Gubernur Jakarta Mau Kemana?

C. Suhadi SH. MH. (Dok.Pribadi/HR02)

Jakarta, GATRAnews -- Pasca pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno selaku Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, saya dihubungi oleh beberapa teman di media massa. Salah satunya adalah Majalah GATRA yang menanyakan tentang harapan terhadap pasangan pemimpin baru di Jakarta itu. Ajakan dan pertanyaan yang menurut saya positif itu, saya sambut dengan baik. Harapan tertulis saya sendiri dimuat di halaman Surat Pembaca Majalah GATRA terbitan 19 Oktober lalu.

Kendati saya adalah koordinator salah satu tim relawan pemenangan Basuki-Djarot (Badja), saya tetap warga DKI Jakarta. Saya pasti akan menjadi bagian dari warga yang dipimpin oleh pemerintahan Anies-Sandi selama lima tahun ke depan.

Dari berbagai kesempatan setelah kemenangan Pilkada di April 2017 lalu, sampai dengan beberapa saat menjelang dilantiknya, pasangan Anies-Sandi mengaku bertekad akan merangkul semua golongan, suku, agama, dan semua pihak yang pernah terbelah pada saat Pilkada Jakarta kemarin.

Kalau boleh mengambil istilah yang pernah di gagas Anie kala itu, ada 'tenun kebangsaan' yang hampir robek karena terciptanya distorsi antara muslim dan non muslim. Terutama diawali semenjak pidato Gubernur Basuki di Kepulauan Seribu yang menyinggung tentang Surah Al-Maidah.

Barangkali 'tenun kebangsaan' yang nyaris terkoyak, oleh pasangan Anis-Sandi akan disulam dengan cara merangkul, duduk bareng, dan melepas sekat-sekat perbedaan antara kelompok satu dengan yang lain. Karena sejatinya, Jakarta harus dibangun dengan cara  berpikir jernih serta rasional. Sekian juta penduduk Jakarta yang terdiri dari banyak Agama, suku, dan golongan, harus ada dalam pengayoman Gubernur dan Wakil Gubernur. Bagaimanapun juga, kita semua adalah penduduk Jakarta yang terbingkai dalam kebhinekaan.

Akan tetapi, pidato politik pelantikan yang kita harapkan membawa angin segar untuk persatuan dan kesatuan, ternyata tidak terjadi. Gaung harapan yang dilontarkan oleh seorang Anies, bahwa ia akan menjadi Gubernur untuk semua, ternyata hanya retorika belaka.

Pidato politik yang menyengat dan menghentak itu telah menjadi bola liar. Bukan hanya pada tataran etika yang hilang, tetapi semakin mengoyak tenun kebangsaan itu sendiri.

Karena pidato yang terkesan rasis, saya sampai lupa dengan gelarnya yang berderet. Padahal ia dulu saya kenal sebagai tokoh muda islam yang moderat. Juga sempat saya kagumi sudut pandang pikirannya serta sopan santunnya.

Pidato perdana Anies justru telah membelah masyarakat menjadi Pribumi dan Non Pribumi. Itu semakin menjelaskan bahwa Anies tidak hendak membangun rakyat Jakarta di atas kemajemukan suku dan agama. Nah kemudian, mau dibawa kemana bangsa ini? Padahal Indonesia dikenal sebagai negara berhasil membangun di atas kebhinekaan?

Kesalahan ia sejak dilantik, menurut saya, tidak berhenti sampai di sana. Selain pidato yang terkesan rasis, ia juga kembali melakukan pelanggaran. Sehabis acara ulang tahun Korpri Pemprov DKI Jakarta, Minggu pekan lalu, Anies melintas di jalur Puncak menuju Jakarta. Walau saat itu, sedang berlaku jalur satu arah, dari Ciawi menuju Puncak. Sistem lalu lintas yang diberlakukan oleh Polres Bogor itu dilabrakanya tanpa rasa bersalah. Meski Puncak bukan wilayah kekuasaannya.

Berkaca dari tulisan di atas, kita ternyata hanya dipertontonkan pada dialektika drama yang tidak terukur dari seorang Anies. Gambaran akan terciptanya Jakarta yang lebih baik, Jakarta yang lebih santun seperti didengungkan dalam kampanyenya, seolah menjadi sebuah keniscayaan yang kabur.

C. Suhadi SH. MH.
Advokat/ Ketua Relawan Negeri Indonesia Jaya (Ninja)


Editor : Cavin R. Manuputty

Last modified on 24/10/2017

Share this article