Ini Saatnya bagi Indonesia

Nadiem Makarim. (GATRA/Jongki Handianto/AK9)

"Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa bersama."
                                              - Muhammad Hatta -

Jakarta, Gatra.com - Kalimat yang dicetuskan pendiri bangsa dan juga pencetus ekonomi kerakyataan itu bermakna mendalam dan luas. Konsep ekonomi kerakyatan yang mencita-cita kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat menjadi tujuan kegiatan ekonomi di Indonesia.

Konsep ini juga didasarkan pada budaya gotong-royong yang mengakar di masyarakat Indonesia. Konsep ekonomi kerakyatan ini memiliki kesamaan napas dengan konsep ekonomi berbagi dan ekonomi digital yang sekarang bertumbuh.

Dalam ekonomi berbagi (sharing economy), berbagai lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan memanfaatkan aset-aset ekonomi untuk mendapatkan penghasilan. Ini dimungkinkan dengan adanya teknologi, yang menghubungkan secara langsung pencari jasa dengan pemberi jasa. Akses langsung inilah yang membuat sistem ekonomi menjadi lebih efisien dan mengurangi ekonomi biaya tinggi yang menjerat para pelaku ekonomi. Dengan pemanfaatan ekonomi berbagi dan ekonomi digital, jurang kesenjangan sosial dapat diperkecil.

Ini yang membuat kami di Go-Jek percaya, pemanfaatan teknologi adalah cara yang paling cepat dan tepat untuk mempercepat kemakmuran rakyat Indonesia. Menciptakan masyarakat yang makmur dan sejahtera, seperti cita-cita para pendiri bangsa.

Keyakinan ini juga diperkuat data-data pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Google dan Temasek memperkirakan, pada 2025 (Unlocking the $200 billion opportunity in SEA Report, 2016), ekonomi internet di Asia Tenggara bisa tumbuh hingga US$ 200 milyar per tahun atau setara dengan Rp 2.700 trilyun. Naik enam kali lipat dibanding dengan kondisi tahun 2015.

Kenaikan itu didorong oleh pertumbuhan dagang elektronik (e-commerce), media online dan travel online. E-commerce di Indonesia diperkirakan tumbuh menjadi US$ 46 milyar per tahun, atau naik lebih dari 25 kali dibanding dengan tahun 2015.

Ada beberapa faktor pendorong yang akan membuat ekonomi internet di Indonesia tumbuh signifikan. Pertama, pangsa pasar yang besar. Indonesia menjadi pasar terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk yang lebih dari 260 juta. Faktor kedua, rata-rata populasinya berada rentang usia produktif. Ini artinya mereka punya daya beli yang cukup kuat. Ketiga adalah penetrasi ritel offline yang cukup rendah mengingat kondisi infrastruktur dan kepulauan Indonesia. Faktor keempat yang menjadi kunci adalah penetrasi internet dan smartphone yang signifikan dan pertumbuhan jaringan 3G dan 4G. Faktor tersebut membuat Indonesia mampu melompat jauh dalam hal ritel online dan melewati beberapa tahap sekaligus.

Pertumbuhan jasa logistik di Indonesia juga telah meningkatkan efisiensi dan kepercayaan masyarakat terhadap belanja online. Data CLSA menyebutkan, rata-rata waktu pengantaran untuk berbagai kota besar di Indonesia dalam dua tahun terakhir turun 30%. Bila pada 2015, rata-rata waktu pengantaran adalah 4 hari 20 jam, pada 2017 menjadi 3 hari 5 jam. Adanya layanan seperti Go-Sent (instant courier dan same day delivery) dari aplikasi kami, juga membantu pelanggan meningkatkan pengalaman berbelanja sekaligus membantu pengusaha UMKM online untuk meningkatkan jumlah pesanan yang mereka terima.

Menjadi Penonton atau Pemain?

Dengan tren yang positif, outlook yang menjanjikan tentang ekonomi digital di Indonesia, ada satu pertanyaan yang menjadi penting. Apakah Indonesia menjadi pemain aktif dalam pertumbuhan ekonomi digital? Ataukah hanya sebagai penonton ?

Bila menilik pesan yang disampaikan Bung Hatta pada awal tulisan ini, jelas Indonesia harus menjadi pemain aktif. Pesan yang sama juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Silicon Valley pada 2015 lalu. Indonesia harus menjadi pemain ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Apalagi, saat ini dunia memasuki revolusi industri keempat.

Bila revolusi industri pertama ditandai dengan mekanisasi dan penemuan mesin uap, dan revolusi industri ketiga ditandai dengan otomatisasi dan penemuan komputer. Revolusi industri keempat ditandai dengan cyber physical system. Dalam revolusi industri keempat inilah Indonesia bisa berperan aktif menjadi pemain berkat pertumbuhan startup-startup nasional seperti Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Buka Lapak.

Dan, 2018 menjadi tahun yang penting untuk memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia, supaya Indonesia, para startup-startup lokal dan pengusaha lokal bisa membawa Indonesia menjadi pemain aktif dan mengajak lebih banyak lapisan masyarakat untuk berperan dalam ekonomi digital di Indonesia. Ekosistem teknologi yang dibentuk oleh para unicorn-unicorn Indonesia, telah berhasil merangkul para pengusaha UMKM, sektor informal seperti tukang ojek, penyedia jasa layanan, dan pengusaha mikro untuk merasakan manfaat dari ekonomi digital.

Kini saatnya, masyarakat yang selama ini tidak terjangkau oleh layanan dan jasa keuangan (unbanked communities) menjadi bagian dari ekonomi digital. Financial technology (fintech) akan menjadi jembatan penting yang menghubungkan pemerintah, perusahaan jasa keuangan kepada unbanked communities. Ini sejalan dengan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang dicanangkan Bank Indonesia dan pemerintah pada 2014 lalu.

Data Bank Dunia (2014) menunjukkan, hanya 36% dari populasi dewasa di Indonesia yang memiliki rekening tabungan, dan penetrasi kartu kredit ada di angka 2%. Meskipun demikian, data juga menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat dalam menggunakan transaksi elektronik meningkat. CLSA (2017) melansir, 46% masyarakat yang berbelanja online sekarang memanfaatkan transfer bank online dan uang elektronik. Angka ini naik dibanding 2016 yang hanya mencapai 28%. Kehadiran uang elektronik akan menjadi kunci penting yang mengubah lanskap ekonomi digital di Indonesia.

Belajar dari pengalaman Cina dan India yang berhasil mengubah budaya masyarakat tunai menjadi masyarakat non-tunai, ada beberapa faktor signifikan yang dapat mempercepat transformasi masyarakat Indonesia menjadi masyarakat non-tunai. Uang elektronik yang agnostik, dapat diterima di mana saja, mudah digunakan dan murah, yang akan mengubah budaya tunai ke non-tunai dan meningkatkan kepercayaan terhadap lembaga jasa keuangan.

Guna terus menjadi pemain aktif, startup nasional dan pelaku ekonomi digital harus terus berinovasi. Menciptakan solusi yang membawa dampak positif bagi masyarakat di berbagai lapisan dan di berbagai penjuru nusantara. Sebagai startup nasional, saya percaya bahwa startup lokal punya pengetahuan yang lebih baik dalam memahami pasar Indonesia dan budaya kita. Memahami lebih baik permintaan dan tantangan masyarakat Indonesia, sehingga bisa menawarkan solusi yang berdampak.

Untuk memastikan para pemain lokal bisa terus berinovasi, ada satu hal yang menjadi penentu atau deal breaker yaitu sumber daya manusia yang siap menghadapi dan berperan aktif dalam ekonomi digital. Ada tiga hal utama dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang seperti itu, yaitu: pelajaran bahasa Inggris sejak dini, pengajaran pemrograman komputer di sekolah-sekolah, serta mentorship dan coaching. Dengan pengajaran dan pemahaman bahasa Inggris sejak dini, para pemuda dan pemudi Indonesia bisa belajar mandiri dalam memanfaatkan berbagai sumber di Internet serta berkomunikasi dengan komunitas internasional. Menimba ilmu dari berbagai sumber.


Kedua, pengajaran pemrograman komputer di sekolah-sekolah bisa menumbuhkan spesialisasi dan skill yang dibutuhkan di dunia kerja, terutama di ekonomi digital . Terakhir, melalui mentorship dan coaching, generasi muda Indonesia dapat belajar dari pakar global berpengalaman. Bila SDM Indonesia ingin menjadi kelas dunia, mereka harus belajar dari pengajar kelas dunia pula. Sebagai anak bangsa, saya percaya, inilah saatnya Indonesia menjadi pemain dunia.


Nadiem Makarim
Pendiri dan CEO Go-Jek

 

Artikel ini dimuat di Majalah Gatra Edisi 7 Tahun XXIV, Tanggal 21-27 Desember 2017

Majalah Gatra dapat dibeli di sini

 

Share this article