Siasat Tetap Bugar Rachmad Hardadi

Rachmad Hardadi, Direktur Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (GATRA/ Hendry Roris)Jakarta, GATRAnews - Hampir 30 tahun, Rachmad Hardadi mengabdi sebagai pegawai PT Pertamina (persero). Alumni Sarjana Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung ini merintis karir di Pertamina, dari jabatan terendah. Kini namanya disebut-sebut menjadi salah satu kandidat Direktur Utama BUMN terbesar di tanah air tersebut.

 

Hardadi pernah melakoni jabatan mulai dari tukang pompa limbah, foreman, bagian supervisor, sampai menjadi Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia saat ini. “Saya pernah masuk ke dalam limbah yang dalamnya kira-kira sedada, temperaturnya 60 derajat dan itu semua minyak hitam. Jadi tukang pompa dua bulan. Khatam, naik pangkat,” ujarnya.

 

Pasca dipindahkan dari posisinya sebagai Direktur Pengolahan, kesibukan Hardadi bertambah. Ia bekerja rata-rata 12  hingga 17 jam sehari. Anak sulung dari empat bersaudara ini mengaku tidak pernah jenuh, meskipun separuh harinya dihabiskan bekerja.

 

Bahkan, Hardadi mengaku tidak pernah bermasalah dengan kesehatan meskipun harus bekerja sampai larut malam. “Kalau dijalani semuanya dengan nggak aneh-aneh, rasanya lancar, nggak pernah diabet, nggak pernah tekanan darah tinggi. Dan semoga nggak akan pernah,” kata pria kelahiran 4 Mei 1960 ini sambil tersenyum.

 

Kamis (9/03) sore yang cerah, Hardadi membeberkan siasat agar tetap bugar dan tidak jenuh bekerja. Berikut bincang-bincang santai dengan wartawan GATRA, Mukhlison S. Widodo dan Hendry Roris Sianturi di ruang kerjanya, Gedung Utama Pertamina:

 

Bagaimana Anda tetap bugar setiap hari?

Memang, saya menyadari betul, kerja 12 jam – 17 jam sehari terus-terusan itu nggak sehat. Makanya saya selalu mencari kesempatan buat olahraga. Saya paling senang renang. Biasanya renang di Kolam Renang Cikini. Biasanya bersama anak dan istri dan sekalian ketemu masyarakat di situ. Itu saya menikmati.

 

Memangnya ketemu orang-orang bisa membuat bugar?

Iya, karena saya juga tinggal di perkampungan. Sekitar 30 tahun saya di Pertamina, praktis 23 tahun saya tinggal di komplek, 17 tahun di Plaju, 2,5 tahun di Cilacap, 3,5 tahun di Balikpapan, dan 2 tahun di Bontang. Saya memang pengen punya rumah di tengah-tengah kampung. Dan sekarang ini, di Jakarta, tempat tinggal saya di Kampung Ambon, Pulo Emas itu. Tetangga saya ada betawi, sunda, batak. Saya sungguh menikmati itu.

 

Bukannya ada fasilitas rumah dinas untuk BoD (Board of Directors) di Patra Kuningan?

Saya kemarin sudah mohon izin ke Dirut untuk tidak memakai fasilitas itu, dan saya lebih menikmati hidup di tengah-tengah masyarakat. Down to earth lebih enak. Kalau jam 6 pagi itu, biasanya ada bunyi kreng-kreng-kreng, nah itu bunyi bajaj pagi-pagi. Ntar malamnya ada bunyi teng-teng-teng, tukang bakso dan mie goring lewat. Coba kalau saya tinggal di Patra Kuningan. Dan saya tidak bisa touch dengan masyarakat, kesepian. Saya lebih suka kumpul di tengah masyarakat.

 

Di Pulo Emas kan sering banjir?

Kalau dulu iya, rumah saya itu pernah banjir kalau hujan lama. Tapi sekarang nggak. Karena kan kita kerja bakti. Saya ikut juga. Alhamdullilah 6 bulan terakhir nggak banjir lagi.

 

Interaksi seperti apa yang membuat Anda senang tinggal di perkampungan?

Kalau cuti, saya sering ngobrol sama tetangga. Ada tetangga depan rumah saya, Si Mpok. Biasanya kalau saya sapa, Mpok assalumualaikum, walaikumsalam pak haji. Kalau saya kangen semur jengkol, dibuatkan spesial sama mpok. Kalau buat satu kilo harganya Rp. 200 ribu. Rasanya maknyus. Soalnya Mpok itu masak semur jengkolnya delapan jam. Waktu digigit, pes. Langsung lumer tapi nggak hancur.

 

Di dekat rumah saya juga ada tetangga jual rokok, Mang Icing. Saya pernah pulang lebih cepat, jam setengah delapan malam. “Pak Icing, Assalamualaikum.” Terus dia jawab, “Oh Pak haji. Pak haji kan nggak merokok?” “Iya Pak Icing, ini ada rezeki Rp 200 ribu untuk Mang Icing.” ”Makasih,” katanya. Touch dengan masyarakat seperti itu, penting.  Mengingatkan saya agar tidak kehilangan lingkungan sosial di sekeliling kita. Itu penting. Mengingatkan saya berasal darimana.

 

Bagaimana Anda mengatur pola makan?

Pola makan saya, waktu bangun tidur, saya minum perasan lemon dikasih madu pakai air panas. Setelah minum itu, saya mandi. Habis mandi, sama isteri dikasih satu piring pepaya. Makan buah dulu. Habis itu saya sholat. Waktu sholat, itu kan ada gerak badan. Selesai sholat saya dikasih sarapan dengan hotmilk yang nggak ada rasanya.

 

Sudah itu, kalau makan siang, sayur lodeh. Sama lauk. Dan makan malam saya selalu di rumah. Ketemu sayur asam, sayur bening. Sebetulnya, kalau dijalani semuanya itu dengan nggak aneh-aneh, rasanya lancar, nggak pernah diabet, tekanan darah tinggi. Semoga nggaklah. Dan dalam menjalani hidup ini nggak perlu neko-neko. Misalnya, nggak minum minuman keras, merokok. Ndak. Kalau saya eman-eman organ dalam bisa merusak.

 

Adakah tips sehingga Anda tetap sehat?

Pertama, jalanilah hidup ini menjadi diri sendiri. Kedua, selalu berpikir positif. Kalau ada kesulitan itu bagian dari challenge. Dan paling utama adalah bagaimana membina team work. Tegas bisa, tapi harus merangkul. Kuncinya, jalanilah semua itu dengan kacamata positif, pandangan positif dan jadilah diri kita sendiri. Kalau kita terus memerankan orang lain, capek. Jadi aktor itu capek. 


Reporter: Hendry Roris

Editor: Dani Hamdani

 

 

Share this article