakar, jangan dihasut. Jangan ada provokasi. Tanya tukang bakso, sopir bajaj, tukang rujak di depan itu, mau ribut atau mau tenang? Pasti mereka mau tenang. Mana ada orang kecil maunya ribut. Itu permainan politik yang bikin ribut. 


Laporan Khusus Majalah GATRA No 24 Tahun XXIII, Beredar Kamis, 13 April 2017

Pesan di GATRAkiosk

 

Last modified on 19/04/2017

Share this article