NTB antara Indonesia-Amerika

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi (Antara/Andika Wahyu/AK9)

Jakarta, GATRAnews – ''Saya datang ke sini, ke Amerika, untuk belajar sesuatu dari Amerika. Bukan sekedar Amerika sebagai sebuah negara, atau bangsa, atau orang, tetapi juga Amerika sebagai kerangka berpikir, Amerika sebagai pusat ide.''

(Soekarno, kunjungan ke Amerika, Mei 1956)

Saya sedikit surprise ketika mengetahui, minggu lalu, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dipilih sebagai lokasi perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS) ke-241 di Indonesia. Ini kehormatan dan kebanggaan bagi pemerintah daerah dan segenap masyarakat NTB. Terlebih lagi ketika Yang Mulia Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr., menegaskan bahwa Lombok dipilih karena kemajuan pembangunan pariwisatanya, pesona dan keindahannya, serta kebaikan dan keramahan warganya.

Di awal tulisan ini, saya mengutip perkataan Soekarno, Presiden pertama RI, saat menjejakkan kakinya di Washington Military Airport, 16 Mei 1956, 61 tahun lalu. Ketika itu, Wakil Presiden AS, Richard Milhous Nixon, membuat perbandingan antara Soekarno dan George Washington, Bapak Bangsa Amerika. "Anda telah memimpin rakyat untuk merdeka dari penjajahan,'' ungkap Nixon, ''Dan sekarang dalam masa damai, Anda terus memimpin rakyat Anda untuk meraih prestasi baru."

Sementara itu, Presiden Dwight David "Ike" Eisenhower, dalam jamuan makan siang di Gedung Putih, menyatakan bahwa Amerika dan Indonesia sama-sama bekas koloni yang pada awal-awal masa kemerdekaannya menghadapi sejumlah tantangan yang sulit dipecahkan. Namun, kedua bangsa mampu bertahan menghadapi masa-masa sulit dan menjawab tantangan demi tantangan untuk terus melangkah ke depan.

Bangsa Pejuang

Sebagai bangsa, Amerika dan Indonesia boleh dikatakan sama-sama bangsa pejuang. Kedua bangsa besar ini memperoleh kemerdekaan dengan pengorbanan besar. Bukan hadiah atau rekayasa dari kolonial. Kesadaran bahwa kemerdekaan diperoleh dengan pengorbanan yang besar menjadikan Amerika dan Indonesia muncul sebagai bangsa yang menghargai betul kemerdekaan bangsa lainnya. Bagi Indonesia dan Amerika, kemerdekaan adalah hak mutlak setiap bangsa dan hak asasi setiap individu manusia.

Pada 4 Juli 1776, 13 koloni di Amerika menyerukan independensinya atas Inggris. Pamflet "Common Sense" dari Thomas Paine adalah inspirasi utama kemerdekaan itu. Pamflet ini menandaskan bahwa kemerdekaan adalah hak asasi setiap manusia. Dikumandangkanlah "Declaration of Independence", sebuah pernyataan terbuka kemerdekaan Amerika yang kemudian menjadi inspirasi banyak bangsa lainnya di dunia. Saya kutip satu bagian dari "Declaration of Independence" yang menyebut bahwa, ''All men are created equal; that they are endowed by their Creator with inherent and inalienable Rights; that among these, are Life, Liberty, and the pursuit of Happiness."

Ratusan tahun setelah deklarasi kemerdekaan Amerika itu, bangsa Indonesia juga merdeka. Para pendiri republik dengan tegas menyatakan pada Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pendiri republik juga menandaskan bahwa kemerdekaan itu terjadi ''atas berkat rahmat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa''. Satu landasan spritual berbangsa dan bernegara yang sangat mendasar, yang sebagaimana juga bangsa Amerika, saya yakini memilikinya.

Sebagai sesama bangsa pejuang, yang meraih kemerdekaan dengan pengorbanan besar, bangsa Indonesia dan Amerika tumbuh sebagai bangsa yang aktif mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa lainnya. Indonesia pernah mengelar konferensi Asia-Afrika pada 1955, yang menggetarkan dunia. Konferensi yang memberikan pengaruh besar pada tatanan pergaulan antar bangsa yang mengedepankan sikap saling menghormati kedaulatan dan potensi besar masing-masing negara. Amerika juga demikian, sejarah mencatat peran aktif dan konstruktif negara adidaya ini dalam membangun kedamaian dunia.

Tantangan Bersama

Indonesia dan Amerika dihadapkan pada tantangan serupa: mengelola kemajemukan bangsa. Indonesia dan Amerika, tidak terbantahkan adalah bangsa yang dikarunia Tuhan keberagaman penuh warna. Keberagaman yang tidak dimiliki semua bangsa di dunia. Di Indonesia dan Amerika, hidup, tumbuh dan berkembang beragam suku, etnis, dan agama. Inilah dua bangsa yang hidup dalam dinamika keberagaman yang tinggi dan dinamis.

Amerika memiliki semboyan "E Pluribus Unum", yang bermakna out of many one, dari banyak muncullah satu. Indonesia punya Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu jua. Dua semboyan unik dan menarik ini tidaklah lahir dari ruang hampa sejarah, melainkan merupakan potret nyata yang melekat kuat pada peradaban dua bangsa besar ini.

Bagi Indonesia dan Amerika, keberagaman adalah keniscayaan. Keberagaman adalah potensi  besar untuk menopang kemajuan bangsa. Keberagaman juga sekaligus tantangan yang tidak ringan besar untuk tetap dijaga, dirawat, dan diletakkan pada porsinya yang tepat dan benar. Bagaimana mengelola dan menjadikan keberagaman itu sebagai energi yang positif untuk membangun sinergi bangsa adalah tantangan nyata yang Indonesia dan Amerika hadapi.

Menjawab tantangan ini jelas membutuhkan daya tahan yang kuat. Kedua bangsa harus terus saling menukar pengalaman, saling berbagi inspirasi dan mencari cara-cara baru yang inovatif dan produktif dalam mengelola keberagaman. Bersinergi adalah jawabannya.

Atase Politik dan Ekonomi Konsulat Jenderal Amerika Serikat, Jett Thomason, menyatakan kepada saya bahwa Indonesia dan Amerika merupakan tempat di mana banyak (kelompok) etnik dan agama hidup dengan damai dan harmonis. Ia memberikan contoh Lombok, sebagai tempat keberagaman itu hidup dan tumbuh secara wajar, sekalipun beberapa kali diuji oleh gejolak dan tekanan, keberagaman itu tetap mampu bertahan.

Selain tantangan mengelola keberagaman, Indonesia dan Amerika juga menghadapi tantangan yang sama dalam aspek menekan kesenjangan sosial di tengah pertumbuhan ekonomi kedua bangsa yang relatif stabil. Presiden Donald J. Trump dan Presiden Joko Widodo menyadari betul perkara ini. Presiden Joko Widodo mencanangkan tahun ketiga pemerintahannya itu sebagai ''tahun percepatan pembangunan'' dengan fokus pada tiga hal: pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial.

Dalam konteks ini, saya, sebagai gubernur di sebuah provinsi yang sedang terus memacu dirinya untuk tumbuh dan tumbuh, merasakan betul beratnya mengatasi kemiskinan dan kesenjangan ini. Sejumlah capaian pembangunan telah kami raih di NTB dan mendapat apresiasi publik yang luas. Bahkan saya atas nama masyarakat NTB, pada 2015, mendapatkan kehormatan besar sebagai satu-satunya gubernur di Asia yang memberikan testemoni di Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, atas keberhasilan NTB dalam percepatan pencapaian MDGs.

Kemiskinan-Kesenjangan NTB

Tetapi tantangan soal kemiskinan dan kesenjangan ini masih sangat besar di NTB. Dukungan penuh pemerintah pusat dan negara-negara sahabat sangat kami harapkan. Pemerintah dan lembaga donor dari Amerika, sejauh yang saya tahu, cukup banyak membantu pembangunan NTB. Salah satunya melalui program Millenium Chalenge Account (MCA) yang mendorong percepatan moderisasi sistem pengadaan pemerintah serta mendukung program kesehatan masyarakat, penguatan ekonomi warga, dan perintisan pengunaan energi terbarukan.

Kami di NTB berharap, dukungan pembangunan itu terus diberikan, bahkan lebih lagi ditingkatkan. Tantangan menjawab kemiskinan dan kesenjangan terlalu berat dan mustahil kami selesaikan sendiri. Persahabatan lebih kuat sampai di sini jelaslah terlihat bahwa Indonesia dan Amerika punya sejumlah kesamaan dan berhadapan dengan tantangan yang juga serupa. Etos sebagai bangsa pejuang adalah kesamaan penting yang dimiliki kedua negara. Inilah modal besar bagi kedua negara menjalin persahabatan yang abadi dan merajut kerjasama dalam segala bidang yang lebih konstruktif.

Indonesia dan Amerika adalah bangsa yang telah teruji zaman. Dinamika demi dinamika, bahkan benturan demi benturan, sudah dilalui kedua bangsa. Berbeda kepentingan dalam menyikapi suatu perkara global ataupun regional bukannya tidak pernah terjadi, tetapi perbedaan itu tidak akan mampu mengoyahkan persahabatan panjang kedua bangsa.

Perbedaan itu niscaya akan bisa diredam dan dikompromikan dengan memupuk semangat bersama tentang solidaritas antar bangsa. Kedua bangsa akan terus terus berusaha lebih fokus pada titik persamaan yang menyatukan dan membuang potensi perbedaan yang memisahkan.

Itulah semangat yang diwariskan dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya di kedua negara. Presiden Trump mengatakan, ''How good and pleasant it is when God's people live together in unity. We must speak our minds openly, debate our disagreements honestly, but always pursue solidarity." Presiden Widodo pun menyatakan, ''Sejarah telah mengajarkan kepada kita, kunci untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut adalah persatuan. Sekali lagi, persatuan."

Presiden Eisenhower, saat menyambut Presiden Soekarno beberapa puluh tahun yang lalu, menyatakan menegaskan bahwa rasa persahabatan antar-kedua negara lebih kuat daripada kecemburuan dan kebencian. Dan memang itulah yang terjadi sampai hari ini. Rasa persahabatan Amerika-Indonesia, berhasil mengalahkan kebencian dan ketegangan antar keduanya. Sekeras apapun benih ketegangan itu!

Bung Karno pun membalas pernyataan Eisenhower dengan bahasanya yang simpatik, ''Dua kali dalam sehari, saya telah menyatakan kekaguman saya untuk bangsa sebesar Amerika. Dan, saya berharap untuk memiliki lebih banyak kesempatan, tidak hanya selama kunjungan ini, tetapi dalam sepanjang hidup saya untuk mengungkapkan lagi dan lagi tentang kekaguman saya untuk rakyat Amerika yang besar.''

Dari NTB, saya pun memberikan ucap, ''Dirgahayu Kemerdekaan Amerika Serikat ke-241! Tetaplah menjadi bangsa yang besar dan memperlakukan bangsa Indonesia sebagai sahabat yang setara!''


Muhammad Zainul Majdi

Gubernur Nusa Tenggara Barat

 

Artikel ini dimuat di Majalah Gatra Edisi 30 Tahun XXIII, Tanggal 25-31 Mei 2017

Majalah Gatra dapat dibeli di sini

Share this article