Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin (GATRA/Eva Agriana Ali/AK9) Jakarta, GATRAnews - Mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin, mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Wali Kota Tangerang
Ilustrasi (Antara/Yusuf Nugroho/AK9) Yogyakarta,GATRAnews - RSUD Panembahan Senopati Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, hanya mampu menyembuhkan 300 pasien katarak setiap tahun. Mahalnya biaya
Ilustrasi (GATRAnews/AK9) Jakarta GATRAnews -- Penelitian Northwestern University baru-baru ini menggarisbawahi bagaimana kondisi lingkungan di awal perkembangan dapat menyebabkan peradangan pada
Ilustrasi (GATRAnews/AK9) Jakarta GATRAnews - Kecerdasan (IQ) yang lebih tinggi saat kanak-kanak berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah terhadap penyebab utama kematian. Termasuk
Jakarta GATRAnews - Komputer yang mampu meramalkan masa hidup pasien hanya dengan melihat gambar organ tubuh, selangkah lebih dekat untuk menjadi kenyataan. Semua itu berkat penelitian di University
Jakarta GATRAnews - Menggunakan bukti yang ditemukan pada gigi bayi, periset dari The Senator Frank R. Lautenberg Environmental Health Sciences Laboratory and The Seaver Autism Center for Research
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Dok.GATRA/re1) Bandung, GATRAnews - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengusulkan kepada pemerintah pusat agar Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang

Tenaga Kesehatan Indonesia Wajib Tingkatkan Kualitas Keilmuan

Jakarta, GATRAnews - Menyambut era perdagangan bebas, atau yang biasa disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia dinilai perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) nya.

Hal ini juga tengah diperjuangkan oleh tenaga profesional di bidang kesehatan. Kali ini, para spesialis jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) menggelar serangkaian program untuk meningkatkan standar keilmuan mereka.

Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Anwar Santoso mengatakan, profesi tenaga kesehatan memiliki kewajiban yang diatur dalam undang-undang untuk mempertahankan standar keilmuan sesuai profesinya.

"Hal ini lah yang mendasari Asmiha (Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association) digelar," ujar Anwar di sela penyelenggaraan Asmiha, Jumat (21/4) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurutnya, ajang tahunan yang sudah digelar ke-26 kali nya ini berfokus pada pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Tak bisa dipungkiri, kebutuhan ahli kardiovaskular di Indonesia semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penderita penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia.

Berdasarkan data, penderita penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kardiovaskular terbilang tinggi di Indonesia. Sejak 2013 lalu, pengidap hipertensi sudah mencapai 26,9%, disusul kolesterol sebanyak 38%, dan diabetes sebanyak 2,1%.

Sementara untuk kebiasaan tak sehat yang memicu penyakit jantung seperti merokok mencapai 37%, dan kurangnya aktivitas fisik ditambah konsumsi kalori berlebihan hingga menyebabkan obesitas sudah mencapai angka 20% di Indonesia.

"Angka kematian tertinggi juga disumbang oleh penyakit cerebrovaskular atau stroke sebesar 27%, belum lagi jantung iskemik, diabetes, dan penyakit paru. Yang keseluruhannya jika disatukan mencapai 65%. Angka ini hampir sama dengan negara-negara berkembang lainnya. Ini berbahaya, jika tidak dilakukan program yang tepat, masyarakat dan negara menanggung beban pembiayaan yang tinggi untuk pengobatan," papar Anwar.

Kenyataan ini sedikit memaksa kaum profesional kesehatan untuk berkolaborasi dengan organisasi kesehatan internasional. Tugas ini harus dibagi oleh pekerja kesehatan lainnya, seperti dokter umum dan petugas medis di level Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

"Dokter spesialis jantung jumlahnya hampir 1000 orang di Indonesia, mayoritas bekerja di pulau Jawa. Mereka ditunjang oleh 12 pusat pendidikan kesehatan jantung. Namun tetap masih kekurangan. Jusrtru sekarang kita harus fokus kepada dokter umum, karena mereka garda terdepan bagi profesi kesehatan," urainya.

Lewat kolaborasi ini, para profesional kardiovaskuler akan menerapkan standar kompetensi bagi dokter umum. Sehingga mereka memahami penanganan awal untuk mengenali penyakit jantung dan pembuluh darah.


Reporter: Rizaldi Abror

Editor: Nur Hidayat 

 

Share this article