Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin (GATRA/Eva Agriana Ali/AK9) Jakarta, GATRAnews - Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin, mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Wali Kota Tangerang
Ilustrasi (Antara/Yusuf Nugroho/AK9) Yogyakarta,GATRAnews - RSUD Panembahan Senopati Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, hanya mampu menyembuhkan 300 pasien katarak setiap tahun. Mahalnya biaya
Ilustrasi (GATRAnews/AK9) Jakarta GATRAnews -- Penelitian Northwestern University baru-baru ini menggarisbawahi bagaimana kondisi lingkungan di awal perkembangan dapat menyebabkan peradangan pada
Ilustrasi (GATRAnews/AK9) Jakarta GATRAnews - Kecerdasan (IQ) yang lebih tinggi saat kanak-kanak berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah terhadap penyebab utama kematian. Termasuk
Jakarta GATRAnews - Komputer yang mampu meramalkan masa hidup pasien hanya dengan melihat gambar organ tubuh, selangkah lebih dekat untuk menjadi kenyataan. Semua itu berkat penelitian di University
Jakarta GATRAnews - Menggunakan bukti yang ditemukan pada gigi bayi, periset dari The Senator Frank R. Lautenberg Environmental Health Sciences Laboratory and The Seaver Autism Center for Research
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Dok.GATRA/re1) Bandung, GATRAnews - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengusulkan kepada pemerintah pusat agar Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang

Tiga Faktor Penyebab Pasien Kardiovaskular Naik Signifikan

Jakarta, GATRAnews - Dalam tiga tahun terakhir terjadi lonjakan pasien penderita jantung dan penyakit pembuluh darah yang dirawat di rumah sakit di Indonesia. Ada banyak faktor yang menyebabkan kenaikan jumlah pasien itu, namun sedikitnya ada tiga faktor utama.

 

Yang pertama adalah kemajuan teknologi dan menejemen penanganan serangan jantung sehingga banyak pasien yang bisa diselamatkan. Namun tidak semua pasien bisa pulih seratus persen dari serangan jantung. Ada banyak pasien yang terlambat datanga sehingga penanganan dokter juga terlambat. Akibatnya otot jantung terlanjur rusak sebelum tiba di rumah sakit. Kondisi seperti  sulit diperbaiki dan menyebabkan penurunan fungsi jantung yang disebut gagal jantung. Mereka inilah yang kemudian harus bolah-balik masuk rumah sakit. 

 

Faktor kedua adalah meningkatnya populasi usia lanjut karena angka harapan hidup semakin tinggi. Peningkatan penduduk langsia ini diiringi penyakit generatif seperti hipertensi dan diabetes yang memicu munculnya penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), termasuk gagal jantung.

 

Faktor ketiga adalah lahirnya sistem jaminan kesehatan nasional  mengakibatkan jumlah pasien yang terdeteksi memiliki penyakit jantung dan pembuluha darah.

 

"Dengan JKN rakyat kita kan terdeteksi dengan baik sehingga yang dulu-dulu mau berobat biaya susah, sekarang bisa langsung dibiyai BPJS sehingga mereka tidak memikirkan biaya lagi," kata dr Renan Sukmawan, ST, PhD, SpJP, (K) kepada media disela Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (Asmiha) di Jakarta, Jumat (21/4). 

 

Menurut Renan, fenomenan peningkatan jumlah pasien sangat kentara di rumah sakit-rumah sakit. "Terlihat di RS Harapan Kita dan beberapa rumah sakit lainnya tempat saya bekerja misalanya itu meningkat 100 - 200 persen dari sebelumnya. Dirumah sakit tipe B, terlihat dari jumlah tindakan poli jantung misalnya, dulunya cuma 30 - 40 sehari sekarang bisa sampai 100 sehari," tambah dokter yang juga mengajar di di Departemen Kardiologi  dan Kedokteran Vaskular FKUI itu. "Namun angkanya memang perlu diverifikasi lagi untuk tingkat nasional," tambahnya. 

 

Asmiha diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki). Acara tahunan ke 26 ini diselengaran 20 - 23 April di Jakarta. Tema yang diangkat kali ini adalah Pendekatann Multidisipliner Untuk Penyakit Kardiovaskular di Semua Tingkatan  Layanan Kesehatan.  "Tema ini dilatarbelakangi pentingnya pendekatann multidisipliner di semua tingkatan layanan kesehatan, baik layanan prmier, sekunder dan tersier. Karena itu pembicara di Asmiha bukanya hanya ahli penyakit kardiovaskuler tapi juga dari berbagai bidang spesialisasi kedokteran," kata DR. dr Iwan Dakota SpJP (K) MARS, FIHA, ketua Pelaksana Asmiha ke-26  yang di ikuti 1800 profesional dibidang kesehatan. 


Editor: Rosyid

Share this article