Mengapa Truk Jadi Predator Jalanan?

Semarang, GATRANews - Kejadian kecelakaan truk yang terus terjadi akhir-akhir ini seolah-olah semakin melegitimasi, bahwa truk-truk yang berseliweran di jalanan di seluruh Indonesia identik dengan monster predator jalanan yang sangat menakutkan. Ironisnya melonjaknya jumlah kecelakaan truk justru terjadi pada tahun dimana Kementerian Perhubungan RI sedang berusaha mempopulerkan slogan " Truk Pelopor Keselamatan Berlalu - lintas ".


Sebenarnya apa sih penyebab sering terjadinya kecelakaan truk yang sudah sampai pada tingkat sangat mengkhawatirkan dewasa ini? Fenomena apakah yang sedang terjadi di dunia angkutan truk di Indonesia?

Jika kita bicara dari sudut teknologi truk, tentunya truk-truk yang diproduksi pada dasawarsa terakhir ini sudah semakin baik dari segi safety ( keselamatan ). Walaupun dalam beberapa kasus kecelakaan truk selalu saja rem blong lah yang menjadi kambing hitamnya. Tapi apakah benar, bahwa rem blong adalah satu-satunya penyebab mayoritas terjadinya kasus kecelakaan truk?

Mungkin ada baiknya kita telaah lagi faktor lain selain faktor teknis tadi.

Pertama, kecepatan pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak diimbangi oleh penambahan infrastruktur jalan.
Memang saat ini Presiden Jokowi banyak sekali melakukan pembangunan infrastruktur jalan di seluruh Indonesia, namun pemerintah juga seolah-olah melupakan perawatan jalan-jalan yang sudah lama ada. Sehingga ketika ada jalan baru dibuka, masyarakat langsung enggan menggunakan jalan lama yang sudah tidak karuan keadaannya.
Karena jalanan yang tidak terawat, selain membahayakan keselamatan berkendara juga menjadi kegemaran perampok/begal jalanan untuk tempat beraksi.

Kedua, kepadatan, kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas yang terjadi dimana-mana telah merubah perilaku pengguna jalan menjadi lebih emosional, seenaknya sendiri dan cepat lelah. Pengguna jalan makin sering terlihat saling bentak/intimidasi, saling serobot, saling pepet, bahkan tak jarang terjadi saling pukul.

Ketiga, semakin turunnya pendapatan para sopir truk belakangan ini sering memicu keributan dalam rumah tangganya, akibat tuntutan dari istri dan anak, karena semakin naiknya kebutuhan pokok rumah tangga.
Dalam kondisi psikologis yang kacau balau, mustahil seorang sopir truk bisa mengemudikan truk nya dengan baik. Memang secara teknis sudah banyak sopir truk yang sangat terlatih, berpengalaman dan bahkan bersertifikat.
Namun sisi psikologis mereka tidak membaik, malah sebaliknya.

Memang sudah bukan rahasia lagi, ketika iklim usaha sedang buruk dan pabrik dipaksa untuk bertahan hidup dengan melakukan efisiensi, secara otomatis pabrik akan menekan penyedia jasa transportasi. Setelah pengusaha angkutan truk tidak menemukan celah lagi untuk bisa melakukan efisiensi pada semua komponen biaya, penghasilan sopir truk lah yang berada pada posisi paling akhir untuk didepresiasi.

Mengapa demikian ?

Ya, karena hal itulah memang satu-satunya yang bisa dilakukan, ketika pengusaha truk yang terbeban kewajiban cicilan kredit sudah merelakan tidak mendapatkan penghasilan dari operasional truk ( hanya berharap mendapat truk nya saja di akhir masa kreditnya nanti ), semakin naiknya harga ban, spare parts dan oli yang tidak bisa diimbangi dengan kenaikan ongkos muatan, akibat tekanan dari pengguna jasa truk yang hanya menyetujui kenaikan ongkos muatan jika PERTAMINA menaikkan harga bahan bakar saja.

Kebijakan pemerintah yang tidak pernah berpihak pada pengusaha truk juga ikut memperparah kondisi dunia angkutan truk. Semakin seringnya larangan operasional truk di hari-hari libur nasional, kenaikan pajak plat kuning dari 50 menjadi 80 persen, ketidakpastian pelaksanaan PM 134 tentang Overtonase dan Overdimensi.

Pemerintah seolah-olah terlalu memposisikan pengusaha angkutan truk sebagai musuh yang senantiasa harus selalu dijaga jarak, dijadikan kambing hitam dan ditakut-takuti dengan berbagai peraturan.

Seharusnya pemerintah bisa lebih menghargai keberadaan perusahaan angkutan truk yang menjadi salah satu pilar pembangunan nasional, dengan lebih mengayomi dan membimbing seperti layaknya orang tua terhadap anaknya.
Sebab hampir semua pengusaha truk mengawali pekerjaannya dari trial and error dan secara tidak sengaja lama-lama menjadi besar tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang aturan, hukum dan manajerial.

Jadi dunia usaha angkutan truk di Indonesia bisa dibilang seperti survival in the jungle  saja.

Saya yakin jika pemerintah mau melakukan pembinaan dengan cara pendekatan kepada pengusaha angkutan truk, maka kesemrawutan dalam dunia angkutan truk  ini akan bisa terselesaikan dan dijamin pengusaha truk nya pun tidak lantas bersikap tidak hormat kepada pemerintah.

Tidak selalu pemerintah harus berpikir tentang "efektifitas" saja dan pengusaha harus berpikir tentang "efisiensi" saja.



Chandra Budiwan

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Jateng

 

 

 

 

Share this article