Sudirman Said Buka Mulut Soal Calon Gubernur Jawa Tengah

Sudirman Said (Gatra/Drigo L. Tobing/yus4)

Jakarta, GATRAnews - Tangguh, jujur, kompeten, itulah figur pemimpin buat Sudirman Said. Bagi mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabinet Kerja Presiden Jokowi-JK itu kepemimpinan bukan soal rasa dan gaya, tapi juga amanah. Proses demokrasi yang melahirkan seorang pemimpin terang , tidak boleh terbalik: memoles figur yang sekadar popular namun terseok-seok di masa kepemimpinannya.

 

“Ada yang tersandung karena masalah korupsi, ada yang karena tidak mampu menunaikan janjinya ketika kampanye”, tukas jebolan Master Bidang Administrasi Bisnis George Washington University USA itu.

 

Said  meyakini dalam proses demokrasi saat ini masyarakat mampu menilai dan memilih karakter pemimpinnya sendiri. “Yang berani meluruskan berbagai kemencengan akan punya kans yang kuat,” tutur Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) itu.

 

Tak heran bila pria kelahiran Brebes, 16 April 1963 itu digadang-gadang maju sebagai salahsatu kandidat Gubernur Jawa Tengah pada kontestasi Pilkada serentak yang dihelat 2018 mendatang.

 

Sudirman mengaku siap saja tampil menjadi figur penantang Gubernur petahana Gandjar Pranowo. Beberapa nama yang disebut akan tampil di antaranya mantan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Djafar.

 

“Saya menyikapi kemungkinan (maju) ini sebagai pembuka ladang amal dan pengabdian yang baru,” ucapnya mantap ketika diwawancara di kantornya Institut Harkat Negeri (IHN) di kawasan Tirtayasa, Kebayoran Baru, awal Juli lalu. Berbekal segepok pengalaman di dunia birokrat, bisnis dan usaha, mantan Direktur Utama PT. Pindad itu optimis membuka jaring pencalonannya di Pilkada Jateng.

 

Berikut petikan wawancara Sudirman Said dengan wartawan GATRA Andhika Dinata :


Maju dalam kontestasi Pilgub Jateng, apakah Anda sudah melakukan penjajakan dan komunikasi politik dengan partai pendukung?

Dalam perjalanan hidup ini saya banyak berhutang budi pada masyarakat, pada Pemerintah sehingga saya bisa menjalankan berbagai tugas dan amanah hingga saat ini. Nah, dari perjalanan mengemban tugas-tugas pelayanan publik selama ini, saya berkesempatan menjalin persahabatan dengan banyak kalangan, termasuk para Pemimpin Partai Politik.

 

Dalam berbagai forum interaksi, baik formal maupun non formal, beberapa kali terjadi diskusi untuk menjajaki kemungkinan maju ke Pemilihan Kepala Daerah, khususnya di Jawa Tengah. Saya menyikapi kemungkinan ini sebagai pembuka ladang amal dan pengabdian yang baru, mengingat saya tidak punya pengalaman berpolitik praktis. Tetapi jika panggilan itu datang, saya akan persiapkan sebaik-baiknya. Saat ini saya sedang belajar memasuki dunia baru itu.


Dalam rangka dukungan sudah ketemu siapa saja ?


Saya mendapat dorongan dari banyak pihak termasuk dari teman dan kolega. Ada dari kalangan parpol, birokrat, pengusaha, aktifis penggerak LSM, aktifis antikorupsi dan sebagainya. Ini baru tahap awal, perlu waktu, perlu proses untuk menjajaki.


PAN disebut tertarik mencalonkan Anda Pilgub Jawa Tengah. Benarkah demikian?

Dari kawan-kawan Pemimpin PAN saya mendengar hal itu, baik di Pusat maupun di Wilayah. Saya syukuri sebagai kepercayaan. Tetapi saya yakin, seluruh Partai Politik yang punya legitimasi untuk mengajukan calon, memiliki banyak opsi dan nama-nama. Dan yang akan dipilih pasti yang terbaik. Memilih pemimpin daerah yang terbaik bagi Jawa Tengah akan menjadi agenda penting.


Sudah ketemu Ketua Umum PAN ?

Kontak secara individu terjadi. Tapi saya ketemu secara langsung dengan pengurus lengkap belum ada.


Seberapa besar keyakinan Anda mendapat modal dukungan Parpol ?

Saya tidak bisa menilai diri saya, atau seberapa besar dukungan kepada saya. Kita tahu kontestasi memilih Kepala Daerah adalah kombinasi antara kekuatan figur dan kekuatan instrumen politik di masyarakat. Keduanya saling melengkapi dan saling memperkuat. Semakin figurnya kuat, semakin dikenal (popular) dan semakin besar potensi keterpilihannya, akan semakin kuat dukungan dari partai-partai.

 

Tugas saya adalah berikhtiar sebaik-baiknya untuk mempermudah Partai-partai politik dalam memilih calon terbaik. Kita menyadari keterkenalan, electability, keterpilihan seseorang dengan Parpol itu sesuatu yang harus ada “resonansi”. Semakin figur itu mempunyai keterkenalan maka peluang (dukungan) itu akan besar.


Apakah ada target koalisi potensial atau mesin parpol untuk memajukan Anda dalam Pilgub nanti ?

Masih banyak waktu untuk melihat peta politik ke depan. Saya yakin para pimpinan Parpol memiliki pertimbangan dan wisdomnya untuk menyusun konfigurasi koalisi politik di Jawa Tengah.


Apakah sudah menyiapkan calon pendamping ?

Masih banyak waktu untuk melihat peta politik ke depan. Saya yakin para pimpinan Parpol memiliki pertimbangan dan wisdomnya untuk menyusun konfigurasi koalisi politik di Jawa Tengah.


PAN disebut punya minat untuk memajukan Marwan Djafar, lalu bagaimana peluang Anda digandeng PAN ?

Mas Marwan, sahabat saya sejak kami masih sama-sama di Kabinet Presiden Joko Widodo – Wapres Jusuf Kalla. Kami sering berdiskusi. Beliau politisi senior dan basisnya Jawa Tengah.Wajar kalau banyak Partai Politik mempertimbangkan kemungkinan itu. Untuk kepentingan rakyat Jawa Tengah, akan bagus jika Jateng punya stok calon-calon berkualitas. Semakin banyak calon kepala Daerah berkualitas, jujur, kompeten, dan berani melakukan terobosan, semakin baik untuk rakyat Jawa Tengah.


Apakah ada kemungkinan berduet dengan Marwan Djafar nantinya?

Saya sering berdiskusi dengan Mas Marwan, dalam spektrum yang lebih luas dari sekedar Pilkada Jateng. Segala kemungkinan dapat terjadi.


Bagaimana gerilya politik yang Anda lakukan untuk meraih simpati dan dukungan akar rumput mengingat Jateng dikenal sebagai basis dan kantong suara PDIP dan Gubernur incumbent Ganjar Pranowo?

He he he… yang gerilyawan betulan adalah pemilik nama asli saya Panglima Besar Soedirman. Sudirman Said bukan gerilyawan. Saya seorang profesional yang kebetulan menjalani dunia aktivis pergerakan. Yang saya kerjakan sejak dulu silaturahmi, diskusi dengan sebanyak mungkin komunitas. Tugas saya adalah mengenalkan diri dengan sebanyak mungkin lapisan, sebanyak mungkin warna dan afiliasi politik. Partai politik apapun pasti akan mencari kandidat terbaik dalam ukurannya masing-masing.

 

Dalam situasi sekarang, masyarakat akan kembali mencari figur yang kuat dalam prinsip dan kompetensi dalam menjalankan perannya sebagai Pemimpin Jawa Tengah. Yang benar-benar jujur, kompeten, paham masalah, dan berani meluruskan berbagai kemencengan akan punya kans kuat. Pekerjaan rumah kita semua adalah bagaimana membuat figur jujur dan kompeten itu dikenal luas oleh masyarakat.

 

Prosesnya tidak boleh terbalik: memoles figur yang sekedar popular. Tetapi setelah duduk dalam kepemimpinan terseok-seok, karena masalah korupsi,karena tidak mampu menunaikan janjinya ketika kampanye. Yang jadi korban adalah masyarakat banyak, rakyat pemilik kedaulatan.


Ada strategi khusus menggarap dukungan di basis dan kantong-kantong suara PDIP ?

Perlu diingat dalam Pemilu Legislatif memang partai yang menjadi basis, kemudian orang yang dicalonkan oleh partai itu yang akan dipilih. Dalam eksekutif itu memilih orang. Jadi tidak selalu yang pemilihnya hijau itu akan memilih yang warna hijau. Ada fenomena sendiri. Oleh karenanya kekuatan figur itu sangat penting. Jateng adalah basis dari PDIP. Tugas kita untuk meyakinkan warna itu, tergantung komunikasi dengan masyarakat.

 

Bagaimana Anda melihat situasi terkini Jateng?
Jateng punya tradisi kantong-kantong pejuang dari Banyumas, Pulorejo, Magelang, banyak sekali tokoh-tokoh nasional yang muncul dari pergerakan di wilayah ini. Potensi Jateng menjadi Provinsi yang unggul itu besar sekali. Sumber ideologi, teknologi dan ekonomi masyarakat tumbuh dan bersumber dari sana.

 

Apa saja visi dan rencana perubahan yang Anda tawarkan jika berhasil maju dalam Kontestasi Pilgub Jateng ini ?

Saya sedang terus mempelajari peluang dan tantangan pembangunan di Jawa Tengah. Saya mendengar dari banyak tokoh senior Jateng. Banyak di antara mereka membicarakan soal kemiskinan, pembangunan infrastruktur, lapangan kerja, juga soal pendidikan dan kesehatan. Jateng menyumbang 25% lebih populasi di Jawa, tetapi sumbangan dan peran ekonominya tidak sampai 20%. Dari 28 juta lebih rakyat miskin di seluruh Indonesia, Jateng menyumbang 15% nya. Jateng juga menyimpan sejumlah besar wilayah: kabupaten, kecamatan, dan desa-desa yang masuk dalam kategori wilayah miskin.

 

Ini semua adalah ruang perbaikan. Demokratisasi, telah membawa kita ke dalam sistem desentralisasi dan otonomi daerah. Dan ini suatu progress yang sangat baik, karena kemajemukan Indonesia memang hanya mungkin diurus dengan desentralisme. Tidak mungkin lagi negara semajemuk ini dikelola dengan pola pikir sentralisme. Jika para Pemimpin di Provinsi, termasuk para Gubernur dapat menjalankan peran sebagai Dirijen Orkestra para bagi “pemain-pemain terbaik” di kabupaten, kota, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat, maka dapat dibayangkan suatu lompatan hasil pembangunan di tingkat provinsi.

 

Kredibilitas pemimpin sangat menentukan. Kita meyakini pandangan bahwa Negara yang makmur dan adil, adalah gabungan dari provinsi-provinsi yang makmur. Dan Provinsi yang makmur dan adil adalah gabungan dari kabupaten-kota yang makmur dan berkeadilan. Karena banyak sekali di periode ini dimana Gubernur, Bupati dan Walikota itu masuk ke dalam kasus korupsi. Itu jadi warna baru.


Apakah kemenangan Anies Sandi turut menginspirasi Anda, fenomena Ex Menteri maju di Pilgub ?

Pilkada di DKI punya situasi dan tantangan berbeda dengan di tempat lain. Tentu saja kita perlu belajar dari wilayah manapun, termasuk DKI. Jawa Tengah akan punya situasi dan tantangan berbeda. Wilayahnya jauh lebih luas, penduduk dan pemegang hak pilih jauh lebih besar, dan disparitas antar kabupaten dan kota merupakan medan yang cukup menantang. Dalam kasus DKI, kemenangan Pak Anies-Pak Sandi karena faktor figur. Figur itu yang kini disukai masyarakat. Bahwa ia mantan Menteri iya, itu sangat membantu pengenalannya pada publik. Namun perlu diingat bahwa tantangan di Pilkada DKI itu berbeda dengan Jateng. Jateng itu terdiri dari banyak wilayah 35 Kabupaten/Kota, sementara DKI itu penduduknya terpusat dan menyebar rata. Secara psikologis dan sosiologis jelas berbeda, cara pengelolaannya juga berbeda.


Menjadi Ketua Tim Sinkronisasi Anies-Sandi saat ini apa ada peluang anda akan didukung Gerindra-PKS ?

Proses politik itu akan penuh dengan hal-hal yang tidak terduga. Saya bersyukur ditugasi Gubernur dan Wagub terpilih, Pak Anies dan Pak Sandi untuk memimpin Tim Sinkronisasi. Ini kesempatan “belajar” yang langka. Kesempatan baik untuk mempelajari banyak hal tentang pengurusan Pemerintah Daerah. Interaksi dengan teman-teman DPRD, para birokrat di Pemda, mendalami program kerja dan anggaran, hingga berbagai urusan investasi dan perijinan.

 

Saya mensyukuri setiap jalan yang dibukakan Tuhan untuk terus melanjutkan tugas-tugas menjadi pelayan masyarakat.
Kaitannya dengan interaksi partai pendukung Anies-sandi tentu saja ada, saya tak bisa menutupi itu. Tapi sejauh ini saya berinteraksi dengan mereka hanya sebatas dalam konteks tugas (Tim Sinkronisasi) ini. Sama dengan peluang dukungan dari Partai manapun. Peluang untuk didukung dan dicalonkan, akan berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan.


Banyak yang menyebut Anda didukung JK ?
Haha.. sebagai tokoh politik senior orang seperti Pak JK itu pasti membaca keadaan, kemudian melihat orang-orang juga.


Reporter: Andhika Dinata

Editor: Dani Hamdani 

 

 

 

Last modified on 16/07/2017

Share this article