Riset the Economist: Indonesia Berhasil Memodernisasi Landasan Hukum di Bidang Kesehatan Jiwa

 Jakarta, GATRANews – Economist Intelligence Unit (EIU) -- salah satu unit majalah the Economist -- bekerjasama dengan Janssen Asia Pacific, bagian dari Janssen Pharmaceutical Companies of Johnson & Johnson, menggelar riset indeks integrasi kesehatan jiwa Asia Pasifik. Riset tersebut telah resmi dikeluarkan bersama dengan peringatan Hari Kesehatan jiwa Sedunia yang jatuh setiap tanggal 10 Oktober itu. Indonesia dianggap mengambil langkah maju dalam menerapkan landasan hukum di bidang kesehatan jiwa.



Kedua lembaga ini meneliti indeksi lalu membandingkan dan memberi peringkat terhadap upaya 15 negara se-Asia Pasifik dalam menerapkan sejumlah kebijakan kesehatan jiwa yang efektif, serta mencermati program dan pelayanan yang tersedia untuk membantu orang dengan gangguan jiwa (OGDJ), sehingga dapat hidup berdampingan bersama masyarakat.

Riset ini menggarisbawahi bahwa negara-negara1 dalam laporan Indeks telah berhasil dalam meningkatkan pelayanan OGDJ, dimulai dari penyediaan lembaga/institusi hingga penyediaan layanan dan lingkungan yang dibutuhkan OGDJ agar nantinya dapat berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat.Secara keseluruhan, negara dan wilayah yang diikutsertakan ke dalam Indeks terbagi menjadi empat kelompok kesehatan mental terpadu. Meskipun keanggotaan dari kelompokkelompok ini diasosiasikan berdasarkan pertumbuhan ekonomi, namun nyatanya skor di tingkat nasional masing-masing sangatlah beragam.

Indonesia termasuk dalam kategori negara dengan pendapatan menengah bawah, dandilaporkan telah berhasil memodernisasi landasan hukum kesehatan mentalnya secara signifikan sejak tahun 2014. Laporan tersebut mencatat bahwa persoalan hak asasi manusia tetap menjadi tantangan utama dan perkiraan terbaik mengindikasikan bahwa hanya 10% dari orang yang terdiagnosa gangguan jiwa dapat menerima pelayanan berbasis bukti ilmiah. Dalam laporan ini, Indonesia berada di peringkat ke-14.

Vishnu Kalra, Presiden Direktur dari PT. Johnson & Johnson Indonesia menyambut baik hasil laporan ini. “Hanya sedikit penyakit lain yang kurang dipahami dan mendapatkan stigma buruk apabila dibandingkan penyakit gangguan jiwa, terutama skizofrenia,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Gatra.com (12/10/2016). Laporan ini memberikan harapan baru bagi kebijakan kesehatan jiwa di wilayah Asia Pasifik, dan kami berharap laporan ini mampu menyediakan kesempatan untuk diskusi lebih lanjut tentang langkah-langkah yang dibutuhkan dalam membantu ODGJ kembali hidup bermasyarakat.

Riset EIU serupa telah dilaksanakan pada 2 tahun lalu di Eropa, dan berhasil mengungkapkan tantangan besar yang terjadi dalam sistem pelayanan kesehatan karena terdapat kesenjangan besar antara jumlah ODGJ dan mereka yang menerima perawatan secara layak.


Editor: Aries Kelana

 

 

 

 

Share this article