Mengapa Anak Cerdas Juga Melakukan Skip Challenge?

Jakarta, GATRAnews - Skip challenge atau pass-out challenge, atau "permainan" dengan cara menekan dada sekeras mungkin dalam waktu tertentu hingga mengakibatkan pingsan sesaat, ternyata dilakukan pula oleh siswa yang tergolong cerdas secara kognitif. Benarkah hal itu? Psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo memberikan penjelasannya.

Berikut petikan wawancara Vera dengan Antara:

Soal skip challenge atau choking game atau disebut pula pass-out challenge, yang belakangan viral di media sosial, oleh psikolog di Inggris dikatakan bahwa permainan berbahaya itu dilakukan bahkan oleh anak-anak yang tergolong cerdas. Apa yang melatarbelakangi anak-anak ini melakukan skip challenge yang bahkan membahayakan jiwa mereka? Selain kecerdasan, faktor apa saja yang membuat anak-anak melakukan tantangan itu? Apa sebatas karena ingin menjajal keberanian?

Mungkin saja. Karena anak yang cerdas, punya rasa ingin tahu yang tinggi sehingga terdorong untuk mencoba. Dan, di usia remaja, pemikiran jauh tentang konsekuensi dari perbuatan yang mereka lakukan memang belum tercapai optimal sehingga remaja seringkali ceroboh saat ambil keputusan.

Ini ada hubungannya dengan bagian otak yang belum penuh perkembangannya sampai usia 20 tahun nanti. Bagian otak ini (prefrontal cortex) yang membantu seseorang untuk mengambil keputusan sesuai pertimbangan baik buruknya. Sebelum bagian ini terbentuk sempurna, keputusan lebih banyak dipengaruhi oleh emosi spt merasa ditantang, tidak mau dibilang penakut dan sebagainya.

Apakah orang dewasa mungkin melakukannya? Dewasa seperti apa yang kemungkinan akan melakukannya?

Mungkin saja ada yang melakukannya, demi melakukan penelitian misalnya. Namun orang dewasa semestinya punya pertimbangan lebih baik sehingga cenderung memutuskan untuk tidak melakukannya.

Apa saran Anda untuk anak-anak dan masyarakat di Indonesia pada umumnya, agar tidak melakukan tantangan berbahaya itu?

Tantangan ini memang berbahaya karena membuat aliran oksigen terhenti dan ini bisa berakibat fatal secara jangka waktu panjang pada sel otak. Dengan melihat dampak tersebut, tentu tantangan ini tidak dilanjutkan. Bisa dengan dimulai memberitahukan anak/remaja tentang bahaya dari tantangan ini. Ini bisa dilakukan oleh guru dan orang tua di rumah.

Guru pun dapat lebih ketat mengawasi aktivitas siswa di sekolah terutama saat istirahat atau saat peralihan pelajaran. Lalu alihkan mereka ke aktivitas yang lebih positif dimana mereka juga dapat mencoba tantangan yang lebih bermanfaat dan menjadi wadah bagi mereka untuk memperoleh eksistensi diri, misalnya ikut klub olahraga atau seni.


Editor: Tian Arief

Share this article