Angka Kekerasan pada Anak dan Perempuan di DI Yogyakarta Turun

Ilustrasi (GATRAnews/AK9)

Yogyakarta,GATRAnews - Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DI Yogyakarta menyatakan selama dua tahun berturut-turut Kota Yogyakarta mendominasi laporan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Sepanjang tahun 2016, tercatat 1.527 kasus di DI Yogyakarta.

Kepala Bidang Perlindungan Hak-hak Perempuan BPPM DI Yogyakarta Wati Marliawati mengatakan Kota Yogyakarta menempati peringkat pertama dengan 585 laporan pada 2015 dan 544 kasus pada 2016.

“Disusul Sleman dengan angka 291 kasus, lalu Gunungkidul (116), Bantul (131) dan Kulon Progo (114). Sedangkan di tingkat provinsi, kami menerima dan menangani 311 laporan,” jelas Wati usai jumpa pers tentang Peringatan Hari Anak Nasional tingkat Pemda DI Yogyakarta di kompleks Kantor Gubernur, Kepatihan, Kota Yogyakarta, Selasa (1/8).

BPPM DI Yogyakarta melansir jika dibandingkan 2015, laporan tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan menurun sekira 22% pada 2016. Jika sebelumnya mencapai angka 1.947 laporan, maka akhir tahun lalu tercatat 1.527 kasus.

Dari jumlah itu, profil korban yang dilaporkan hampir sama yaitu perempuan yang hampir mencapai 75%. Sedangkan dari sisi usia, paling banyak umur 25 tahun ke atas, kemudian disusul di bawah 18 tahun, dan rentang 18-25 tahun.

Menurut Wati, selama ini kekerasan di Kota Yogyakarta didominasi tindak kekerasan fisik. Sedangkan di sejumlah kabupaten di DI Yogyakarta, kasus kekerasan seksual dan perkawinan di bawah umur yang lebih banyak.

“Analisis kami, penurunan ini disebabkan pergeseran makna kekerasan yang diadopsi masyarakat. Sebelumnya, kekerasan diartikan dalam konteks fisik. Namun sekarang masyarakat sadar bahwa tindakan seperti perundungan maupun bentakan sudah masuk kategori kekerasan,” lanjut Wati.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPPM DI Yogyakarta Arida Oetami menuturkan, dari sekian kasus yang mereka tangani tahun lalu, sebanyak 600-an kasus diputuskan melalui pengadilan, 16 aduan siap disidangkan, dan sisanya diselesaikan secara kekeluargaan.

“Untuk kasus yang melibatkan anak di bawah 18 tahun, sesuai Undang-undang Sistem Perlindungan Anak, kami selesaikan dengan diversi,” kata Arida.

Arida melanjutkan, salah satu faktor turunnya kasus kekerasan pada anak dan perempuan di DI Yogyakarta karena peran dari Forum Anak Daerah (FAD) di tingkat kecamatan dan kabupaten. FAD mampu menekan jumlah kekerasan dengan memberikan penjelasan dan pengarahan kepada siapa saja yang merasa terintimidasi oleh orang lain.

“Di puncak peringatan Hari Anak Nasional DI Yogyakarta pada Kamis (3/8), Gubernur akan meresmikan FAD tingkat provinsi dan mencanangkan aksi Bersama Lindung Balita atau Berlian,” pungkas Arida.





Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Rosyid

Share this article