AHY soal Yudhoyono Institute: Upaya Mencetak Pemimpin Bangsa

Agus Harimurti Yudhoyono (Gatra/Ardi Widi Yansah/yus4)

Jakarta, GATRAnews - “Dream Big–Workhard–Never Give Up”. Moto ini begitu melekat dari seorang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Belakangan AHY tampil jadi ikon yang memberikan motivasi kepada generasi muda untuk menjadi kandidat pemimpin masa depan. “Jadi kalau kita punya cita-cita dan impian jangka panjang, jangan pernah berhenti di sana, bekerja keras kita,” katanya.

Agaknya itu yang menjadi latar putera sulung Susilo Bambang Yudhoyono itu mendirikan lembaga kajian think tank yang dinamai “The Yudhoyono Institute” pada 10 Agustus 2017. Setelah memutuskan berhenti berkarir di dunia militer dalam rangka mengikuti kontestasi Pilkada DKI 2017 lalu, pria berpangkat terakhir Mayor Infanteri itu kini fokus menjajal kemampuan stategiknya di bidang konsultansi manajemen kepemimpinan. “Kalau gagal ketemu dengan surutnya, ketemu dengan dukanya, kita harus bangkit,” ucap AHY yang menganggap kekalahannya di Pilkada DKI sebagai bagian pembelajaran baru.

Dalam usia yang relatif muda, 39 tahun, AHY memang dikenal punya kemampuan yang cukup mumpuni di dunia militer dan kepemimpinan. Selain meraih bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akademi Militer 2000, peraih gelar master di Bidang Strategic Studies dari RSIS, Nanyang Technological University Singapura, Harvard University dan Webster University Amerika itu, juga kaya pengalaman dan jam terbang di tingkat nasional maupun global.

Wawasan kepemimpinannya kian terasah ketika menjadi bagian dari pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), AHY juga ikut andil dalam mendirikan Universitas Pertahanan dan Indonesia Peace and Security Center (IPSC).

Berikut petikan wawancara wartawan GATRA Andhika Dinata dan pewarta foto Ardi Wirdiyansyah dengan pria yang doyan desain seni interior itu. Wawancara berlangsung di Kantor Yudhoyono Institute, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, pada pertengahan September (11/9):

Dari mana ide membangun Yudhoyono Institute ini?
Ide untuk membangun institute sebuah lembaga kajian yang bersifat independen, non partisan. Itu sudah cukup lama, saya tentu saja berdiskusi dengan Pak SBY, beberapa saat yang lalu, jauh sebelum didirikannya pada tanggal 10 Agustus kemarin, tapi tentunya ketika itu saya masih di militer. Saya hanya membantu menyampaikan gagasan-gagasan saya kepada Bapak. Karena saya punya pengalaman berkuliah atau berpendidikan di sana-sini. Saya juga cukup banyak pengalaman mengikuti program-program serupa, sehingga baik saya sampaikan kepada Bapak sebagai sebuah ide besar.

Ternyata jalan hidup saya berubah begitu cepat, keluar dari militer masuk ke dunia yang baru, waktu itu tentu dalam konteks Pilgub DKI Jakarta, tidak berhasil. Tapi saya setelah itu segera bangkit dan merasa sebetulnya banyak hal yang telah kita lakukan sekarang terutama dalam berkontribusi terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Ideal sebenarnya tujuan besarnya, tetapi saya ingin melakukan “small things” hal-hal kecil yang bernilai untuk kita semua. Akhirnya saya mengingat kembali ide pembangunan institute ini dan saya coba untuk merealisasikannya.

Saya mencoba mendefinisikan dari prinsip-prinsip dasar dari Yudhoyono Institute ini, kemudian sudah mulai mengelaborasikan itu menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih praktis, benar-benar punya kontribusi nyata dan akhirnya itulah menjadi tonggak awal dan saya bersyukur bisa menjadi Direktur Eksekutif di Yudhoyono Institute ini kemudian bisa secara langsung menanganinya.

Yudhoyono Institute punya concern di bidang apa saja ?
Jadi kita punya tiga (3) pilar. Pertama yaitu: liberty atau kemerdekaan atau freedom. Kedua, prosperity atau kesejahteraan dalam arti luas. Ketiga,  keamanan atau perdamaian. Tiga pilar itu yang menurut saya sangat kontekstual dengan kondisi sebuah bangsa yang diharapkan bisa maju dan mensejahterakan seluruh rakyatnya. Tanpa kebebasan tentunya kebebasan yang bertanggung jawab, kita adalah Negara Demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat tentu patut sesuai dengan semangat Reformasi 1998, kita ingin menghadirkan Negara yang benar-benar Demokratis.

Dengan demokrasi yang baik, yang matang, yang bertanggungjawab, kita berharap melahirkan Pemimpin-pemimpin terbaik di Negeri ini, di semua level dan semua profesi. Kita juga sangat concern bahwa kebebasan itu juga harus dibarengi dengan kewajiban yang mutlak juga. Bahwa tidak boleh atas dasar kebebasan kemudian semena-mena tidak bersimpati terhadap perbedaan yang ada di Negeri kita, padahal kita tahu Negara kita sangat-sangat majemuk. Oleh karena itu semangat Demokrasi ini harus ditata dan diletakkan dalam konteks yang tepat. Tidak boleh atas nama Demokrasi sekali lagi kita mencabik-cabik nilai kemanusiaan.

Contohnya bertebarannya berita hoax, fitnah, black campaign, menghabisi reputasi dan kredibilitas seseorang. Itu tidak boleh, karena itu merusak very essense of democracy.

Agus Harimurti Yudhoyono (Gatra/Ervan/yus4)

Kedua, kita bicara prosperity. Kita tahu tanpa kesejahteraan, baca: pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan, maka tidak mungkin Negara kita menjadi Negara maju yang benar-benar bisa dinikmati oleh semua. Indonesia for all, harus milik semuanya. Kita senang ada saudara kita yang makmur hidupnya, tapi tidak boleh juga ada yang tertinggal, no body should live behind, harus diangkat juga mereka dari garis kemiskinan sehingga tumbuh bersama-sama, makmur bersama-sama, ini tugas yang diemban Pemerintah tentunya. Termasuk Yudhoyono Institute ingin berkontribusi positif dengan mengembangkan gagasan-gagasannya terkait dengan apa yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi misalnya, bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan yang semakin luas, bagaimana mengentaskan kemiskinan juga mengatasi isu ketimpangan sosial, dan lain sebagainya.

Pilar terakhir security. Kita tahu tanpa ada kemananan kita pasti carut marut, akan terjadi gesekan-gesekan di antara kita. Ingat Negara kita adalah Negara yang penuh dengan sejarah konflik, baik itu horizontal maupun vertikal. Kita harus bisa menjaga itu semua. Kita juga ingin menjadi warga dunia yang lebih bertanggungjawab lagi. Kita tahu situasi Asia Pasifik sekarang tidak menentu. Korea Utara misalnya menciptakan instabilitas di kawasan Asia Pasifik. Di ASEAN sendiri ada isu Rohingnya dan Myanmar, mengkhawatirkan. Isu keamanan akan tetap relevan meskipun kita tahu sudah semakin kecil kemungkinan perang terbuka antar Negara.

Banyak anggapan ini menjadi lembaga politis?
Orang berspekulasi apakah ini tujuannya ? Apakah ada motif politik dan lain sebagainya. Saya mengatakan wajar orang berspekulasi A dan B, kita kembali ke tujuan awal dibangunnya Institute ini karena saya ingin menjadi bagian dari elemen bangsa yang terus berkontribusi dalam pemikiran, gagasan, dan aksi nyata.

Apa yang membedakannya dengan lembaga kajian lainnya, dulu ada CSIS, Wahid Institute, dan Habibie Center ?
Ya saya berkomunikasi langsung dengan Mba Yenny Wahid sebagai pemimpin Wahid Institute, memang fokus di isu pluralism dan juga perempuan. Kemudian Habibie Center dengan Mas Ilham Habibie. Jadi ada persamaan, ada juga perbedaannya. Nah, saya mencoba untuk menjalankan Yudhoyono Institute ini dengan berpegang pada tiga (3) pilar tadi, dan saya sudah minta restu kepada beliau-beliau agar kita berkolaborasi dan bersinergi.

Yang menjadi keunggulan kita adalah The School of Leadership and Management. Kita punya program-program pelatihan kepemimpinan ditujukan kepada generasi muda. Tapi tidak hanya itu kita juga punya nanti Meet Carier Professional Programs jadi yang sudah punya pengalaman profesional, mungkin usianya di 30-40 an. Kalau tadi yang Youth Programs dari 18-24 tahun. Tapi juga ada yang senior executive, untuk CEO dan lain sebagainya.

Mengapa kita berkali menekankan leadership dan management dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena bagi saya, saya Alhamdulillah juga punya cukup pengalaman dalam hal kepemimpinan. Selain 16 tahun di militer, saya juga banyak belajar tentang leaderhip in many others profesion. Ternyata prinsip-prinsip kepemimpinan itu berlaku universal di Indonesia, di Amrik, di Tiongkok, di manapun, punya yang namanya kepemimpinan. Saya yakin betul kalau generasi muda ke depan punya kualitas kepemimpinan yang unggul maka dia dapat mengeksplorasi semua potensi yang dimilikinya; potensi intelektual, karakter yang tangguh, kualitas kepemimpinan yang efektif, maka itu akan melipatgandakan outcome dari semua keunggulan yang kita miliki.

Jadi ini akan fokus mencetak kader pemimpin ?
Keunggulan dari Yudhoyono Institute ini juga ingin mencetak kader-kader Pemimpin di masa depan. Fokus utamanya Generasi Muda, saya dianggap mewakili generasi muda karena usianya di bawah 40. Tapi saya juga atas nama Yudhoyono Institute saya mencoba mengunjungi daerah-daerah. Alhamdulillah saya mendapat undangan-undangan yang banyak dari kalangan kampus dan organisasi kepemudaan. Mereka ingin saya memberikan pandangan dan visi jangka jauh yang juga bisa memotivasi anak-anak muda, adik-adik kita ini untuk belajar lebih serius, bekerja dan mengeluarkan potensi yang dimilikinya. Saya kemana-mana membawa tema Indonesia Emas 2045, seratus tahun setelah Indonesia Merdeka, kita berharap Indonesia menjadi Negara yang maju dan mendunia.

Menurut Anda apa saat ini di Indonesia terjadi penurunan minat dan kualitas kepemimpinan ?
Saya tentu tidak dalam posisi melakukan penilaian satu persatu terhadap kepemimpinan Indonesia, tentu ada yang baik, ada yang belum baik, saya yakin itu adalah realitas kehidupan. Oleh karena itu semangat dari Yudhoyono Institute ini adalah membantu menyiapkan kader-kader terbaik bangsa. Yang punya integritas, karakter pantang menyerah misalnya, sulit untuk kita ketemui sekarang, generasi milenial sekarang serba cepat, serba instan sehingga kadangkala menggugurkan semangat pantang menyerah yang sebenarnya menjadi warisan dari leluhur dan pendahulu kita. Jadi punya cita-cita dan impian jangka panjang, jangan pernah berhenti di sana, bekerja keras kita. Kalau gagal ketemu dengan surutnya, ketemu dengan dukanya, bangkit. Dan terus bekerja dan tidak boleh menyerah.

Bukankah menjadi seorang peneliti ini menjadi sesuatu yang baru bagi Anda ?
Saya kebetulan senang belajar. Ini sedikit memori saya menempuh perjalanan di militer, yang sangat kental dengan leadership. Tentu tantangannya berbeda, semenjak saya masuk di dunia politik, saya melihat berbagai peluang dengan tantangan-tantangan yang tidak ringan. Bisa dikatakan saya telah melampaui kawah candradimuka-nya kemarin dalam Pilgub DKI Jakarta. Saya 3,5 tahun di Akademi Militer Magelang itu adalah kawah candradimuka saya sebelum menjadi perwira profesional. Kemudian dalam waktu seketika saya masuk di kawah candradimuka yang menjadi sorotan dan atensi publik nasional yang luar biasa.

Saya tentu berjuang untuk menang waktu itu. Ketika kalah atau belum berhasil, lalu saya mencari hikmah. Itu saya anggap penggembelengan pertama di dunia saya yang baru. Kemudian bagaimana dengan Institute ini, saya mencoba memisahkan antara urusan Institute dengan politik. Institute ini independen, non partisan, tidak berbicara politik praktis.

Tetapi saya terkadang menggunakan berbagai topi. Topi saya terkadang The Yudhoyono Institute, tapi ketika saya bertemu dengan lapangan bertemu dengan masyarakat saya juga menggunakan topi politisi, tapi saya coba pisahkan dengan baik. To be honest, dulu saya mencoba menjauhi politik, karena banyak orang-orang pintar juga melakukan hal yang sama. Saya lalu melakukan refleksi kalau politik diserahkan kepada mereka yang tidak punya kapasitas dan integritas lalu jangan menyalahkan bila Negeri ini tidak dipimpin oleh orang yang tidak punya kapasitas dan integritas, oleh karena itu mau tidak mau, suka tidak suka, kita juga harus berkontribusi.

Siapa saja yang dilibatkan dalam struktur organisasi ?
Kita punya organisasi bisa dikatakan slim, kecil bukan besar, tapi menurut saya efektif untuk menjalankan program-program kami ke depan. Nah di antaranya kami tentu running School of Leadership Management seperti yang kami sampaikan tadi. Nanti ada yang mengurusi itu. Kita juga punya majalah sendiri (majalah Strategi), semi journal, ditulis oleh sejumlah tokoh, baik itu akademisi, praktisi, policy maker, dimana kita fokus pada isu-isu politik, ekonomi dan keamanan.

Tidak hanya konteks lokal dan Nasional, tapi kita juga bicara tentang kawasan dan dunia. Di sinilah saya harap di sini menjadi melting pot, menjadi tempat bertemunya gagasan, pikiran dan pendapat dari berbagai elemen. Untuk program ke kampus dan pelatihan terus kami lakukan, seiring dengan upaya kami untuk melakukan kaderisasi. Sekali lagi ini non-partisan.

Untuk terlibat menjadi pembicara (Yudhoyono Institute), tidak harus dari Partai Demokrat, siapapun yang kita anggap pantas serta memiliki pengalaman untuk dicurahkan dalam tulisan ataupun tampil di forum yang kami selenggarakan, sangat mungkin. Jadi kami sekali lagi, karena dia orang partai tidak boleh berkontribusi, salah. Kembalikan bahwa kita punya politisi-politisi yang berkualitas dan patut kita mendengarkan apa yang menjadi wisdom dan pengalaman mereka itu justru kita berikan kesempatan.

Apa program perdananya ?
Jadi tanggal 10 Agustus kemarin kita meluncurkan Institute ini dan Majalah ini di Jakarta Theatre, besok paginya saya sudah terbang ke Kalimantan Timur. Saya diundang di sana, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur, di Kota Sangatta. Saya berbicara dengan berbagai elemen, mahasiswa, pelajar dan organisasi kepemudaan. Saya juga bicara tentang Indonesia Emas 2045. Kenapa saya berkali-kali menyampaikan tema ini ? Karena saya anggap 2045 itu akan sebentar lagi terjadi, 28 tahun dari hari ini, 100 tahun sejak Indonesia Merdeka kita sangat memiliki kemampuan dan potensi menjadi Negara yang maju dan sangat dihormati.

Kalau Indonesia bisa terus meningkatkan ekonominya dengan baik, menjaga stabilitas keamanan dalam negerinya, meningkatkan peranannya sebagai warga dunia yang semakin bertanggungjawab. Saya optimisme Indonesia akan menjadi Negara yang aman dan damai, adil dan sejahtera, maju dan mendunia. Itulah yang semangat yang saya bangun, jadi kemarin saya ke Kalimantan Timur, ke Jawa Timur, Jawa Tengah, kemudian ke tempat-tempat lainnya, saya 2 minggu lagi ke Sumatera Barat misalnya, juga ada undangan ke Aceh, Papua, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Bali, NTT, dan banyak lagi yang lainnya.

Salah satu program The Yudhoyono Institute ini adalah masuk ke kampus-kampus, dan bertemu dengan organisasi kepemudaan. Saya berharap juga bisa menyapa warga lainnya. Contohnya kemarin dalam kunjungan saya ke Semarang ke Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, kita juga sempatkan ke Ambarawa. Ambarawa adalah kota perjuangan, di sana saya melakukan dialog rakyat lintas generasi dan lintas profesi. Jadi sederhana yang menghadirkan 20-25 tokoh daerah setempat, yang paling muda umurnya 20 tahun yang senior 60 tahun.

Saya mendengarkan komunikasi mereka, saya menyimak dan mencatat apa yang menjadi concern dari mereka semuanya, dari perspektif masing-masing. Contohnya petani yang berharap bahwa hasil taninya bisa disalurkan dengan hasil yang baik, dari aspek kesehatan ada yang mengharapkan akses kesehatan itu bisa untuk semua, dari aspek pendidikan bagaimana nasib guru. Itu semua saya anggap sebagai masukan-masukan yang honest dari masyarakat, tanpa agenda-agenda tertentu. Sehingga itu menjadi kajian kami.

Outcomenya disalurkan kemana ?
Saya berharap demikian, tentu bisa melalui Pemerintah atau melalui lembaga lainnya yang memiliki kepentingan atau stakeholders lainnya yang relevan. Ini juga kita bangun komunikasi yang seperti ini, kalau sesuatu yang didapatkan dari masyarakat kemudian kita coba membuat analisa-analisa termasuk rekomendasi yang kira-kira bisa menghadirkan solusi, dan itu membutuhkan komunikasi yang baik. Sekali lagi kita tidak mensubstitusi peran siapapun.

Apa hasil diskusi terakhir Anda dengan Presiden Jokowi ?
Waktu itu kan saya datang ke Istana Tanggal 10 Agustus, saya sebetulnya datang dalam rangka meminta doa restu ke beliau. Dan Alhamdulillah beliau menerima saya dengan sangat baik. Kurang lebih 1,5 jam lebih saya diterima, dan kita berdiskusi. Waktu itu belum diluncurkan Yudhoyono Institute. Tetapi diskusi kami pada waktu itu, saya mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden tentunya, beliau juga punya harapan besar bahwa kehadiran The Yudhoyono Institute ini agar saya bisa mengajak generasi muda, beliau punya concern terhadap generasi muda.

Menitipkan pesan untuk generasi muda agar mencari peluang abad 21, kita sepakat dalam diskusi kami, bahwa kita harus menjadi bangsa pemenang, Indonesia tidak boleh menjadi penonton di negerinya sendiri. Tidak hanya secara geografis, tapi bagaimana posisi kita di dunia percaturan global, kita nomor 4 di dunia penduduknya, kita nomor 14 secara luasan geografis, demokrasi nomor 3, itu kan angka bagus semua tuh, tapi angka keunggulan kita apakah sebaik itu ? Nah ini yang kita perlu lakukan refleksi diri. Ekonomi kita sekarang masuk ke dalam Top Ten, masuk sebagai G-20 sejak 2008. Tetapi kesejahteraan kita belum merata, karena penduduk kita banyak bener. Tapi we are getting there, kalau kita pertahankan bahkan kita tingkatkan growth ekonomi kita. Kita tidak hanya berorientasi ke dalam, tetapi juga ke luar.

Setelah Pilkada DKI, banyak yang menyebut nama Anda untuk Jatim 1 ?
(Tersenyum) Saya memang sulit untuk mengelaknya. Karena ada orang punya harapan, artinya saya syukuri karena mereka menyertakan nama saya. Tidak hanya Jatim, Jabar. Saya ke NTB sangkanya mau nyagub di NTB, saya ke Kaltim juga sama untuk Pilkada Serentak 2018. Tentu ada yang berharap bahwa saya bisa juga berkiprah di berbagai daerah lainnya, saya syukuri jika ada harapan yang baik. Saya Amini.

Tetapi terus terang saya belum punya agenda politik jangka pendek terutama di tahun 2018 ini. Saya terus memanfaatkan kesempatan yang baik untuk berkunjung ke daerah-daerah. Kalaupun ada spekulasi, eeh ini jangan-jangan mau ke Jatim, ini jangan-jangan mau ke Jabar, saya jawab saya tidak ke arah sana, tapi saya juga tidak bisa mengelaknya secara berlebihan. Mudah-mudahan kunjungan saya ke daerah tidak dianggap dalam konteks Pilkada tahun depan, tetapi saya jauh lebih luas dari itu saya ingin menyapa warga sebanyaknya untuk spirit jangka panjang. 


Reporter: Andhika Dinata
Editor: Nur Hidayat

Last modified on 23/09/2017

Share this article