Joshua Oppenheimer : Saya Tidak Pernah Menipu Siapapun

 

Film dokumenter tentang pembantaian orang-orang yang dituduh PKI di Sumatera Utara, sekitar tahun 1965. Memuat sudut pandang pelaku yang tercitrakan sebagai sosok pembunuh berdarah dingin. Pemuda Pancasila akan menggugat sang sutradara.     

Film The Act of Killing adalah bagian dari penelitian pascadoctoral Joshua Oppenheimer  di Central Saint Martins College of Art and Design, University of The Arts London. Sebagian pendanaannya berasal dari Dewan Riset Kesenian dan Humaniora Inggris. Meski ada nuansa akademik sangat kental dalam proyek ini, namun, menurut  Oppenheimer, karyanya tidak perlu dirahasiakan dan selalu dimaksudkan untuk umum.

Berikut petikan wawancara lewat surat elektronik antara Averoes Lubis dari GATRA dengan Joshua Oppenheimer: 

 

Anwar Congo merasa tertipu dengan film karya sang sutradara. Bagaimana komentar Anda?

Saya tidak pernah menipu siapapun dalam membuat film ini. Semua gambar diambil secara terbuka dengan sepengetahuan dan seizin partisipan yang bersangkutan. Tidak ada kamera tersebunyi, dan kami tidak pernah merekam secara sembunyi-sembunyi.  Selain itu, secara administratif, Anwar Congo dan praktis semua partisipan telah menandatangani surat izin penggunaan gambar (appearance release) dalam Bahasa Indonesia yang mengizinkan kami untuk menggunakan rekaman gambar mereka untuk film, dan untuk disebarluaskan dengan melalui berbagai media. Sebelum surat itu ditandatangani, sendiri-sendiri atau bersama-sama, kami selalu menjelaskannya kepada semua peserta apa isi dan maksud dari surat tersebut, bahkan menyediakan waktu untuk tanya jawab jika ada bagian tertentu yang ingin ditanyakan.

Selain itu, sepanjang proses pembuatan film selama 7 tahun, kami juga memutar ulang hasil rekaman kami kepada partisipan untuk kami dapatkan tanggapan dan reaksinya. Anwar tahu gambar apa saja yang kami miliki, ia sudah menontonnya, mengomentarinya, dan tidak mengajukan keberatan. Bahkan di dalam film Jagal/The Act of Killing itu sendiri, ada beberapa adegan ketika Anwar sedang menonton cuplikan mentah (rushes) yang baru saja disyuting bersamanya. Kesimpulannya: tanpa kesediaan dan pemahaman Anwar Congo film ini tidak akan jadi dan berhenti di tengah jalan.

Anwar Congo dan kawan-kawan secara terbuka di acara talk show televisi yang disiarkan untuk umum menyampaikan secara detil bagaimana ia membunuh dan membuang mayatnya di malam hari. Apa yang kami filmkan bukanlah sesuatu yang dirahasiakan oleh Anwar. 

Lalu, apakah benar ini untuk desertasi Anda?. Atau memang ingin memainkan isu penindasan HAM (Hak Asasi Manusia) di Indonesia saja?

Pada awalnya pembuatan film ini merupakan bagian dari penelitian pascadoktoral saya, dan memang sebagian pendanaan untuk film ini berasal dari Dewan Riset Kesenian dan Humaniora Inggris. Ada nuansa akademik yang cukup kental dalam pembuatan film Jagal/The Act of Killing ini, dalam arti metode penggalian dan pengolahan informasinya terjaga dalam kaidah ilmiah. Kami tidak pernah begitu saja percaya pada keterangan narasumber, kami melakukan verifikasi dari sumber lain, juga sumber pustaka.

Walaupun begitu, film yang saya buat tidak berhenti pada hasil penelitian dan karya ilmiah. Dari awal memang saya mengelola sebuah proyek dengan banyak hasil, ada yang berupa karya ilmiah, ada yang berupa karya seni, yaitu film dokumenter Jagal/The Act of Killing. Dan sebagaimana lazimnya, karya ilmiah pun harus menjadi domain publik, karena tidak ada gunanya menulis hasil penelitian dan menarik kesimpulan yang mungkin sekali bermanfaat bagi masyarakat luas jika kemudian karya itu justru disembunyikan atau dirahasiakan. Singkatnya, disertasi doktoral (dan makalah hasil riset pascadoktoral) selalu dimaksudkan untuk umum. Oleh karena itu, tidak ada artinya klaim Anwar Congo—atau partisipan lain dalam film ini—yang menyatakan bahwa karena film ini adalah sebuah proyek akademik (dan itu memang betul) maka hasilnya tidak dimaksudkan untuk publik.

Lebih jauh, sebagaimana dimuat dalam film, kita bisa melihat Anwar menyampaikan harapannya bahwa film ini bisa mendapatkan penghargaan di festival, bersaing dengan MGM, Paramount Pictures, dan studio film besar lainnya.

Saya penasaran mengapa Anda menggunakan istilah “memainkan isu” sebelum “penindasan HAM,” dan mengapa ada kata “saja” sesudah “isu penindasan HAM di Indonesia.” Bagaimana mungkin hal yang tak terbayangkan buruknya seperti “penindasan HAM di Indonesia”—dalam hal ini pembunuhan terhadap 500.000 sampai 2,5 juta orang diikuti kata “saja?” Menilik dari seberapa penting dua hal yang Anda sebutkan, proyek pascadoktoral sayalah yang harus diikuti dengan kata “saja”, bukan “penindasan HAM.”

Dalam kaitannya dengan isu penindasan HAM, saya melihatnya sebagai hal yang serius. Penindasan terjadi selama berpuluh tahun, jumlah korbannya sangat besar, dan ini bukan hal yang sepatutnya jadi ‘mainan’ atau di’main’kan. Kami mengangkat masalah hak azasi manusia ini karena saya melihatnya sebagai sebuah beban sejarah, sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan, sebuah luka yang harus disembuhkan sebelum luka ini menjadi semakin parah dan lebih menyakitkan lagi.

Lebih lagi, pembunuhan ratusan ribu orang bukanlah semata-mata masalah Indonesia. Pembunuhan massal adalah masalah bagi seluruh umat manusia. Pembunuhan massal adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Anda, seperti saya, adalah juga salah satu manusia. Kita berdua sama-sama menanggung beban, menjadi korban tak langsung, pembunuhan massal 1965-1966. Dan menjadi tanggung jawab kita untuk menuntut, pertama, kebenaran—dan barulah kemudian—rekonsiliasi.

Kita tidak bisa menyelesaikan tanggungan itu, tak bisa menyembuhkan luka itu kalau kita tidak mengetahui ada luka menganga di tubuh kita. Kita tidak bisa membuat perbaikan jika luka itu ditutupi selama 47 tahun kita diyakinkan dengan propaganda selama ini bahwa semuanya baik-baik saja, dan kita percaya begitu saja.

Saya mengangkat masalah pelanggaran HAM berat ini agar mendapat perhatian masyarakat luas, di Indonesia dan secara internasional, demi sebuah perubahan ke arah perbaikan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bukan hanya di Indonesia tetapi juga bagi masyarakat dunia.

Persoalan yang dihadapi Indonesia dalam hal ini bukan cuma dihadapi oleh Indonesia sendirian. Film ini bukan cuma tentang orang Indonesia, film ini adalah tentang semua orang di dunia.

Lalu apakah benar, film Arsan & Aminah adalah judul pertama dalam film yg dijanjikan kepada Anwar Congo? Dan bagaimana nasib film itu? Atau hanya alasan saja?

Pertama kali saya memperkenalkan diri kepada Anwar, saya mengatakan bahwa saya sedang membuat film dokumenter. Saya jelaskan bahwa saya ingin mendokumentasikan ingatan dan bayangan Anwar dan rekan-rekannya mengenai pengalamannya memberantas komunis. Saya ingin mendokumentasikan bukan hanya bagaimana Anwar mengingat suatu peristiwa di masa lampau, tetapi juga bagaimana Anwar ingin diingat. Untuk membawa ingatan dan bayangan Anwar tentang peristiwa dan perbuatan Anwar di masa lalu, saya mengajak Anwar untuk membuat sebuah film fiksi sebagai sebuah alat meneropong isi benak Anwar. Film fiksi ini adalah sebuah ‘ruang’ bagi Anwar untuk melakukan dramatisasi atas ingatan, imajinasi mengenai pengalamannya. Anwar lalu mengajak teman lamanya Ibrahim Sinik, boss koran Medan Pos, untuk menulis skenario filmnya, yang diberi judul Arsan & Aminah.

Dari awal Anwar tahu bahwa Arsan & Aminah tidak pernah dimaksudkan sebagai film yang utuh, terpisah, dan berdiri sendiri. Sudah dari awal saya menjelaskan ini kepadanya, dan berulangkali setiap ada partisipan baru. Anwar tahu bahwa saya tidak hanya melakukan syuting Arsan & Aminah, tetapi juga proses pembuatannya, evaluasinya, serta tanggapan atas hasil syutingnya. Dengan kata lain, Anwar terlibat dalam semua proses pembuatan film ini secara keseluruhan. 

Nasib film Arsan & Aminah, sebagaimana dari awal direncanakan, kini, menjadi bagian integral dari Jagal/The Act of Killing, sebuah judul yang baru diberikan ketika film selesai diedit. Singkatnya, Anwar dan tokoh lain di dalam film sejak awal tahu bahwa Arsan & Aminah bukanlah judul dari film yang sebenarnya. Sebelumnya judul sementara untuk film ini adalah Free Men, dan Anwar juga mengetahuinya.

Anwar Congo berpesan masih ingatkah Anda kepadanya? Sebab hatinya merasa sedih dengan film yg dibuat oleh Anda.

Bagaimana mungkin saya melupakan Anwar Congo. 

Ada beberapa ingatan remeh-temeh yang mudah terlupakan, nama seorang kenalan lama, nomor telepon, di mana saya meletakkan kunci dan seterusnya. Tapi pengalaman membuat film bersama Anwar Congo selama tujuh tahun, bukanlah hal yang bisa saya lupakan.

Saya menjadi begitu dekat kepada Anwar Congo sebagai sesama manusia. Saya menghargai keberaniannya dan kejujurannya. Bahwa tujuan saya membuat film ini berbeda dengan tujuan Anwar, itu adalah hal yang tak terhindarkan. Jika Anwar ingin mengagungkan kekerasan dan pembantaian sebagai aksi heroik lewat film ini, tentu saja saya tidak mungkin menyepakatinya. Saya ingin mengajak penonton—melalui Anwar—untuk menyadari bahwa kekerasan itu salah, dan tak bisa dijustifikasi dengan ‘make up’ heroisme, patriotisme, atau ‘isme’ apapun. Dan Anwar, di film ini, dengan tubuhnya, walaupun tak terungkap dengan kata-kata, mengakuinya. (Lihat, misalnya, adegan terakhir Jagal/The Act of Killing).

Keberanian dan kejujuran Anwar dalam mengakui kekerasan yang diperbuatnya sebagai suatu kesalahan, di tingkat personal, adalah sebuah awal bagi proses penyembuhan luka bangsa yang menganga itu. 

Ini adalah alasan utama mengapa saya tak mungkin melupakan Anwar Congo sampai akhir hayat saya.

Apakah ada juga orang-orang Indonesia yg menjadi crew dlm pembuatan film? Dan apakah benar, mereka adalah anak keturunan PKI di Indonesia?

Ada banyak orang Indonesia yang ikut membantu pembuatan film ini. Tanpa bantuan mereka Jagal/The Act of Killing hanyalah sebuah gagasan dan angan-angan. Sebagian orang Indonesia menjadi kru dalam pembuatan film, baik yang langsung secara teknis membantu saya di lapangan, maupun yang mendukung secara tidak langsung, memberi saran, arahan, ataupun dukungan lain tapi tidak terlibat langsung dalam syuting.

Saya mengenal dekat semua kru Indonesia, dan saya tahu bahwa tidak ada satupun kru film kami yang adalah anak atau keturunan anggota Partai Komunis Indonesia. 

Kru Indonesia adalah orang-orang yang penuh dengan integritas, jujur, bekerja keras, berdedikasi tinggi, sangat profesional, dan penuh dengan kepedulian.

Bagaimana perasaan Anda ketika film Jagal/The Act of Killing mendapat sambutan baik saat di putar di Toronto?

Saya sangat terharu dengan sambutan yang sangat hangat, dan terus terang saya tidak siap. Saya tahu bahwa film ini tidak bisa diremehkan, bahkan dalam festival film internasional dengan 300-an film, tapi sambutan positif yang luar biasa banyaknya dari para wartawan, penulis, kritikus, budayawan, ilmuwan sosial, dan orang perfilman sungguh di luar dugaan saya. Film ini diluncurkan di benua Amerika, tapi bahkan sebuah koran ternama di Eropa menyebut film ini sebagai, “Setiap frame-nya menakjubkan!”

Seorang penonton di luar gedung bioskop menyalami saya dengan air mata masih menggenang dan ia berterima kasih karena saya telah membuat film ini sehingga membuka matanya lebih lebar dalam melihat dunia. Berbagai tanggapan positif datang dari banyak orang dengan berbagai latar belakang dari berbagai belahan dunia menyerbu email saya. Tanggapan personal seperti ini sangat menyentuh hati dan sungguh berarti buat saya.

Apakah Anwar Congo mendapat uang dari Joshua saat pembuatan film?

Partisipan dalam film ini mendapatkan “uang ganti kerja,” yaitu sejumlah uang yang kami bayarkan sebagai pengganti pendapatannya yang hilang karena seharian ikut syuting dengan kami. 

Kami memperkirakan berapa pendapatan mereka sehari, dan jumlah itu yang kami bayarkan untuk setiap hari syuting. Kami menekan jumlah uang ini serendah mungkin agar orang tidak termotivasi ikut film ini karena uangnya. Kami juga menghindari narasumber yang pasang tarif tinggi, karena kami menghindari orang yang ingin ‘jualan cerita.’ Kami menginginkan orang-orang yang mau tulus bercerita.

Hal yang sama juga kami terapkan pada Anwar Congo.

Maukah Anda datang ke Indonesia untuk melakukan pemutaran film bersama Anwar Congo. Sebab, dia ingin sekali melihat film Jagal/The Act of Killing?

Sebetulnya melakukan pemutaran film bersama Anwar Congo sudah kami pikirkan jauh-jauh hari sebelum film ini diluncurkan. Kami sudah merencanakannya, memikirkan cara yang paling baik, dan kami membahas secara mendalam, juga dengan berkonsultasi dengan berbagai pihak, termasuk psikolog yang berpengalaman menangani kasus trauma, bagaimana cara mempertunjukkan film ini kepada Anwar, dan apa yang mungkin terjadi jika pemutaran film bersama Anwar dilangsungkan. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk tidak menyelenggarakan pemutaran film bersama Anwar dan partisipan lain.

Pertimbangan kami yang terutama begini, dalam film Jagal/The Act of Killing, kita bisa melihat bagaimana Anwar mengalami trauma psikologis yang berat ketika kami memutarkan salah satu hasil rekaman syuting. Itu hanya satu adegan beberapa menit dari hasil syuting selama seminggu. Bayangkan apa yang mungkin terjadi pada Anwar jika ia melihat keseluruhan film sepanjang 2,5 jam lebih yang merupakan perasan dari hasil syuting selama 7 tahun. Guncangan psikologis seperti apa yang mungkin menimpa Anwar.

Seminggu sebelum kami meluncurkan Jagal/The Act of Killing di Toronto, saya menghubungi Anwar untuk mengabarinya tentang festival film itu. Anwar meminta agar ia bisa ikut menyaksikan gala premiere bersama saya di Canada. Saya sampaikan pertimbangan tadi dan menjelaskan mengapa kami tidak mungkin mengundangnya menyaksikan film tersebut.

Saya harus menjelaskan kepada Anwar bahwa siapapun yang masih bisa berbangga dengan pembunuhan massal, apapun alasannya, tidak akan dilihat sebagai pahlawan di Canada. Reaksi audiens terhadap Anwar tidak akan seperti yang diharapkannya.

Saya tidak merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya tidak pernah melakukan penipuan.Saya dengan jujur menampilkan Anwar sebagaimana ia ingin dilihat.

Karena alasan di atas itulah saya tidak pernah bertanya kepada Anwar apakah dia mau menonton filmnya atau tidak. Saya tahu, kalau saya tanya, dia pasti akan bilang, “Mau.” Saya merasa bahwa dia seharusnya punya kesempatan untuk tidak menonton film itu. Saya tidak tahu apakah masih aman bagi saya untuk datang ke Indonesia. Tapi saya pasti akan mengirimkan DVD film ini karena ia memintanya. Dan kami masih terus memikirkan kemungkinan atau cara lain yang mungkin bisa kami lakukan agar Anwar bisa menonton film ini dan berakhir dengan baik.

Apakah ada perasaan bersalah karena dianggap melakukan penipuan kepada Anwar Congo? Dengan sengaja menampakan dia tampak seorang penjagal?

Saya tidak merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya tidak pernah melakukan penipuan.

Saya dengan jujur menampilkan Anwar sebagaimana ia ingin dilihat. Kalau kita lihat perbuatan yang diakuinya sendiri dilakukannya (bahkan sesudah film ini diluncurkan dan menciptakan kontroversi di media), bahwa ia membunuh orang, banyak sekali jumlahnya, dengan kawat, dan korbannya adalah orang yang tidak bisa membela diri, tidak bersenjata, tidak melawan, maka Anwar tidaklah kami buat terlihat sebagai jagal. Kalau Anwar terlihat sebagai seorang jagal, itu karena dia memang seorang jagal yang mengakui dirinya seorang jagal, dan sebagian dari dirinya memang menginginkan dirinya terlihat sabagai seorang jagal. 

Persoalan utama Anwar muncul karena sebagian dari dirinya yang lain ingin terlihat sebagai pahlawan. Film ini dengan telak menunjukkan kedua keinginan Anwar itu tak mungkin bertemu.

Bayangkan sebuah kanvas kosong. Lalu kami datang membantu Anwar melukis potret dirinya sebagaimana yang dia inginkan. Anwar mundur selangkah untuk memandanginya lalu memberikan penilaian, jika ia bilang bahwa lukisannya tidak cukup bagus, kami perbaiki, terus begitu sampai ia menyadari tidak mungkin membuat lukisan itu lebih bagus lagi. 

Ada dua pilihan, membuat lukisan itu jadi indah atau jadi lukisan yang paling mirip dengan aslinya. Upaya membuat keduanya tidak bertemu. Dan itulah gambaran tentang proses pembuatan dan cerita film ini. Semakin dekat dengan aslinya, semakin tidak indahlah gambaran ingatan, bayangan, dan juga mimpi buruk Anwar. Dan ketika dilukiskan sebuah keindahan, yang muncul adalah kepalsuan atau kekosongan makna. Ini adalah dilema yang dihadapi Anwar yang gagal menyatukan yang indah dan yang asli dalam film ini. Sebuah pilihan sulit bagi Anwar yang dalam kejujurannya lebih menyukai yang asli. 

Terhadap Anwar, bukan perasaan bersalah yang saya rasakan, tapi sebetulnya lebih mirip perasaan seorang anak yang membantah keinginan orang tuanya. Ada sebuah prinsip moral dan etika yang tidak mungkin saya langgar sebagai seorang seniman dan juga sebagai manusia, bahwa saya tidak boleh berbohong dalam karya saya. Saya tidak bisa memenuhi keinginan Anwar untuk menggambarkan pembantaian massal sebagai aksi perjuangan heroik, apalagi sebagai sesuatu yang indah, karena saya tidak ingin membohongi penonton dan masyarakat luas.

Dan karena Anwar sangat akrab dengan film, dan karena ia juga adalah seorang penikmat film sejak masih menjadi pencatut karcis bioskop waktu muda, saya yakin Anwar paham akan hal ini. Anwar tidak suka dibohongi, oleh film sekalipun.

Sampai berapa dana Anda keluarkan utk pembuatan film Jagal/The Act of Killing?

Sukar berhitung berapa nilai uang yang kami semua kucurkan dalam film ini. Kami mendapat bantuan keuangan dari Dewan Riset Kesenian dan Humaniora Inggris, lembaga perfilman di Denmark dan Norwegia, serta berbagai lembaga lain. Tapi diluar itu, saya juga mengeluarkan uang pribadi, dana beasiswa studi saya, dan juga mendapatkan bantuan tenaga suka rela serta bantuan non-finansial lain yang tidak bisa dinilai dengan uang. 

Yang jelas, film ini terutama sekali digerakkan oleh semangat kemanusiaan. Ini tidak bisa dinilai dengan seberapapun uang yang ada di dunia.

Lalu, pesan apa yg Anda sampaikan melalui sebuah film yg Anda buat?

Film ini sekurangnya membawa pesan bahwa kita tidak mudah menyebut diri kita orang baik dan para pembunuh itu orang jahat, hanya karena menganggap diri kita sangat berbeda dari mereka. Mereka adalah psikopat, atau monster, sementara kita bukan. Kita bisa memberi label apa saja kepada orang lain, tapi itu tidak akan membuat kita menjadi lebih baik.

Dan satu-satunya hal yang benar-benar kita ketahui tentang manusia yang membunuh manusia lain adalah bahwa mereka juga manusia. Seperti kita. Anwar Congo adalah seorang manusia, juga orang yang memberinya perintah untuk membunuh, bahkan Hitler sekalipun juga manusia. Kita semua adalah manusia yang bisa salah mengambil keputusan karena kita melihat dunia (kadang tanpa disadari) dengan cara yang salah. 

Tidak mudah bagi kita, sebetulnya, membedakan antara yang fiksi dan yang nyata. Kita seringkali tidak tahu yang nyata itu yang mana. Dalam kesulitan ini, setiap hari, kita harus mengambil keputusan dan bertindak atas keputusan itu. Kita bisa memilih untuk terus hidup dalam fantasi yang nyaman, sampai suatu saat terantuk bahkan terbentur realitas. Atau kita bisa terus-menerus mempertanyakan apa yang kita lihat dan apa yang kita pahami selama ini sebelum kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita bukan orang jahat.

Akhirnya, ada perbedaan nyata antara lupa, tidak tahu, dan tidak peduli. Dan kita harus terus-menerus melawan ketiganya.

Terima kasih dan salam hormat,

Joshua Oppenheimer

(versi yang lebih singkat ada pada majalah Gatra, 10 Oktober 2012) 

 

Apakah ada juga orang-orang Indonesia yg menjadi crew dlm pembuatan film? Dan apakah benar, mereka adalah anak keturunan PKI di Indonesia?

Last modified on 06/10/2012

Share this article