Harapan dan Ketakutan di Pasar Modal

Agus B. Yanuar (Dok Sam.co.id/AK9)

Jakarta, GATRAnews - Bila di awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, IHSG mengalami koreksi sebesar -12,31% karena kinerja fundamental ekonomi, kinerja kabinet, dan pasar modal tidak sebaik yang diharapkan, sejak 2016 perbaikan makro dan kinerja emiten terlihat, dan mendorong IHSG naik sebesar 15,32% pada tahun 2016 itu.


Sepanjang semester pertama 2017 ini, IHSG melanjutkan momentum kenaikan yang terbentuk sejak 2016, dan memberikan imbal hasil sekitar +10% pada tingkat indeks 5.829 per akhir Juni 2017. Total arus dana asing yang masuk ke pasar saham mencapai Rp 17,3 trilyun, dan ke pasar obligasi sebesar Rp 96 trilyun.

Kinerja IHSG yang moncer itu dipengaruhi oleh faktor global dan kondisi domestik. Dari sisi global, pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini diperkirakan akan lebih baik, dari rata-rata tahun lalu sebesar 3% menjadi 3,3% tahun ini. Meskipun ada perlambatan dari Amerika Serikat, data menunjukan adanya perbaikan data-data ekonomi Cina dan Eropa. Dari sektor domestik, pertumbuhan PDB, surplus neraca perdagangan, stabilnya inflasi, serta suku bunga merupakan bukti adanya perbaikan kondisi ekonomi.

Sentimen investor global juga cenderung bullish sehingga merangsang risk appetite untuk berinvestasi di emerging market, dan Indonesia adalah salah satu pasar yang penting. Kondisi ekonomi global yang membaik juga meningkatkan permintaan atas energi dan barang-barang komoditas, salah satu ekspor utama Indonesia.

Pada saat yang sama, naiknya harga komoditas yang sangat ditentukan oleh harga minyak juga dipengaruhi oleh pengurangan pasokan /suplai minyak, terutama ketika OPEC berkomitmen untuk mengurangi output demi menjaga kestabilan harga.

Harga komoditas juga terbantu dari melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya. Terpilihnya Donald Trump pada awalnya diprediksi akan menguatkan dolar AS. Asumsinya adalah pemerintahan Trump akan lebih pro-business dan proteksionis. Namun, sejak awal tahun hingga akhir Juni tren dollar index menurun dengan rata-rata sekitar -99.65%.

Kenaikan IHSG juga dipicu oleh peningkatan peringkat Indonesia menjadi investment grade oleh S&P. Hal ini membuat Indonesia memenuhi syarat bagi investor-investor asing yang mengikuti pedoman S&P. Kombinasi dari data ekonomi yang baik dan peningkatan peringkat oleh S&P menjadikan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) diakumulasi oleh investor.

Kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar dari sektor perbankan, barang konsumsi, dan sektor utilitas memberikan kontribusi lebih dari 50% dari kenaikan indeks itu. Secara sektoral, penggerak utama indeks di paruh tahun 2017 adalah sektor perbankan (+18.7%) , industri dasar & kimia (+16.5%), dan infrastruktur (+13.3%). Sementara sektor yang menjadi penahan IHSG adalah konstruksi (-3.4%) dan agrikultur (-3.3%).

***

Prospek dari ekonomi global adalah pertumbuhan ekonomi yang tetap solid didukung oleh efisiensi dari kemajuan teknologi. Indikasi dari pertumbuhan ekonomi yang baik adalah PMI dari negara-negara ekonomi besar (Jepang, AS, Cina, dan Eropa ). Bukti lain yang menunjukan ekonomi solid adalah indeks perdagangan global yang dirilis oleh Morgan Stanley. PPI yang meningkat dari Cina menunjukan produsen sudah percaya diri untuk meningkatkan harga.

Dari sisi domestik, konsumsi rumah tangga tetap diandalkan. Ekspor bisa membaik dengan perbaikan ekonomi global. Defisit transaksi berjalan (CAD) sudah relatif aman.

Perbaikan ekonomi juga diikuti oleh kenaikan inflasi, tetapi kembali melemah karena harga minyak masih di level bawah, dengan rentang US$ 42-54/barrel. Inflasi yang belum kuat juga menyebabkan yield US Treasury 10 tahun masih berada di trading range. Diprediksi US Treasury akan mengalami kenaikan sesuai dengan rencana The Fed menormalisasi neraca, dengan menaikkan suku bunga secara bertahap (sebesar US$ 1.2-1.8 milyar selama beberapa tahun).

Implikasi dari kenaikan suku bunga ini menyebabkan pengetatan likuiditas, dan menyebabkan kontraksi pada pertumbuhan ekonomi. Tren kebijakan moneter ketat akan diterapkan pula oleh Cina dan Eropa. Bank Sentral Cina berencana membenahi shadow banking, dan diestimasi akan mengurangi penambahan likuiditas melalui wealth management product (WMP).

Bank Sentral Eropa juga memiliki rencana yang sama, dengan mengurangi pembelian obligasi pemerintah. Pertimbangan dari bank sentral untuk melakukan pengetatan adalah karena ada kekhawatiran inflasi yang akan meningkat sesuai dengan peningkatan ekonomi yang bisa menyebabkan overheating.

Tindakan-tindakan bank sentral yang berpotensi menekan pertumbuhan akan cepat direspons oleh pasar, dan difaktorkan ke dalam harga aset. Hal ini dikhawatirkan menyebabkan arus dana keluar dari negara-negara emerging market yang cenderung berisiko, termasuk Indonesia.

Dari sisi domestik, risiko yang patut dicermati adalah naiknya tekanan inflasi yang berdampak pada naiknya suku bunga dan turunnya daya beli masyarakat, potensi tidak tercapainya pendapatan pajak pemerintah (short fall), dan potensi pemangkasan anggaran, regulasi pemerintah yang sering berubah dan penyaluran kredit yang masih tertahan.

Meskipun demikian, dengan memfaktorkan potensi positif dan risikonya, secara konsensus pasar, IHSG tetap berpeluang untuk naik ke level 6.100-6.500, atau naik antara 15% - 22% di akhir tahun 2017 ini.


Agus B. Yanuar

Presiden Direktur PT. Samuel Aset Manajemen

 

Artikel ini dimuat di Majalah Gatra Edisi 37 Tahun XXIII, Tanggal 13-19 Juli2017

Majalah Gatra dapat dibeli di sini

Last modified on 17/07/2017

Share this article